Orang kelahiran 60, 70, 80an pasti banyak yang tahu dengan sandiwara radio Tutur Tinular, kisah tentang berakhirnya Kerajaan Singasari dan awal berdirinya Kerajaan Majapahit.
Didalam kisah Tutur Tinular tersebut, ada seorang tokoh dari Kerajaan Majapahit yang bernama Dyah Halayudha. Namanya disebut dalam Pararaton sebagai pemegang jabatan Rakryan Patih. Dia dicurigai sebagai biang keladi kerusuhan di awal berdirinya Kerajaan Majapahit, dimana dia banyak menghembuskan fitnah adu domba kepada para tokoh-tokoh yang berjasa besar atas berdirinya Kerajaan Majapahit. Dan pada akhirnya, tokoh-tokoh tersebut dinyatakan menjadi pembangkang dan pemberontak yang berakhir dengan kebinasaannya. Kelicikan Ki Halayudha dianggap sebagai penyebab kematian para pahlawan pendiri Majapahit, misalnya Ronggolawe, Lembu Sora, dan Nambi. Ki Halayudha sendiri akhirnya dihukum mati setelah pemberontakan Rakuti tahun 1319.
Terlepas kisah diatas benar atau tidak, fiktif atau nyata, tetapi kita bisa mengambil pelajaran dari kisah yang dulu pernah melegenda tersebut, yaitu adanya orang-orang ataupun tokoh penghembus fitnah demi kepentingan kelompok atau pribadi mereka.
Seperti yang terjadi baru-baru ini, dimana hembusan fitnah kepada gerakan dakwah yang mukhlis, yang fokus pada penegakan Syariah dan Khilafah masuk dalam radar fitnah mereka. Dihembuskan lah bahwa apa yang dibawa gerakan dakwah tersebut katanya meresahkan dan membahayakan. Padahal, apa yang disampaikan oleh gerakan dakwah tersebut adalah bersumber dari Syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Masak iya, Syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dianggap meresahkan dan membahayakan? Dan anehnya, yang menghembuskan fitnah keji semacam ini adalah juga bagian dari Umat Islam sendiri yang dekat dengan kekuasaan.
Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, kalau hati kita bersih dan standar kita adalah kebenaran yang bersumber dari agama Islam, tentu kita bisa dengan mudah untuk mengetahui informasi yang ada ini benar atau tidak, karena kita bisa langsung cek di berbagai platform media ataupun media sosial yang ada. Misalkan informasi tentang Khilafah, benar tidak Khilafah ini adalah bagian dari ajaran Islam yang dulu pernah diterapkan oleh pendahulu kita, yang terbukti membawa keadilan dan menyejahterakan rakyatnya, atau Khilafah ini adalah penyebab kerusakan dunia. Semua itu bisa dicek dengan mudah. Tentu sekali lagi dengan hati yang bersih yang mau menerima kebenaran. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah SWT berikut,
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. Al-Hujurat, 49: 6)
Ayat ini memerintahkan kepada setiap orang agar bijaksana dalam memperhatikan informasi yang sampai kepadanya secara kritis, sehingga tidak melakukan tindakan yang bodoh, yang merugikan diri sendiri atau merugikan orang lain. [Jady Rembang]
Wallahu’alam.





