Tawuran Pelajar Kembali Terjadi di Rembang, Bukti Gagalnya Pendidikan Membentuk Kepribadian Islam

Rembang kembali viral. Berita tentang tawuran antar pelajar sekolah kembali mencuat ke permukaan setelah viralnya berita tersebut di berbagai media sosial dan rekaman dari warga sekitar. Tawuran tersebut terjadi di sekitar SPBU Kiringan tepi jalan Pantura desa Punjulharjo dan berlanjut di sekitar Alun-alun Lasem pada Sabtu 25 Juli 2026 siang hari. Warga pun panik dan lalu lintas sempat tersendat. Kabarnya, tawuran itu bermula dari saling ejek nama sekolah di media sosial dan berujung tawuran serta pengeroyokan pada salah satu korban. Sebenarnya ada banyak korban, namun korban yang berinisial MIY 19 tahun, warga desa Leran, kecamatan Sluke mengalami pengeroyokan dan motor rusak. (detikJateng.com, 25 Juli 2026)

Tawuran di Rembang memang jarang terjadi. Namun, hal ini tidak bisa dianggap remeh meski berakhir luka ringan dan tidak memakan korban jiwa. Jika dibandingkan dengan kasus serupa di kota – kota besar, Rembang masih tergolong aman dari kasus tawuran. Ironisnya, tawuran tersebut terjadi saat pulang sekolah. Artinya, sekolah dan pendidikan di sistem saat ini masih gagal membentuk kepribadian, karakter dan akhlak pelajar.

Bacaan Lainnya

Meski tawuran tersebut tidak memakan korban jiwa, namun di kota kecil seperti Rembang, dampaknya terasa lebih dalam. Rasa aman warga terganggu, mereka takut dan khawatir jika anak – anak mereka terlibat yang menyebabkan nama baik sekolah tercoreng dan yang paling parah adalah masa depan para pelajar yang terlibat bisa terancam karena harus berurusan dengan hukum. Saat ini, polisi memang masih belum memastikan siapa saja pelajar yang terlibat karena saat kejadian pelaku memakai penutup wajah dan menutupi plat nomor kendaraan. Tidak menutup kemungkinan, hal ini akan terulang lagi dikemudian hari jika belum mendapatkan efek jera.

Dari kualitas pelajar, kita akan melihat bagaimana kualitas sebuah negara. Negara akan kuat jika mempunyai generasi – generasi yang kuat imannya, kuat pikirannya, kuat visi misi hidupnya, dan kuat komitmennya terutama dalam mengarahkan potensinya untuk kemajuan di negerinya. Namun, saat melihat pelajar melakukan tawuran, hal itu akan mencerminkan generasi kita masih lemah imannya, lemah pemikirannya, lemah karakternya, dan lemah kualitasnya. Bagaimana nantinya mereka akan menggantikan estafet kepemimpinan untuk bangsa dan negeri ini? Maka, ini adalah PR besar negara untuk memberikan pendidikan yang terbaik.

Kasus tawuran pelajar bukanlah sekadar kenakalan biasa dan tidak bisa dipandang remeh. Itu merupakan gejala dari adanya krisis identitas dan krisis arah pendidikan di negeri ini. Tawuran muncul ketika naluri mempertahankan diri dan naluri berkelompok tidak diarahkan dan diatur. Ketika anak tidak diajarkan “siapa aku, untuk apa aku hidup, dan kemana aku akan kembali”, maka identitasnya kosong sehingga mengalami apa yang disebut krisis identitas. Parahnya lagi, kekosongan itu diisi oleh geng, label sekolah, dan validasi teman. Sekali tersinggung, langsung tawuran demi gengsi.

