Dari Maulid Menuju Kebangkitan: Mengikuti Jejak Perjuangan Rasulullah SAW

Ilustrasi Maulid Nabi Muhammad saw. (Image by Freepik)

Maulid Nabi SAW kembali semarak. Sholawat menggema, tabligh akbar digelar, bahkan pawai menjadi bagian dari ekspresi kecintaan umat kepada Rasulullah SAW. Kementerian Agama, misalnya, mengajak 1.781.945 umat Islam mengikuti Blissful Mawlid 1448 H melalui gerakan Gema Sholawat Kebangsaan. Momentum tersebut diarahkan untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus meneladani akhlaknya. Namun, di tengah semarak perayaan, ada pertanyaan penting yang layak direnungkan, apakah kecintaan kepada Nabi SAW cukup diwujudkan melalui ritual dan keteladanan akhlak secara personal? (SINDOnews, 23/08/2026).

Ittiba’ kepada Rasulullah SAW semestinya tidak dipersempit sebatas meniru kesantunan, kasih sayang, persaudaraan, atau kepedulian beliau. Lebih jauh, umat perlu memahami perjuangan Nabi SAW dalam mengubah masyarakat jahiliyah yang menjadikan dunia dan hawa nafsu sebagai orientasi kehidupan menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT. Karena itu, Maulid semestinya menjadi momentum untuk membangkitkan kesadaran bahwa Islam bukan sekadar ajaran ritual dan moral individual, tetapi juga memiliki aturan yang mengatur kehidupan. Ketika cinta kepada Rasulullah SAW hanya berhenti pada lantunan sholawat dan keteladanan akhlak, pesan perubahan yang dibawa beliau berisiko kehilangan dimensi pentingnya.

Bacaan Lainnya

Sesungguhnya, tuntutan perubahan telah muncul di tengah umat Islam. Banyak yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dan tidak puas dengan berbagai persoalan yang terus berulang. Persoalannya, perubahan tersebut belum selalu diarahkan pada metode perjuangan Rasulullah SAW.

Nabi SAW tidak sekadar memperbaiki individu, tetapi membangun kesadaran umat, mengubah pemikiran masyarakat, dan kemudian menegakkan kehidupan berdasarkan Islam. Maka, peringatan Maulid seharusnya tidak hanya membangkitkan rasa haru dan cinta, tetapi juga menghadirkan pertanyaan mendasar, sudahkah umat mengikuti jalan perjuangan Rasulullah SAW untuk mewujudkan kehidupan yang benar-benar tunduk kepada Allah? Dengan demikian, Maulid bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali makna ittiba’ secara lebih utuh.

Maulid Nabi SAW sering kali hanya menjadi ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi ideologis. Perayaan diisi dengan sholawat, ceramah, dan berbagai kegiatan yang membangkitkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW, tetapi berhenti pada suasana emosional. Padahal, cinta kepada Rasulullah SAW harus melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa.

Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan akhlak dan ibadah individual, tetapi juga melakukan perubahan mendasar terhadap pemikiran, keyakinan, dan tatanan kehidupan masyarakat. Karena itu, menjadikan Maulid sekadar momentum untuk mengenang kelahiran beliau tanpa memahami misi perubahan yang diperjuangkannya membuat makna keteladanan Rasulullah SAW menjadi sangat sempit.

Persoalan yang lebih mendasar adalah umat kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah SWT masih berlangsung secara sistemik, melalui Demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang menjadikan dunia serta hawa nafsu sebagai orientasi hidup.

Dalam kondisi tersebut, Islam sering ditempatkan sebatas urusan ibadah dan moral pribadi, sementara pengaturan kehidupan publik diserahkan kepada sistem buatan manusia. Akibatnya, tuntutan perubahan yang muncul di tengah umat tidak selalu diarahkan pada perubahan mendasar sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW.

Bahkan, sistem Kapitalisme, demi mempertahankan eksistensinya, akan terus berusaha menghalangi suara kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan sistem. Di sinilah pentingnya memahami bahwa problem umat bukan semata persoalan individu, melainkan juga berkaitan dengan sistem kehidupan yang menjadi tempat manusia menjalani seluruh aktivitasnya.

