Setiap bulan Rabiul Awal tiba, umat Islam di seluruh penjuru negeri serentak memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Masjid penuh, jalanan dipenuhi pawai, majelis shalawat menggema, dan tabligh akbar digelar megah. Suasana haru dan cinta kepada Rasulullah Saw terasa begitu kental. Namun di balik kemeriahan itu, ada satu pertanyaan besar yang harus kita renungkan, sudahkah peringatan Maulid ini benar-benar melahirkan perubahan dalam diri kita dan umat?
Fakta yang kita lihat hari ini, banyak peringatan Maulid masih terjebak pada ranah seremonial. Yang paling dominan adalah memperbanyak shalawat, mendengarkan ceramah tentang akhlak Rasulullah, lomba kaligrafi, dan pawai. Semua itu baik. Tapi setelah acara selesai, hidup kita kembali seperti biasa.
Keteladanan kepada Rasulullah baru menyentuh sisi akhlak pribadi saja. Kita diajarkan jujur, sabar, pemaaf, dermawan, dan baik pada keluarga. Namun esensi yang lebih besar belum disentuh yaitu bagaimana Rasulullah Saw membangun sebuah peradaban yang mulia. Bagaimana Beliau bisa membina kepribadian Islam yang kuat dalam diri umat. Bagaimana beliau bisa mengubah sistem jahiliyah menjadi sistem Islam yang mengatur negara, ekonomi, pendidikan, hukum, dan politik dengan hukum yang adil.
Saat ini, umat resah dengan korupsi, kemiskinan, kerusakan moral, dan hukum yang tidak adil. Tuntutan perubahan di tengah umat sudah sangat terasa.Umat rindu solusi. Tapi ironisnya, metode perubahan yang ditempuh hari ini masih jauh dari metode yang dibawa Rasulullah Saw. Umat ingin memperbaiki, namun kerangka berpikir justru menjauh dari risalah beliau.
Inilah persoalannya. Kecintaan kita kepada Rasulullah Saw masih sebatas cinta kepada pribadi beliau. Kita menangis saat mendengar kisah sirah, kita merinding saat bershalawat. Tapi cinta itu belum sampai pada tataran cinta dan keterikatan kepada risalah dan syariat yang beliau bawa. Kesadaran penghambaan kepada Allah Swt pun baru sebatas ibadah ritual. Shalat, puasa, zakat, haji kita jaga. Tapi ketika berbicara tentang mengatur negara, mengatur ekonomi, mengatur pergaulan, dan hukum, kita menyerahkan kepada sistem lain. Seolah Islam hanya untuk di masjid, bukan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.
Mengapa bisa demikian?
Karena telah bercokolnya sekularisme dalam cara berpikir umat. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Ia menanamkan pemahaman bahwa syariat Islam hanya cocok untuk urusan pribadi, sementara urusan publik harus diserahkan kepada akal manusia dan hukum buatan manusia. Sehingga Islam dijauhkan untuk mengurus urusan publik dan politik.
Sementara itu, sistem Kapitalisme-Sekulerisme yang berkuasa saat ini terus menghalangi tegaknya hukum Islam. Kapitalisme menjadikan materi sebagai tujuan utama. Ia melahirkan kesenjangan, merusak moral, dan menjadikan hukum bisa diperjualbelikan. Selama sistem ini masih dipertahankan, maka mimpi untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan berkah akan sulit terwujud. Padahal Rasulullah Saw tidak hanya membawa akhlak, beliau membawa sistem Islam Kaffah yang diterapkan secara menyeluruh di Madinah dan terus dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin.
Rasulullah Saw tidak hanya mengajarkan shalat, tapi juga menegakkan negara yang menerapkan hukum Allah. Beliau tidak hanya mengajarkan sedekah, tapi juga membangun sistem ekonomi Islam yang bebas riba dan muamalah batil. Beliau tidak hanya mengajarkan sabar, tapi juga menegakkan jihad dan politik luar negeri berdasarkan wahyu. Itulah Islam Kaffah yang sesungguhnya.
Maka dari itu, sudah saatnya Meneladani Rasulullah Saw harus secara Kaffah (menyeluruh) bukan setengah-setengah. Jadikan maulid Nabi Muhammad Saw menjadi spirit untuk perubahan yang lebih baik.
Pertama, umat harus disadarkan tentang makna ittiba’ yang sebenarnya. Ittiba’ bukan hanya meniru cara makan, cara berpakaian, atau cara berdagang Rasulullah Saw. Itu penting, tapi belum cukup.
Ittiba’ hakiki adalah meneladani Rasulullah dengan terikat kepada syariat Allah dan menerapkan hukum Allah sesuai dengan metode perjuangan yang beliau contohkan. Artinya, kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai satu-satunya pedoman dalam berpikir dan bertindak. Kita harus mengkaji bagaimana Rasulullah Saw berdakwah di Makkah, bagaimana beliau membangun negara di Madinah, dan bagaimana beliau berinteraksi dengan umat baik muslim maupun non muslim.
Kedua, harus ada keberanian untuk melakukan perubahan mendasar. Hari ini negeri-negeri kaum muslimin masih dikuasai oleh sistem Kapitalisme-Sekularisme. Sistem ini tidak akan pernah bisa melahirkan Rahmatan Lil ‘Alamiin karena ia lahir dari akal manusia yang terbatas dan penuh kepentingan. Sistem yang menjadikan Islam dikebiri agar tidak bisa mengurusi urusan publik. Sistem yang menjadi senjata penjajah Barat agar eksistensinya tetap terjaga dan bisa menguasai umat muslim dan sumberdaya alamnya. Sistem yang seharusnya tidak layak dipertahankan karena menyengsarakan umat.
Sudah seharusnya perubahan mendasar itu adalah dengan penegakan Islam Kaffah. Islam yang dibawa Rasulullah Saw. Islam yang diterapkan secara total, bukan sepotong-sepotong. Islam yang mengatur akidah, ibadah, akhlak, sekaligus urusan negara dan masyarakat. Hanya dengan ini umat akan keluar dari keterpurukan dan kembali menjadi umat terbaik yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Maulid Nabi Saw seharusnya menjadi momentum muhasabah dan kebangkitan. Jangan sampai kita hanya berhenti di tangis dan shalawat, lalu lupa pada tugas besar yang diwariskan beliau yaitu melanjutkan risalah untuk menegakkan Islam di muka bumi.
Jadikan Maulid tahun ini berbeda. Bukan hanya memperingati kelahiran beliau, tapi juga memperbarui tekad untuk meneladani beliau di setiap aspek kehidupan. Mulai dari rumah kita, masyarakat kita, hingga tatanan negara kita.
Karena cinta sejati kepada Rasulullah Saw adalah dengan mengikuti beliau sepenuhnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)
Semoga kita termasuk umat yang tidak hanya mengaku cinta, tapi juga berjuang untuk menghidupkan kembali sistem yang pernah dibawa oleh orang yang paling kita cintai, Muhammad Rasulullah Saw.
Wallahua’lam.