Adanya sistem pendidikan yang berasaskan sekulerisme menjadikan agama diposisikan terpisah dari kehidupan, termasuk dalam penyelenggaraan pendidikan. Akibatnya, pelajar lebih diarahkan untuk mengejar prestasi akademik dan kesuksesan materi, sementara pembentukan kepribadian Islam serta ketakwaan kepada Allah Swt. tidak menjadi landasan utama dalam proses pendidikan. Kondisi ini melahirkan generasi yang cakap secara intelektual, tetapi tidak sedikit yang mengalami krisis moral, lemahnya tanggung jawab, serta mudah terpengaruh oleh budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan tidak tahu posisi mereka sebagai hamba Allah Swt yang terikat dengan syariat Islam, tidak tahu arah hidup mereka harus diarahkan kemana. Karena ilmu pengetahuan diajarkan tanpa ruh. IPTEK diajarkan tanpa IMTAQ. Ketika ada masalah, yang keluar bukan akhlak dan solusi, tapi kekerasan dan emosi.

Tujuan pendidikan nasional memang untuk membentuk generasi yang beriman, berakhlak, dan mandiri, tapi dalam praktiknya ukurannya adalah nilai rapor dan ranking. Guru dituntut mengejar target kurikulum, bukan mendidik jiwa. Orang tua menyerahkan sepenuhnya ke sekolah. Sekolah menyalahkan lingkungan. Lingkungan menyalahkan HP. Akhirnya tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab membentuk kepribadian pelajar.

Pendidikan bukanlah tanggung jawab instansi sekolah saja. Namun, sekolah adalah sebuah pendidikan yang diresmikan negara untuk mendidik generasi dalam rentang waktu yang panjang. Jika di usia dini anak-anak sudah mendapatkan pendidikan sekolah, seharusnya hal ini lebih memudahkan orang tua untuk membentuk kepribadian yang baik. Harapannya setelah usia remaja pemikiran generasi sudah mulai matang. Namun sayang, ternyata di sistem pendidikan saat ini masih gagal.

Selain itu dengan adanya penerapan sistem ekonomi kapitalisme, negara menuntut seorang ibu untuk bekerja. Sehingga fungsi ibu sebagai hadhonah dan pemberi pendidikan yang pertama untuk anak di lingkungan keluarga tercabut. Akhirnya, anak dalam pengasuhan nenek atau tempat penitipan anak. Pendidikan di keluarga tidak bisa berjalan normal tanpa ibu. Tanpa pendidikan dari ibu, generasi tidak terarah. Saat anak memasuki masa remaja, yang ada anak mengalami krisis identitas yang akhirnya lebih terpengaruh pergaulan lingkungan yang liberal.

Begitu pula dengan negara. Negara kurang dalam memberikan pelayanan dan perhatian pada pendidikan berbasis keimanan. Seharusnya memberikan dukungan penuh pada pendidikan terutama di keluarga. Dengan keimanan, melalui tangan dan kasih sayang ibu, seorang anak akan terdidik. Negara juga harus memudahkan perekonomian bangsa agar seorang suami mudah mencari nafkah dan mudah memenuhi kebutuhan keluarga, agar seorang ibu bisa fokus melaksanakan kewajiban dan fitrahnya sebagai ummu wa rabbatul bait dan pendidik generasi di keluarga. Bukan justru mendorong perempuan untuk turut berkecimpung dalam perekonomian. Jika semua ibu keluar mencari nafkah lalu siapa yang bertanggung jawab dalam pendidikan di keluarga?

Negara juga harus mendukung pendidikan di sekolah. Memberikan fasilitas sarana prasarana yang memadai, gaji yang menyejahterakan guru, kurikulum berbasis kompetensi dan keimanan.

Negara juga harus wajib memfilter postingan konten di media sosial yang bisa menjerumuskan generasi pada kemaksiatan dan kejahatan. Banyak konten kreator memamerkan kekerasan, dan hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Di saat yang sama, mereka tidak melihat negara hadir sebagai raa’in yang mengurus urusan rakyat dengan Islam. Alhasil, pelajar meniru apa yang mereka lihat, menyelesaikan masalah dengan kekerasan.

Singkatnya, sistem kapitalisme saat ini gagal mencetak pelajar yang punya syakhsiyah Islamiyah – kepribadian Islam. Yaitu pola pikir dan pola sikap yang dibangun di atas akidah Islam. Tidak hanya untuk kebangkitan dalam kehidupan dunia namun juga berorientasi pada kehidupan akhirat.

