Bulan Rajab, bulan mulia. Bulan Rajab adalah salah satu bulan dimana Allah memuliakannya. Di bulan ini, peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi pengingat adanya mu’jizat Rasulullah Saw. Isra’ perjalanan Rasulullah Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam satu malam. Sedangkan Mi’raj perjalanan Rasulullah Saw naik ke langit ketujuh ke Sidratul Muntaha bertemu Allah Swt untuk menerima syariat berupa kewajiban shalat lima waktu.
Siapa pun di masa itu yang mendengar perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah Saw tidak mudah untuk meyakininya karena secara akal manusia perjalanan itu perlu ditempuh satu bulan. Namun, perjalanan Isra’ mi’raj bisa dilakukan Rasulullah Saw dalam waktu hanya satu malam. Hal ini berbeda dengan sikap sahabat Abu Bakar yang membenarkan dan meyakini Rasulullah Saw dengan perjalanan Isra’ Mi’rajnya. Bahwa Rasulullah Saw benar-benar melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dalam satu malam. Maka dari itulah Abu Bakar mempunyai gelar Ash Shiddiq yang berarti bahwa orang jujur yang membuktikan ucapannya dengan perbuatan.
Dalam peristiwa Isra’nya, Rasulullah Saw disambut para Nabi sebelumnya dan melakukan shalat bersama para Nabi di Masjidil Aqsha dan Beliaulah yang menjadi imamnya. Setelah itu, Rasulullah Saw diberikan pilihan untuk memilih segelas susu atau khamr. Ternyata Rasulullah Saw memilih segelas susu.
Dalam perjalanan Mi’rajnya, naik ke langit ketujuh, Rasulullah Saw bertemu dengan Nabi Adam as., Nabi Isa as., Nabi Yahya as., Nabi Yusuf as., Nabi Idris as., Nabi Harun as., Nabi Musa as., dan Nabi Ibrahim as. Di langit ketujuh itulah atas rekomendasi Nabi Musa, Rasulullah Saw bolak balik menghadap Allah Swt untuk meminta keringanan agar kewajiban sholat dalam sehari tidak 50 kali. Setelah bolak balik menghadap Allah SWT dan mendapatkan perintah untuk melaksanakan sholat sebanyak 5 kali dalam sehari, akhirnya Rasulullah Saw berhenti meminta kompensasi. Rasulullah Saw malu kepada Allah untuk menghadap kembali untuk meminta keringanan terus. Meski Nabi Musa as. sudah mengingatkan dan sudah diringankan sholatnya sebanyak lima kali dalam sehari pasti umat nabi Muhammad Saw akan tetap keberatan.
Hikmah Peristiwa Isra’ Mi’raj
Peristiwa Isra’ Mi’raj bukanlah sekadar perjalanan Rasulullah Saw ke langit saja. Namun ada beberapa aspek yang bisa diambil hikmahnya oleh umat muslim agar semakin teguh dan kokoh dalam hal keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah Swt.
Pertama, Isra’ Mi’raj menunjukkan adanya kebesaran Allah Swt. Yaitu, Rasulullah Saw melakukan perjalanan dalam satu malam, adanya surga neraka, adanya Sidratul Muntaha dan bertemunya Rasulullah Saw dengan nabi-nabi sebelumnya. Semua ini menandakan kebesaran Allah Swt.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ : 1)
Dalam surat lain, Allah SWT berfirman,
“(yaitu) di Sidratilmuntaha.” (QS. An-Najm : 14)
Selain itu, Allah SWT juga berfirman,
“Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm : 18)
Kedua, meyakini bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj adalah benar-benar mu’jizat Rasulullah Saw. Seperti halnya sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq yang membenarkan perkataan Rasulullah Saw dikala banyak orang yang tidak mempercayai mu’jizat tersebut. Kenapa kita harus yakin? Karena Rasulullah Saw selama hidupnya tidak pernah berbohong. Apapun yang beliau katakan adalah kebenaran. Nabi Muhammad Saw adalah Rasulullah. Tidak mungkin seorang rasul berbohong bahkan sebelum Nabi Saw. diangkat sebagai rasul beliau tidak pernah berbohong dengan apa yang dikatakannya. Maka sudah selayaknya sebagai umat muslim meski tidak pernah bertemu dengan Rasulullah Saw kita harus meyakini bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj adalah mu’jizat Rasulullah yang benar adanya.
Ketiga, Isra’ Mi’raj sebagai hiburan sekaligus ujian bagi Rasulullah Saw dan umatnya. Dikatakan sebagai hiburan karena pada saat itu Rasulullah Saw sedang bersedih dimana beliau telah kehilangan dua orang yang sangat disayanginya yaitu istrinya Khadijah dan Abu Thalib, paman beliau yang selalu melindungi dakwahnya. Dengan Isra’ Mi’raj, Rasulullah dihibur Allah Swt agar tidak sedih lagi.
