Mudik adalah tradisi tahunan yang ada di Indonesia menjelang lebaran. Saat itulah waktu yang tepat untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri di kampung bersama keluarga dan sanak saudara. Banyaknya warga yang melakukan urbanisasi dalam rangka bekerja di kota menjadikan jalanan ramai dan macet dibanjiri para pemudik yang melakukan perjalanan ke kampung halaman. Walhasil, sudah menjadi langganan di negeri kita yang namanya kecelakaan dan kemacetan parah saat arus mudik dan arus balik. Lebih parahnya lagi, hal ini memakan korban tiap tahunnya. Meski Korlantas Polri mengklaim bahwa jumlah korban meninggal saat mudik tahun ini lebih rendah daripada tahun kemarin, namun jumlah kecelakaan meningkat di tahun 2026. Apalagi nyawa manusia tetaplah nyawa yang harus dilindungi, dijaga, dan diselamatkan. Jika kemacetan dan kecelakaan mudik terus memakan korban tiap tahunnya, seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk melakukan evaluasi dan mengupayakan mitigasi lebih cepat agar para pemudik bisa melakukan perjalanan mudik dengan aman, nyaman, dan selamat sampai tujuan mengingat kecelakaan dan kemacetan selalu terjadi tiap lebaran.
Data Kapolri mengungkapkan bahwa persentase kecelakaan tahun ini turun 7,8% dari tahun sebelumnya. Untuk fatalitas yang meninggal turun 112 orang dari 377 jiwa jadi 265 jiwa. Meski capaian statistik menunjukkan penurunan namun perlu penanganan serius. Apalagi saat arus balik 25-29 Maret. Hingga 27 Maret 2026 tercatat lonjakan kendaraan 2,3 juta kembali ke jabodetabek, meningkat 20.49% dari tahun kemarin. Korlantas polri mencatat puncak arus balik lebaran 2026 sebagai yang tertinggi di sepanjang sejarah dengan jumlah kendaraan mencapai 256.388 unit dalam satu hari, padahal tahun sebelumnya 223.163 kendaraan. Tingginya jumlah kendaraan inilah salah satu yang menyebabkan kemacetan di ruas jalan tol dan arteri. Tidak heran jika kemacetan terjadi sepanjang mudik karena banyaknya kendaraan pribadi. Minimnya pelayanan umum untuk pemudik, sehingga wajar jika pemudik lebih memilih untuk memakai kendaraan pribadi. Padahal hal ini pun juga menyebabkan adanya kemacetan.
Momen mudik yang notabene menjadi momen ritual penting dalam ibadah bersama, berkumpul, bertemu dan birrul walidain kepada orang tua dan sanak saudara menjadi taruhan nyawa di tengah perjalanan. Seperti antrian panjang kemacetan di pelabuhan Gilimanuk pada Rabu, 18 Maret 2026 membuat salah satu ibu rumah tangga yang tengah perjalanan mudik ke Jawa Tengah, Kebumen meninggal karena kelelahan di dalam bis. Sebelumnya, ada 17 pemudik yang kelelahan juga karena kepanasan. Begitu pula terjadi pada gugurnya polisi lalu lintas yang tengah kelelahan bertugas mengamankan ramainya arus mudik dan libur lebaran di Yogyakarta. Lebih tragis lagi malangnya nasib kelima anggota keluarga Gunawan yang telah meninggal semua pada Kamis, 19 Maret 2026 karena kecelakaan di Tol Pejagan- Pemalang Km 290 dalam mobil pribadi yang hendak mudik ke Pemalang dari Bekasi. Diantaranya yang meninggal dalam kecelakaan itu adalah Gunawan (42), Devi Agustina (33), Nafisah Maisaroh(11), Narendra Dewan Gaosan(9), Nurel Arshaka Sachio(3 th). Ini adalah beberapa insiden viral yang terjadi saat perjalanan mudik lebaran. Kecelakaan dan insiden lainnya pasti juga banyak terjadi di berbagai daerah yang tidak terciduk oleh media.
Lalu hingga kapan kemacetan dan kecelakaan terus menjadi polemik saat lebaran? Momen perjalanan mudik yang seharusnya diimpikan menjadi wasilah bisa beribadah, berkumpul, birrul walidain bersama keluarga ternyata berubah jadi duka. Momen Idul Fitri yang seharusnya penuh tawa dan bahagia berubah jadi kesedihan. Tak jadi berkumpul, malah yang terjadi justru perpisahan. Sungguh hal ini seharusnya menjadi perhatian penting bagi pemerintah agar para pemudik bisa mendapatkan pelayanan umum yang aman, nyaman, dan bisa pulang dan balik dengan selamat sampai tujuan.