Islam punya solusi mendasar. Solusi yang akan memecahkan setiap permasalahan hidup secara tuntas dan komprehensif, bukan dengan tambal sulam. Untuk itu, yang harus dilakukan adalah:

Pertama, mengarahkan dan meluruskan tujuan pendidikan yang benar.

Dalam Islam, tujuan utama pendidikan adalah takwinus syakhsiyah Islamiyah – membentuk kepribadian Islam pada diri pelajar. Kepribadian itu terdiri dari pola pikir dan pola sikap yang berdasarkan akidah Islam. Pelajar harus tahu jati dirinya: bahwa ia adalah hamba Allah. Hidupnya bukan untuk hedon, bukan untuk gengsi sekolah, tapi untuk beribadah.

Allah SWT berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” [QS. Adz-Dzariyat: 56].

Ketika generasi muda paham hidupnya untuk ibadah, maka tawuran jadi tidak ada tempatnya. Karena menyakiti orang lain adalah dosa. Karena waktu mudanya akan dihisab. Mereka sadar punya potensi besar yaitu menjadi agen kemajuan untuk negerinya, bukan menjadi beban dan perusak.

Kedua adalah menyatukan agama dan kehidupan dalam kurikulum pendidikan.

Tidak boleh memisahkan pelajaran agama dan umum. Fisika diajarkan untuk memahami kebesaran Allah. Sejarah diajarkan untuk mengambil ibrah dari peradaban Islam. Ekonomi diajarkan dengan etika halal-haram. Akhlak bukan pelajaran tambahan, tapi ruh dari semua pelajaran. Guru bukan hanya pengajar, tapi pendidik yang jadi teladan.

Sekolah harus jadi lingkungan yang memaksa anak berbuat baik. Ada pembinaan rutin, ada muhasabah, ada sistem sanksi dan reward yang berdasar syariah. Ekstrakurikuler diarahkan untuk mengasah potensi, bukan untuk gengsi dan sekedar berkelahi.

Kemudian butuh peran negara sebagai pelindung dan pengurus urusan rakyat. Negara wajib menutup sumber kerusakan seperti miras, narkoba, konten kekerasan, dan pergaulan bebas. Negara juga wajib memberikan pendidikan yang murah, berkualitas, dan berbasis akidah Islam. Guru harus dimuliakan dan dibekali ilmu agama yang cukup. Orang tua harus diberdayakan lewat majelis taklim dan penyuluhan.

Semua ini tidak akan jalan kalau hanya bersifat parsial. Selama sistemnya sekuler yaitu memisahkan agama dari kehidupan, maka tawuran akan terus ada, hanya saja berganti bentuk dan caranya.

Maka solusinya adalah Islam Kaffah. Sebagaimana Allah SWT berfirman yang artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan” [QS. Al-Baqarah: 208].

Islam Kaffah artinya Islam diterapkan secara total baik di rumah, di sekolah, di masyarakat, dan di negara. Ketika hukum, pendidikan, media, dan ekonomi diatur dengan Islam, maka akan lahir generasi yang kuat imannya, lurus akalnya, dan bermanfaat bagi umat.

Kita bayangkan, Rembang 10 tahun ke depannya. Pelajarnya bukan tawuran, tapi membuat inovasi untuk nelayan dan UMKM. Masjidnya penuh anak muda. Sekolahnya melahirkan hafidz dan ilmuwan. Hal itu mungkin terjadi, jika kita berani kembali ke Islam secara totalitas. Islam Kaffah yang diterapkan di seluruh sendi kehidupan. Kasus tawuran pelajar di Rembang merupakan sebuah alarm. Alarm bahwa kita salah arah mendidik anak. Razia dan patroli hanya memadamkan api kecil. Selagi tungkunya masih menyala, api besar akan muncul lagi. Obatnya satu yaitu mengembalikan pendidikan pada fitrahnya. Sosok pelajar yang punya kepribadian Islam yang tidak hanya pintar secara akademik tapi juga cerdas secara pemikiran dan pemahaman tentang Islam. [Ummu Arkan (Pegiat Literasi Islam)]

Wallahua’lam.

Pos terkait