Jawaban Atas Krisis Identitas, Finansial Dan Emosional Pada Gen Z

Foto: Ilustrasi Krisis Identitas, Finansial Dan Emosional Pada Gen Z

Menurut Studi Keuangan Wells Fargo 2026 di AS, Generasi Z atau biasa disebut dengan Gen Z sedang terjepit finansialnya. Data terbaru menunjukkan 64% Gen Z usia 18-28 tahun dinyatakan masih tergantung kepada orangtuanya dalam hal finansial. Baik untuk uang jajan, tempat tinggal, kendaraan, dan dukungan lainnya. 56% dari orang tua mengaku terbebani akan dukungan materi tersebut. (CNBC, 13/04/2026).

Di saat yang sama, hal itu ternyata juga dialami Gen Z di Indonesia. Meski sudah bekerja namun secara finansial mereka belum bisa mencukupi kebutuhan. Hal ini yang menjadikan Gen Z masih bergantung dengan dukungan materi dari orang tua, sehingga sulit untuk melakukan langkah yang besar seperti menikah, membeli rumah dan mempunyai anak. Ditambah lagi dengan alokasi belanja Gen Z hari ini berupa pengeluaran selain kebutuhan primer seperti self-reward, healing, dan gaya hidup nongkrong bersama circle nya.

Bacaan Lainnya

Self-reward menurut Gen Z termasuk hal penting setelah menerima uang gaji sebagai bentuk reward atas tekanan kerja dan stress. Biasanya mereka melakukan hal-hal seperti ngopi, belanja fashion dan skin care, liburan singkat, lihat konser, kelas mindfulness dan lain sebagainya. Semua itu dianggap bukan sekadar kebutuhan sekunder namun primer.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Kapitalisme menciptakan generasi yang lelah. Sistem kapitalisme hari ini tidak menjamin apa yang dibutuhkan oleh Gen Z. Negara memposisikan diri sebagai regulator, bukan penjamin kebutuhan rakyat. Sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan yang seharusnya dijamin oleh negara malah menjadi salah satu beban individu. Sehingga Gen Z sulit meneruskan pendidikan karena biaya tinggi dan memilih bekerja. Saat pilihan bekerja dipilih, masih saja terhimpit dengan biaya tinggi lainnya. Gaji stagnan, sedangkan harga sewa rumah dan kebutuhan melambung tinggi. Sehingga Gen Z mudah lelah secara emosional dan membutuhkan kebutuhan emosional disamping kebutuhan primer seperti healing, self reward, karaoke, nongkrong agar tetap bisa bertahan hidup dan waras.

Ketika manusia stres, kapitalisme menjual “obat” yaitu self-reward. Sedih? Belanja. Burnout? Healing. Kesepian? Nongkrong. Belanja bukan lagi gaya hidup, tapi mekanisme bertahan agar tidak gila. Ironisnya, semakin banyak belanja untuk menenangkan diri, semakin dalam lubang finansialnya. Akhirnya terjerat pinjol, tergoda slot, utang kredit menumpuk, tabungan kosong. Inilah lingkaran setan kapitalisme yang menciptakan masalah, lalu menjual solusinya. Alih-alih bisa membantu meringankan beban orang tua yang ada, Gen Z masih membebani dan tergantung pada orang tuanya.

Selain itu, adanya krisis identitas yang mendalam pada Gen Z yang menjadikan mereka tidak memahami siapa dirinya, untuk tujuan apa dihidupkan di dunia ini, dan akan kemana setelah mati. Kapitalisme mengosongkan makna hidup. Kerja hanya untuk gaji, hidup hanya untuk konsumsi.

Gen Z hanya memahami bahwa hidup di dunia ini hanya sekedar memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri saja. Makna kebahagiaan yang melekat dalam dirinya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan jasmani dan materi semata bukan mencari ridho Allah Swt. Gaya hidup Sekuler-Liberal juga mewarnai dalam hidup mereka. Pergaulan bebas, hedonisme, menjauhi ajaran agama dan lebih senang mengikuti budaya FOMO dan tren yang ada di media sosial.

Dalam Islam, pemuda adalah bagian dari kekuatan sebuah negara. Jika pemuda diberdayakan sebagaimana mestinya sesuai dengan ajaran Islam maka akan bisa memperkuat tatanan negara. Menjadi generasi yang kuat imannya, kuat mentalnya, kuat fisiknya,dan kuat pemikirannya.

Namun semua itu harus didukung oleh peran negara. Negara harus benar-benar mengurus generasi dengan sebaik mungkin sesuai dengan syariat Islam. Dengan demikian generasi muda akan siap untuk meneruskan estafet kepemimpinan dan mengembalikan kemuliaan negara dengan syariat Islam.

Dalam hal ini, Islam memiliki solusi praktis dan komprehensif.
Pertama, negara menjamin kebutuhan pokok seluruh rakyat.
Negara wajib menjamin kebutuhan dasar rakyat yaitu pangan, sandang, papan, plus pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Hal ini bukan berarti negara menyediakan makan gratis seperti MBG meski itu boleh.