Dari tahun ke tahun perihal kemacetan dan kecelakaan saat mudik terus terjadi. Hal ini menunjukkan pemerintah belum melakukan antisipasi dan mitigasi yang serius. Banyaknya jumlah pemudik yang terkapar ditengah kemacetan menjadi alarm serius bagi negara untuk mengurainya. Jangan sampai hal ini semakin parah tiap tahunnya. Butuh diantisipasi agar jumlah kendaraan tidak menumpuk. Adanya penerapan one way nasional/lokal dirasa tidak terlalu efektif. Banyaknya jalan rusak dan berlubang juga menambah tingginya angka kecelakaan. Adanya kapitalisasi sektor publik menjadikan harga tiket transportasi umum mahal. Transportasi publik tidak sebagai layanan publik memberikan keamanan, kenyamanan, dan keselamatan penumpang namun menjadi komoditas ekonomi untuk sumber laba. Negara hanya jadi regulator kepentingan swasta. Kalo pun ada mudik gratis hanya insidental. Seolah-olah hubungan negara dan rakyat bak seperti pedagang dan pembeli. Sehingga banyak pemudik lebih memilih kendaraan pribadi dari pada layanan transportasi umum.
Dalam sistem Islam, perjalanan mudik bagian dari layanan publik yang harus disediakan negara dengan seoptimal mungkin dan berkualitas. Khalifah yang sebagai raa’in akan bertanggung jawab terhadap keselamatan setiap rakyat. Maka, Khalifah akan berusaha memberikan pelayanan yang aman, nyaman, murah, dan selamat sampai tujuan. Negara harus benar-benar memperhatikan pelayanan ini dengan serius karena berkaitan dengan keselamatan manusia. Meski yang namanya kecelakaan dan kemacetan bisa saja terjadi, namun harus menyiapkan antisipasi dan mitigasi yang cepat dan efektif. Jangan sampai keselamatan pemudik menjadi taruhan tiap lebaran.
Ada ungkapan “As safaru nisful mauti” artinya perjalanan itu setengah dari kematian. Meski bisa jadi yang namanya musibah atau maut bisa saja datang ditengah perjalanan, maka negara akan memahamkan kepada umat pentingnya dalam setiap perjalanan seseorang harus memperhatikan keadaan kesehatan fisik, persiapan perbekalan, banyak berdoa dan berdzikir ditengah perjalanan disamping negara menyediakan layanan transportasi publik yang berkualitas.
Selain itu, negara wajib menyediakan layanan transportasi yang memadai dan infrastruktur yang baik. Negara juga tidak boleh mengkapitalisasi layanan publik dengan tiket mahal atau seperti tarif tol yang mahal. Tidak boleh layanan transportasi dikuasai oleh swasta atau individu karena jika hal itu terjadi bukan layanan publik namanya melainkan untuk meraup keuntungan yang besar. Tidak hanya itu, negara juga memberikan pelayanan yang terbaik untuk setiap penumpang agar penumpang lebih senang dan nyaman merasakan layanan transportasi publik. Negara juga harus bisa menjaga keamanan penumpang agar tidak ada tindak kejahatan, kriminal maupun pelecehan seksual di tempat umum. Khalifah akan menugaskan polisi -polisi untuk menjaga keamanan baik di terminal, stasiun, pelabuhan, maupun bandara agar tidak ada pencopetan, calo, pelecehan seksual dan lain sebagainya. Negara juga harus bisa memberikan birokrasi yang cepat agar penumpang tidak menunggu lama dalam mengurus administrasi perjalanan. Jalan – jalan yang rusak dan berlubang segera diperbaiki baik jalan kota maupun daerah. Mempersiapkan juga posko-posko kesehatan , peristirahatan dan perbengkelan di titik-titik tertentu jika ada yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan yang cepat dan perbaikan mesin kendaraan. Jangan sampai pemudik terlunta-lunta ditengah perjalanan, karena yang namanya perjalanan disitu pasti ada kesulitan. Maka, negara harus menyediakan antisipasi dan mitigasi yang cepat. Tentu semua itu akan diurusi oleh negara dan didanai oleh negara lewat kas negara yaitu Baitul Maal . Dengan begitu akan terwujud pelayanan publik yang berkualitas, murah, terjangkau, aman, nyaman, dan selamat sampai tujuan. Jika semua upaya baik itu sudah diusahakan tapi ternyata masih ada korban jiwa maka memang itulah takdir illahi. Namun, jika mitigasi dan antisipasi tidak diupayakan dengan serius maka tanggung jawab seorang pemimpin negara besar dihadapan Allah Swt kelak.
