Berdiri di Depan Istana Sang Raja

Foto: Ilustrasi Berdiri di Depan Istana Sang Raja

‎Disclaimer dulu ya gaes, ini hanya cerita fiktif saja. Kalau ada kesamaan nama dan tempat ya mohon maaf. Walaupun ini cerita fiktif, tapi kayaknya isi cerita ini sesuai dengan realita… Hehehe

‎Oke, yuk kita GAS…

‎Ada seorang lelaki. Sebut saja Mas Adi.
‎Setiap pagi dia selalu nampak berdiri. Bukan di pasar. Bukan di terminal.
‎Tetapi di depan Istana Sang Raja. Tangannya kosong, cuma bawa buku, bawa ide, dan bawa kejujuran.

‎Mas Adi ini bukan pejabat. Juga bukan bangsawan. Tapi dia sedih lihat negerinya yang kaya raya tapi rakyatnya masih ngenes.

‎Sambil menatap Istana Sang Raja, mas Adi bergumam dalam hati, “Negoro iki subur banget lho. SDA ne akeh lan melimpah, SDM e pinter-pinter. Kok rakyat e isih susah?”.

‎Sebenarnya apa yang dia serukan itu sederhana. Tentang hukum yang adil. Ojo tumpul neng nduwur, tajem neng ngisor. Pejabat salah dihukum, wong cilik dilindungi.

‎Juga tentang ekonomi yang berkah. Bahwa emas, minyak, air, hutan. Itu milik umat. Harus dikelola negara untuk rakyat, bukan untuk segelintir juragan (Oligarki).

‎Juga tentang pendidikan yang berakhlak. Anak-anak diajari ilmu, tapi juga diajari iman. Ben gede dadi pemimpin yang adil, bukan penjilat.

‎Tujuannya apa? Ya biar negeri ini jaya. Biar rakyatnya sejahtera lahir batin.

Kenapa Dia Tidak Disukai?

‎Kenapa orang yang punya pemikiran seperti mas Adi ini tidak disukai? Karena yang disampaikan adalah kebenaran (Islam).

‎Bahkan teman – temennya nggak suka. Malah ada yang berkata,
‎”Mas, wis to. Ojo keminter. Ngomong ngarep Istana kuwi bahaya, ‎fokus golek duit wae. Sing penting awake dewe aman, keluarga nyaman.” Bagi mereka, Mas Adi terlalu berisik. Lebih baik diem dan nurut.

‎Apa lagi Istana, orang – orang Istana kalau melihat dia dari dalam juga tidak suka. Setiap dia berorasi, pagar ditutup. Setiap dia bikin tulisan, langsung dicari – cari salahnya. Katanya, “Ini memecah belah. Ini makar.” Padahal yang dia bawa bukan batu. Yang dia bawa adalah ide besar yang bisa menyelamatkan negeri tersebut. Mas Adi tetap saja dibilang “berbahaya“. Padahal dia cuma ngingetin sang raja dengan cara yang santun.

Tetap Berdiri di Depan Istana.

‎Walaupun dijauhi dan dihina teman, diusir penjaga Istana, tetapi mas Adi tetap berdiri di depan Istana.

‎Bukan karena benci. Tapi karena cinta. Karena dia ingat sabda Nabi Muhammad saw,
“Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang haq di hadapan penguasa yang dzalim”. (HR. Abu Dawud).

‎Dia nggak bawa massa buat rusuh, dia hanya bawa nasehat. Dia nggak bawa dendam, tetapi dia membawa solusi.

“Ben dianggep gendeng. Sing penting aku wes nyampaike. Perkara didengar opo ora, kuwi urusane Gusti Allah”, batin mas Adi.

Pelajaran Penting Dari Cerita Diatas

‎Negeri ini butuh banyak “Mas Adi” yang berani berdiri di depan Istana. Berdiri bukan untuk menjatuhkan. Tapi untuk mengingatkan.

‎Kita punya laut, punya tanah, punya orang – orang hebat. Yang kurang cuma satu, keberanian mengatakan yang benar di hadapan yang berkuasa.

‎Mungkin hari ini suaranya dianggap angin lalu. Tapi bisa jadi, nanti anak cucu kita bilang, ‎“Oh… biyen ono wong sing wani ngadeg neng ngarep Istana demi kebenaran.”

‎Berdiri di depan Istana itu panas. Capek. Sering diabaikan. Tapi kalau bukan kita, siapa lagi?

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan”. (QS. Ali Imran: 104).

‎Wallahu ‘Alam.

Pos terkait