Giveaway adalah promosi pemasaran dengan memberikan hadiah gratis kepada peserta atau pelanggan dengan tujuan untuk menarik minat dan keingintahuan dari pelanggan. Tentunya ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Misalkan seperti apa yang telah dilakukan oleh konten kreator kepada follower’snya atau owner kepada para pelanggan produknya.
Tapi ada hal yang menarik di negeri ini, yaitu pemberian gelar pendidikan tinggi kepada seorang tokoh yang tidak jelas kontribusinya untuk negeri ini. Sumbangsih apa yang diberikan untuk membangun bangsa ini pun juga tidak jelas.
Ada pula pemberian pangkat Perwira TNI kepada konten kreator yang kurang dipahami oleh masyarakat tentang dasar pemberian pangkat perwira itu. Sampai-sampai didalam sebuah podcast miliknya dimana ia mengundang seorang TNI aktif yang bernama Bapak Yusuf, beliau mengatakan kepada pemilik Podcast tersebut bahwa pemberian pangkat perwira tersebut adalah sebagai ‘GIVEAWAY’, tentara ‘GIVEAWAY’, pangkat tentara yang didapatkan bukan karena pendidikan yang lazim sebagaimana tentara – tentara yang ada selama ini.
Kembali lagi kepada makna ‘Giveaway’ tadi, yang merupakan salah satu cara untuk promosi pemasaran. Kalau melihat makna dari ‘Giveaway’ tersebut, sebenarnya apa yang ingin diraih oleh perguruan tinggi atau lembaga negara dalam pemberian gelar kepada para tokoh maupun influencer tersebut?
Seharusnya didalam pemberian gelar kepada seseorang, ada kompetensi dan kapasitas yang dijadikan acuan. Apalagi gelar akademisi, yang mana ada pertanggungjawaban secara akademik didalamnya dan tidak asal – asalan saja. Jangan hanya karena kepopuleran tokoh atau influencer yang bisa mempengaruhi banyak kalangan, kemudian gelar itu diberikan. Tanpa memperhatikan dampak serius dari pemberian gelar tersebut. Karena jikalau tokoh atau influencer yang diberi gelar itu sering mempromosikan kemaksiatan, maka pemberian gelar itu akan menjadi bencana bagi masyarakat negeri ini.
Oleh karena itu, pemberian gelar apapun kepada siapapun harus ada standarnya yang jelas. Kalau gelar akademisi, ya harus bisa dipertanggungjawabkan. Dan yang terpenting adalah bahwa negeri ini mayoritas penduduknya beragama Islam. Sehingga standar Islam lah yang seharusnya menjadi pijakan dari syarat untuk pemberian gelar – gelar yang ada. Jangan sampai memberi gelar kepada para tokoh ataupun influencer yang malah mempromosikan kemaksiatan dan pelanggaran kepada hukum Islam.
Wallahu’alam. [Jady Rembang]