Kemudian dikatakan sebagai ujian Rasulullah Saw dan umatnya bahwa setelah kembalinya Rasulullah Saw dari perjalanan Isra’ Mi’raj, banyak dari orang – orang Makkah yang tidak mempercayai Rasulullah Saw bahwa Rasulullah Saw benar-benar telah melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj. Sehingga banyak yang imannya tidak kuat akhirnya menjadi murtad. Hal inipun menjadi ujian tersendiri untuk kaum muslim, apakah kaum muslim mengimani Isra’ Mi’raj atau tidak. Juga untuk umat muslim saat ini, sudah semestinya kita sebagai umat muslim mempercayai dan membenarkan adanya peristiwa Isra’ Mi’raj karena Nabi Muhammad Saw benar-benar seorang Rasul. Tidak mungkin Rasul berbohong dan pendusta.
Keempat, Isra’ Mi’raj menjadi spirit meningkatkan ibadah dan amal sholih kaum muslim terutama sholat. Sholat adalah satu-satunya syariat yang diwajibkan langsung dari Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw. Sholat adalah amalan pertama yang dihisab. Jika sholatnya bagus, insyaaAllah amalan lain juga bagus. Selain itu, sholat termasuk salah satu cara untuk meminta pertolongan kepada Allah Swt. Kemudian sholat juga bisa mencegah untuk berbuat keji dan mungkar.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabut : 45)
Kelima, peristiwa Isra’ Mi’raj menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw menjadi pemimpin para Nabi sebelumnya dan sebagai isyarat bahwa beliau nantinya menjadi kepala negara. Hal itu terlihat dimana saat Rasulullah Saw mengimami shalat pertama kali saat di masjidil Aqsha bersama para Nabi. Kemudian setahun setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, terwujudlah Rasulullah Saw hijrah ke Madinah dan menjadi kepala negara Daulah Islam untuk pertama kalinya. Setelah Rasulullah wafat, kepemimpinan Islam dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin dan kekhalifahan hingga Turki Utsmani yang terakhir. Semenjak runtuhnya Daulah Islam di akhir-akhir kepemimpinan khilafah Turki Utsmani inilah umat muslim kehilangan pemimpin Islam hingga sekarang. Jika dihitung dengan kalender Hijriyah sudah 105 tahun kaum muslim tanpa kepemimpinan Islam. Padahal posisi pemimpin Islam amatlah penting bagi umat muslim.
Keenam, Meneladani Kepemimpinan Rasulullah Saw.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)
Ayat ini amatlah familiar dibenak kaum muslim. Namun banyak yang lupa bahwa meneladani Rasulullah Saw tidak hanya pada akhlak dan moralnya saja. Tidak hanya bagaimana sikap Rasulullah Saw kepada keluarganya, tidak hanya bagaimana Rasulullah Saw mendidik anaknya, namun Rasulullah Saw juga memberikan teladan bagaimana saat Rasulullah Saw berpolitik, bagaimana cara Rasullullah Saw memimpin sebuah negara, bagaimana cara Rasullullah Saw memimpin militer untuk menjaga negerinya, sekaligus jihad dan dakwah keluar negeri, bagaimana cara Rasullullah Saw mengatasi masalah-masalah yang dihadapi negaranya, bagaimana cara Rasullullah Saw menjaga harta, jiwa, nyawa, martabat, kehormatan rakyatnya. Rasulullah Saw juga memberi teladan bagaimana cara bermuamalah yang benar, bagaimana cara Rasullullah Saw menghukum orang-orang yang dzolim dan gemar bermaksiat. Semua ada dalam kepemimpinan Rasulullah. Namun seolah semua ini dikubur, sehingga keteladanan pada Rasulullah Saw hanya terbatas pada hal ibadah dan akhlak saja. Maka keteladanan umat muslim kepada Rasulullah Saw harus secara Kaffah, secara keseluruhan dan bukan setengah-setengah. Sebagai umat muslim, menerapkan Islam pun juga harus keseluruhan bukan setengah setengah sebagaimana yang diteladankan Rasulullah Saw kepada umatnya. Maka sudah saatnya umat Islam meneladani Rasulullah Saw secara Kaffah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah : 208)
Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj nabi Muhammad Saw, sudah seharusnya kita sebagai umat muslim semakin teguh dalam keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Semakin kuat keimanan kita kepada Allah Swt dan rasulNya. Bahwasannya Allah Swt Tuhan kita. Allah Swt Maha Besar. Dialah penolong bagi hamba-hambaNya. Hanya kepadaNya kita bergantung dan meminta. Selain itu, meyakini dengan pasti bahwasannya Nabi Muhammad Saw adalah Rasulullah, utusan Allah Swt. Rasulullah Saw bukanlah seorang yang dusta. Apa yang disampaikan dan dialami Rasulullah adalah sebuah kebenaran. Mu’jizatnya dalam perjalanan Isra’ Mi’rajnya memanglah benar. Begitu pula dengan semua syari’at yang beliau bawa adalah benar adanya dan wajib diteladani umat muslim.
Maka dari itu sudah selayaknya ketakwaan kita kepada Allah Swt kita teguhkan dengan meneladani Rasulullah Saw tidak lain yaitu dengan ketaatan secara keseluruhan secara Kaffah bukan setengah-setengah.
Wallahu a’lam bish showab. [Ummu Arkan (Pegiat Literasi Islam)]