Adapun mengenai kemacetan maka negara harus bisa menguraikannya baik saat lebaran maupun tidak. Jika penyebab kemacetan karena banyaknya warga yang urbanisasi dari kampung ke kota untuk mencari kerja, maka negara harus bisa menyeimbangkan kekayaan di negerinya. Harus bisa memberikan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan baik yang di kota maupun yang di desa. Sehingga, warga yang ada di desa tidak perlu berbondong bondong mencari pekerjaan di kota. Dengan begitu, mereka yang di desa akan menikmati hidup sejahtera dan tak perlu merantau. Kalau pun jika ada yang urbanisasi jumlahnya tidak membludak. Jika penyebab kemacetan karena banyaknya kendaraan pribadi maka negara harus mengontrol dan menahan jumlah impor kendaraan. Jangan sampai impor kendaraan diberikan kebebasan apalagi rakyat dipermudah untuk bisa mendapatkannya misal dengan DP rendah sudah bisa punya kendaraan pribadi. Walhasil, yang terjadi jalan akan penuh dengan kendaraan pribadi, macet, dan berpolusi. BBM yang diperlukan Negara juga semakin besar. Negara harus mendorong rakyat agar bisa senang menggunakan transportasi umum dari pada kendaraan pribadi. Maka, transportasi umum ini harus lebih diperbanyak dengan kualitas yang baik dengan begitu sekaligus negara akan bisa menghemat BBM. Jika kemacetan dikarenakan adanya kecelakaan maka negara harus cepat dalam melakukan evakuasi. Disediakan mobil-mobil dongkrak, ambulan maupun mobil damkar agar kecelakaan cepat teratasi. Jika kemacetan karena adanya tempat-tempat umum yang berdekatan misal adanya pasar, stasiun, terminal yang berada dalam satu titik maka negara harus mengatur titik-titik tempat umum tersebut agar tidak berdekatan sehingga tidak menjadikan kemacetan. Jika penyebab kemacetan karena adanya warga yang punya hajatan lantaran rumahnya di pinggir jalan sehingga menutup jalan, maka negara harus melarangnya. Jangan sampai kepentingan individu mengalahkan kepentingan umum. Karena jalan bagian dari hajat hidup banyak orang. Jadi, negara harus menyediakan gedung-gedung yang bisa digunakan warganya untuk mengadakan hajatan tentu dengan harga yang terjangkau lebih bagus jika gratis. Dengan demikian, kemacetan bisa teratasi.
Teringat kisah Khalifah Umar bin Khattab Ra. yang takut akan tuntutan keledai diakhirat jika ada keledai terperosok di jalan. Umar berkata, “Demi Allah, jika ada seekor keledai di negeri Irak jatuh terperosok di jalan, aku khawatir keledai itu akan menuntut pertanggungjawaban saat hari kiamat kelak.” Dari penyataan itu mempertegas bahwa takutnya seorang pemimpin jika tidak bisa memberikan keamanan dan kenyamanan layanan publik yang berkualitas dan memadai meski saat itu seekor keledai yang menjadi kendaraan kala itu. Berbeda sekali dengan saat ini. Justru kemacetan, kecelakaan yang memakan korban seperti langganan setiap tahunnya tidak hanya di momen lebaran namun juga keseharian. Bahkan, sampai memungut keuntungan dari pengguna jalan.
Selain itu, ada juga sejarah mencatat di masa abad ke 8 Hijriah yaitu di peradapan Islam di Baghdad yaitu di masa kekhilafahan Abbasiyah. Saat itu negara sudah bisa memberikan pelayanan jalan halus dari aspal alami ( bitumen) disuling dari ladang minyak terdekat di Basra. Aspal bitumen inilah yang digunakan untuk melapisi jalan jalan agar memudahkan pengguna jalan. Aspal inilah yang teknik pengolahannya jadi cikal bakal inovasi minyak bumi modern. Dengan demikian jalanan mudah dilalui oleh pengguna jalan dan negara mampu memberikan pelayanan publik yang berkualitas.
Semua itu memanglah tidak mudah karena membutuhkan dana besar dan pola pikir kepemimpinan Islam. Karena hanya Islamlah yang mengerti akan kemaslahatan umat. Dana besar bisa didapatkan dari Baitul mal kas negara yang sumber pendapatannya banyak. Dari zakat, fa’i, kharaj, harta ghanimah, sumber daya alam, kepemilikan negara dan lain sebagainya. Berbeda dengan kepemimpinan ala kapitalisme yang tujuan utamanya demi keuntungan semata. Saat ini, sungguh kita membutuhkan sistem Islam. Kita butuh kepemimpinan dan pemimpin yang mencintai dan memikirkan rakyatnya dunia akhirat. Tak sekedar keselamatan dunia, namun juga keselamatan akhirat. Namun, itu semua bisa terwujud hanya dengan Islam. [ Ummu Arkan Al Fatih (Pegiat Literasi Islam) ]
Wallahua’lam.





