Entah kapan saya mulai menyukai minuman yang disadap dari pohon siwalan. Apa karena faktor geografis ataukah karena memang soal rasa, yang enak dipadukan dengan es batu, menyatu, segarkan harimu. Yang pasti, nikmat sekali ketika meminumnya. Nah, kebetulan juga nih ya, penulis berjodoh dengan seorang perempuan berdarah asli Sulang – Rembang, salah satu daerah yang disitu tumbuh subur pohon siwalan. MaaSyaaAllah
Sedikit informasi ya #SobatPena, pohon siwalan sendiri itu adalah pohon yang tumbuh di dataran kering dan terbuka dan memiliki nama lain pohon lontar, sedangkan airnya biasa diberi nama “Legen”. Nah, di tempat#SobatPena apa namanya, coba sebutkan…
Kembali lagi ya #SobatPena, ada sesuatu yang memang enak ketika dipadukan, dijadikan satu, melebur begitu, kayak air legen yang kerap saya nikmati dengan tambahan es batu di dalamnya, sudahlah enaknya tak terhingga. Legen asli, yang diambil langsung dari pohon tanpa proses pemasakan, memang cenderung agak mahal, sementara yang grade bawahnya agak lebih murah, namun rasanya bagi saya kurang melegakan lidah. Semua tergantung rasa dan penikmatnya.
Nah, kalau kita berbicara tentang kehidupan ini, ada sesuatu nih yang fitrahnya itu ketika dijadikan satu ia akan menjadi indah, serba halal, yang bahkan awalnya haram. Apa itu? Ya, pernikahan. Ketika suami dan istri berpadu, melebur, dengan visi yang sama. Apa – apa ya halal, saling pandang, saling tatap, saling senyum, menguatkan, menyemangati, bahkan bercanda pun bernilai pahala.
Namun, beda lagi bila paduan antar dua anak insan itu sebatas pacaran yang belum halal, ia tak ubahnya malapetaka karena berpotensi akan melakukan suatu perzinaan. Dua anak manusia yang kadang masih labil, saku masih minta sama orangtua, sudah banyak gaya bilang cinta bilang sayang, padahal itu hanyalah godaan syetan berkedok rayuan buaya. Berapa banyak beredar kabar di linimasa, anak masih remaja bau kencur menghamili pacarnya, kemudian mengaborsi janinnya. Ah, apa mungkin juga sudah lumrah hal demikian di sekitar kita, Astaghfirullah.
Begitulah kondisi kehidupan saat ini, lebih – lebih ketika telah kehilangan jati dirinya sebagai seorang Muslim sejati yang bangga dengan syari’at dari Allah ta’ala yang dijalaninya. Dia sudah tidak suka minum legen lagi, namun lebih menyukai tuak yang memabukkan itu, yang telah jelas keharamannya. (Tuak adalah air legen yang dibiarkan beberapa hari sehingga telah berubah warna dan rasa, biasanya memabukkan)
Air tuak kehidupan yang hedonis, materialistis dan membebek pada barat, akibat ide sekulerisme yang dipaksakan Barat pada dunia kaum muslim, hingga yang ada kerusakan di berbagai lini, termasuk pacaran hingga zina yang sudah dianggap tidak tabu.
Maka, penting bagi kita untuk memperkuat Akidah Islam dalam keluarga kita, kemudian menyebarkan Islam dan menunjukkan akhlak Islam di masyarakat, juga terus menyuarakan Islam dengan berjamaah dengan kaum muslim yg lain, agar cahaya Islam bisa menggerus virus sekuler, yg kental dengan aroma pemisahan agama dengan kehidupan. [Sahabat Pena: Kang Ranto]