Kebutuhan dasar ini dipenuhi negara dengan mengelola Sumber daya alam untuk kepentingan rakyat. Sistem ekonomi Islam berbasis kepemilikan. Kepemilikan individu, umum, dan negara diatur jelas. SDA seperti minyak, gas, air, hutan adalah milik umum. Hasilnya dikelola negara dan dikembalikan ke rakyat, bukan ke segelintir korporasi. Hasil tambang seperti emas, minyak, batu bara, nikel, dan lainnya dikelola negara untuk kebutuhan rakyat bukan dikelola asing atau swasta.

Selain itu, sistem Islam juga melarang praktik Ribawi dan muamalah batil. Maka negara akan memblokir pihak-pihak yang menggunakan media sosial untuk praktik judol, slot, pinjol, togel dan lain sebagainya.

Negara juga wajib menyediakan lapangan pekerjaan terutama bagi laki-laki. Meski perempuan mubah bekerja namun yang diutamakan bekerja adalah laki-laki. Sehingga tidak banyak laki-laki yang menganggur. Perempuan bisa fokus mendidik anak dan mengatur urusan rumah. Sehingga kehidupan akan seimbang. Ada ayah yang mencari nafkah dan ibu yang memberikan pendidikan dan hadhonah pada generasi sejak dini. Bukan didikan dari baby sitter, nenek atau penitipan anak meski itu mubah.

Dengan demikian, lapangan kerja tersedia banyak, harga pokok murah, dan tidak ada jeratan hutang yang mencekik. Gen Z tidak perlu lembur demi bayar cicilan.

Kedua, Islam menutup gaya hidup hedonis serta melindungi generasi muda dari paparan sekularisme-Kapitalisme. Adanya sekulerisme kapitalisme, generasi akan semakin jauh dari ajaran Islam dan semakin liberal. Maka Islam akan memanfaatkan teknologi dan sosial media untuk edukasi dan ketakwaan agar mereka tidak akan FOMO lagi terhadap trend hedonisme.

Self-reward dalam Islam bukan haram. Tapi bentuknya seperti sedekah, memberi hadiah ke orang tua, wakaf, jalan ke alam sambil bertadabbur. Itu healing yang tidak menghabiskan tabungan dan menambah pahala.

Ketiga, Islam akan membentuk generasi muda untuk mempunyai akidah Islam yang kuat dan kepribadian Islam yang tangguh. Dengan akidah yang kuat generasi tidak akan krisis identitas. Mereka akan sadar bahwa dirinya adalah hamba Allah Swt. Hidup mereka bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri semata, namun mereka sadar bahwa hidupnya untuk beribadah dan taat kepada Allah Swt. Orientasi hidup mereka setelah mati adalah hidup abadi masuk surga.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Maka, jika pandangan hidup generasi muda saat ini seperti itu kita akan bisa melihat generasi untuk senantiasa rajin ibadah, belajar, dan membenahi akhlak dan moralnya. Dengan begitu, pola pikir dan pola sikapnya akan membentuk kepribadian Islam. Mereka akan berusaha menggunakan segala potensi yang dimilikinya untuk kemuliaan negara dan Islam. Dengan demikian, jika negara benar-benar memiliki pemuda dan generasi-generasi yang bertakwa dan cemerlang seperti itu maka beruntunglah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)

Jika sistem ini diterapkan hari ini, pendidikan dan kesehatan gratis berkualitas, perumahan terjangkau, lapangan kerja dibuka lewat pengelolaan SDA oleh negara. Maka 48% Gen Z yang cemas finansial akan turun drastis. Rasa aman muncul karena ada yang menjamin.

Bayangkan jika hari ini sistem Islam kaffah diterapkan di sisi ekonomi, Gen Z lulus kuliah langsung dapat kerja layak karena negara membuka banyak lapangan pekerjaan. Gaji cukup untuk menikah di usia muda. Rasa tidak aman finansial akan hilang karena ada jaminan negara.

Di sisi sosial, komunitas bukan hanya di Twitter dan Discord, tapi di masjid, majelis taklim, dan kegiatan dakwah kampus. Saat stres, Gen Z curhat ke ustadz dan sahabat, bukan lari ke e-commerce. Healing dilakukan dengan qiyamul lail, tadabbur alam, dan liburan halal bersama keluarga.

Di sisi negara, penguasa sibuk mikir bagaimana rakyat sejahtera. Kebijakan dibuat berdasarkan halal-haram, bukan untung-rugi. Hasilnya, Gen Z tidak perlu membeli kebahagiaan dengan harga mahal. Karena kebahagiaan sudah ada dalam sistem yaitu rasa aman secara ekonomi, tenang secara spiritual, dan punya tujuan hidup yang jelas.

Masalah Gen Z hari ini bukan karena mereka boros atau manja. Mereka korban dari sistem yang menjadikan manusia sebagai konsumen dan pekerja, bukan khalifah di bumi. Islam kaffah datang membawa solusi total, menjamin perut, menenangkan jiwa, dan meluruskan tujuan hidup. Tidak setengah-setengah. Selama kita masih tambal sulam dengan tips mengatur keuangan dan self-care, maka 48% itu akan terus bertambah. Tapi jika kita berani kembali pada sistem yang Allah turunkan, maka generasi ini bisa menjadi generasi yang kuat secara ekonomi, kokoh secara iman, dan bermanfaat untuk peradaban.

Wallahua’lam.

Pos terkait