Pacaran, Pintu Masuk Perzinaan

Pacaran

Balik lagi menyekolahkan anak ke perguruan tinggi tentu baik bagi yang memang mampu secara finansial, guna hasilkan pemuda pemudi yang hebat dan kritis sebagai agen perubahan di masa depan, mengirimnya ke kota-kota besar untuk menempuh ke jenjang pendidikan yang lebih memadai. Namun, bagi yang memiliki anak perempuan baiknya memang bisa dititipkan pada kerabat yang masih mahram dengannya yang dirasa memang amanah.

Pergaulan saat ini memang sungguh sangat mengerikan. Di kota-kota besar gak usah dibantah lagi seberapa banyak permasalahan tentang pergaulan muda mudi. Banyak data menyebutkan, remaja usia Sekolah Menengah Atas banyak yang mengajukan dispensasi nikah muda ke KUA karena hamil duluan. Apa sebabnya bisa demikian? Tentu pacaran biangnya, ia tak ubahnya jalan tol menuju zina. Atau kasus aborsi di berbagai daerah, dengan teganya janin digugurkan.

Bacaan Lainnya

Lalu bagaimana seharusnya agar pergaulan bebas semacam itu bisa diminimalisir? Tentu, hal yang sangat urgent adalah menguatkan aqidahnya. Yang selanjutnya adalah edukasi soal bahaya pacaran harus selalu digaungkan, sebab iklim saat ini memang tidak bernuansa Islam, Kondisi penjauhan agama dengan kehidupan benar-benar nyata nan kentara. Dalam Islam, mendekati zina itu benar-benar diwarning. Eh, tapi ada aja beberapa orangtua yang malah seolah membiarkan anak gadisnya dibawa kesana kemari oleh lelaki yang bukan suaminya. Apakah bangga Ayah? Bunda? Apakah rambu malu dan kehormatan sudah tidak ada lagi? Ataukah pembiaran yang nampak sepele itu, ketika kian dibiarkan akan berpacaran di kamar, dan orangtua hanya diam saja.

Sungguh sedih sekali penulis melihat realita yang ada, para orangtua yang sembrono, takut anaknya “gak laku” dan jadi gadis tua lantas tidak apa-apa dibawa kesana kemari dengan alasan masih muda. Mari kita senantiasa berkaca pada cermin yang luas, untuk jadi perenungan kita semua sebagai orangtua. [Kang Ranto]

Pos terkait