Ramadhan, Prioritas Amal Tetaplah Yang Wajib Lebih Utama Dari yang Sunnah

Masih banyak kita yang keliru bahkan salah dalam beramal di bulan ramadhan. Terutama tentang prioritas amal mana yang harus didahulukan alias diprioritaskan daripada amal yang lain.

Seringkali karena mengejar sholat tarawih kita melupakan bakdiyah isya. Padahal tentu saja bakdiyah isya lebih utama dari sholat tarawih.

Bacaan Lainnya

Atau ketika seorang istri mengejar pahala sholat berjamaah di masjid sekalian tarawih tapi melupakan tugas wajib melayani suami yang baru pulang kerja.

Atau misalnya ada seorang pengemban dakwah yang justru mengesampingkan kewajban ngaji pekanan atau aktifitas dakwah lain demi lebih mengutamakan amalan sunah di bulan ramadhan.

Padahal jelas yang wajib lebih utama dari yang Sunah. Demikian juga Sunnah muakaddah lebih utama dari Sunnah biasa.

Oleh karena itulah sangat penting kita berilmu dalam segala persoalan yang kita hadapi. Termasuk berilmu dalam menyambut dan menjalani aktivitas ramadhan.

Kewajiban berdakwah untuk menegakkan khilafah merupakan kewajiban yang sangat mendesak. Bukan lagi kewajiban yang dilaksanakan pada waktunya. Namun sudah merupakan kewajiban yang tertunda dari waktu pelaksanaan nya yakni 3 hari. Artinya setelah 3 hari kemudian khilafah belum terealisasi maka seluruh umat Islam berdosa kecuali orang orang yang tetap berjuang menegakkan nya meskipun belum mampu merealisasikan.

Mestinya, seorang pengemban dakwah yang sudah faham betul betul tentang seluk beluk kewajban dakwah untuk menegakkan khilafah, akan berupaya melipatgandakan kesungguhan aktifitas dakwahnya. Karena akan mendapatkan pahala berlipat ganda dibanding di bulan lainnya. Yang tentu saja tak mungkin bisa dikejar dengan semua jenis amal sunah apapun. Sehingga merupakan suatu yang tidak wajar jika pengemban dakwah malah istirahat dari aktifitas dakwah demi bisa mengejar amalan Sunnah.

Tentu saja yang dimaksud disini bukanlah kita boleh mengabaikan amalan sunah apapun. Kita tetap harus berupaya beramal sunah semaksimal mungkin. tidak boleh mengabaikannya.

Yang dimaksud memprioritaskan amal yang wajib daripada mengejar amalan Sunnah adalah ketika ditengah keterbatasan tenaga, waktu, biaya dll yang ada maka kita mendahulukan mengejar yang wajib daripada yang Sunnah. Disisi lain tetaplah kita optimalkan yang Sunnah semampu kita.

Oleh karena itu, bagi pengemban dakwah pastinya akan berusaha maksimal mengerjakan semua kewajiban termasuk dakwah. Sembari berupaya menambah yang amalan Sunnah sesuai kemampuan. Dengan demikian barulah ramadhan nya akan lebih bermakna dan akan mendekati kepada tercapai nya hikmah puasa yakni taqwa.

Ironis, jika terjadi seorang pengemban dakwah justru mengurangi aktivitas dakwahnya dengan alasan mengejar amalan Sunnah. Semoga kita diselamatkan Allah dari beramal di atas kebodohan. Aamiin. [Ustadz Abu Zaid R]

Pos terkait