Ada sebutan unik untuk menggambarkan seorang penjilat (pencari muka) di daerah Jawa dan sekitarnya, yaitu “NGATHOK“. Kalau dicari di Kamus Bahasa Jawa, tentunya tidak menemukan arti dari “ngathok” itu sendiri.
10 tahun terakhir ini, kita dipertontonkan oleh perilaku tokoh dan pejabat yang masuk dalam ciri khas “ngathok“. Sebenarnya tidak hanya 10 tahun terakhir ini sih, cuman yang lebih kentara dan nyata ada di 10 tahun terakhir ini.
Orang “ngathok” biasanya banyak memuji secara berlebihan, atau “nggunggung” kalau dalam Bahasa Jawanya. Orang yang suka memuji secara berlebihan kepada orang yang lebih tinggi diatasnya, biasanya orang seperti ini ada maunya. Paling tidak mengandung harapan supaya lebih dikenal atasannya, sehingga kalau ada kesempatan ia yang didahulukan. Misal, seorang pejabat selalu cari muka di hadapan pemimpinnya, dia berharap agar bisa dipakai terus atau dinaikkan jabatannya, atau mungkin tokoh ormas yang kalau di hadapan penguasa selalu seolah-olah paling membela Negara, dan tidak segan menjelekkan sodaranya yang lain demi dia dianggap patriotisme. Ujung-ujungnya dia hanya berkeinginan menjadi menteri, dan lain sebagainya. Hehehe, jangan ada yang merasa ya?
Yuk lanjut…
Di Negeri Konoha, kabarnya banyak pejabat sekelas Menteri yang kalau disetiap kesempatan dia selalu mengelu-elukan pemimpinnya, seolah-olah pemimpinnya itu tidak ada cela sama sekali. Bahkan, setiap penerima manfaat program yang di bawah Kementriannya pun diwajibkan untuk mengucapkan terimakasih kepada bapak Presiden.
Saya sendiri merasa heran, kenapa orang-orang seperti ini dipakai atau diberikan amanah untuk menjadi pejabat yang dimana ada tanggung jawab besar di bawahnya. Bukan apa-apa, kalau kerjanya bagus sih oke-oke saja, tetapi kebanyakan dari mereka kerjanya asal-asalan. Misal, ketika ada masalah sengketa rakyat dengan pengusaha raksasa (Oligarki), mereka saling lempar tanggung jawab dengan lembaga negara yang lain, yang satu bilang tidak tahu, yang satunya lagi menjawab bukan tanggung jawab Kementrian kami, dan lain sebagainya, Ujung-ujungnya rakyat yang dikorbankan. Eh disclaimer dulu ya, kalau tidak mau disebut asal-asalan ya bekerjalah sepenuhnya untuk rakyat, bukan untuk mencari muka kepada atasan atau malah melayani Oligarki.
Oke lanjut…
Tipe pejabat penjilat merupakan sosok yang bermental lemah atau bahasa kerennya soft culture. Mereka malas dan tidak akan mampu berpikir serius, apalagi berbuat untuk kemajuan negara dan rakyatnya.
Sikap penjilat telah melunturkan idealisme, membunuh kreativitas, dan mematikan kerja keras. Mereka tak mau pusing dan masa bodoh menyaksikan persoalan kenegaraan yang menantang dan menuntut pemecahan. Bagi mereka, watak penjilat hanyalah media hipokrit (kemunafikan) untuk mencari selamat dan menjunjung pimpinannya agar senang. Sementara urusan negara dan rakyat tak dihiraukan, karena hati dan telinganya telah disumbat oleh hawa nafsu, kesombongan, dan keserakahan. Seperti apa yang digambarkan Allah SWT didalam surat Al Luqman ayat 7;
“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih“. (TQS Al Luqman: 7)
Wallahu’alam. [Jady Rembang]