Dalam pandangan Islam, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup dibuktikan melalui ucapan, perayaan, atau luapan emosi, tetapi harus diwujudkan dengan mengikuti risalah yang beliau bawa. Allah SWT berfirman, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7). Ayat ini menunjukkan bahwa ittiba’ kepada Rasulullah SAW mencakup ketaatan terhadap seluruh ajaran yang beliau bawa.

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim). Karena itu, Maulid seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat keterikatan umat kepada Islam secara menyeluruh, termasuk memahami perjuangan Rasulullah SAW dalam membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah.

Islam memandang kehidupan manusia harus dikembalikan kepada penghambaan yang murni kepada Allah SWT, bukan kepada aturan yang menjadikan hawa nafsu, kepentingan materi, atau manusia sebagai penentu utama kehidupan. Rasulullah SAW telah memberikan contoh bagaimana perubahan dilakukan melalui pembinaan pemikiran dan kepribadian umat, pembentukan kesadaran politik, perjuangan dakwah secara konsisten, hingga terwujudnya masyarakat yang menjadikan Islam sebagai dasar kehidupan.

Karena itu, kebangkitan umat tidak cukup diarahkan pada pergantian individu atau tambal sulam kebijakan, tetapi harus menyentuh akar persoalan, yakni perubahan pemikiran dan sistem yang mengatur kehidupan. Inilah semestinya makna Maulid, bukan sekadar mengenang Rasulullah SAW, melainkan menghidupkan kembali risalah, perjuangan, dan visi perubahan yang beliau wariskan kepada umat.

Agar bisa memaknai Maulid dengan benar, maka umat Islam seharusnya meneladani apa yang telah Rasulullah SAW ajarkan, tentunya dengan melakukan beberapa perbuatan yang mengarah pada keteladanan kepada Rasulullah SAW, salah satunya adalah dengan melakukan ittiba’. Mengembalikan makna ittiba’ sebagai keterikatan pada syariat dan metode perjuangan Nabi SAW, bukan sekadar ritual. Allah SWT berfirman, “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran: 31). Ayat ini menegaskan bahwa cinta kepada Rasulullah SAW harus dibuktikan dengan mengikuti beliau.

Karena itu, momentum Maulid semestinya diarahkan untuk membangun kesadaran umat agar memahami Islam secara utuh sekaligus meneladani perjuangan Rasulullah SAW dalam mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat yang tunduk kepada aturan Allah. Kecintaan tidak berhenti pada selawat dan peringatan, tetapi melahirkan keterikatan nyata kepada risalah yang dibawa Nabi SAW.

Selanjutnya yang harus dilakukan agar Maulid lebih bermakna adalah dengan menyadarkan umat bahwa penerapan sistem Kapitalisme-sekuler di negeri-negeri Muslim telah memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. Dalam perspektif Islam, umat diperintahkan memperjuangkan penerapan syariat secara kaffah melalui kepemimpinan Islam, sebagaimana Rasulullah SAW membangun kehidupan Islam di Madinah setelah dakwah dan pembinaan umat di Makkah. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah: 208). Perubahan tersebut tidak dilakukan secara spontan, melainkan mengikuti metode perjuangan Rasulullah SAW.

Dalam konstruksi ini, metode tersebut ditempuh melalui tiga tahapan (marhalah), yakni tatsqif berupa pembinaan dan pembentukan kepribadian serta pemikiran Islam, tafa’ul ma’al ummah berupa interaksi dengan umat untuk membangun kesadaran terhadap Islam, dan istilamul hukmi berupa penerimaan kekuasaan untuk menerapkan Islam dalam kehidupan. Dengan metode inilah perjuangan diarahkan secara terukur dan tidak terjebak pada perubahan parsial.

Pada akhirnya, Maulid seharusnya menjadi momentum untuk mengoreksi kembali arah kecintaan umat kepada Rasulullah SAW. Fakta bahwa peringatan Maulid kerap berhenti pada ekspresi emosional, sementara penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik, menunjukkan adanya jarak antara kecintaan kepada Nabi SAW dan upaya mengikuti risalahnya secara menyeluruh.

Islam menawarkan perubahan yang tidak hanya menyentuh individu, tetapi juga kehidupan masyarakat. Dengan memahami ittiba’ secara utuh dan meneladani metode perjuangan Rasulullah SAW, umat diarahkan untuk menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT menegaskan, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107). Maka, Maulid tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran terhadap risalah dan perjuangan Rasulullah SAW.

Wallahua’lam. []

Pos terkait