Angka 10 Bukanlah Menjadi Penentu Keberhasilan

Angka 10

Pada gelaran World Cup Tahun 2006 silam, Italia keluar sebagai juaranya, menyisihkan tuan rumah di babak semifinal. Ajang yang bagi penulis masih terkenang. Bukan karena tandukan Zidane yang iconic di Laga Final, namun lebih kepada nomor punggung pemain Italia yang hendak penulis sampaikan. 

Saat itu pula, meski ikon AS Roma, Totti yang menggunakan nomor punggung 10, cedera berbulan-bulan, namun pelatih Italia Marcello Lippi tetap memberikan garansi di timnya bahwa ia akan segera pulih dari cidera kaki. Hal itulah mungkin yang menjadi pemicu Totti lekas sembuh dari cideranya. Padahal saat itu di Juve, Ale Del Piero juga menggunakan nomor punggung 10.

Bacaan Lainnya

Dalam dunia sepak bola, nomor punggung menjadi sebuah ciri khas bagi pemain tertentu. Angka 10 misalnya, dikatakan angka yang sempurna, penggunanya pun bukan pemain sembarangan. Tengok saja Maradona, Pele, dan Messi begitu mewah menggunakannya. Tapi tetap saja Totti yang pakai nomor 10, dan Delpiero jadi nomor 7, namun keduanya tetap keren.

Dalam dunia pendidikan, angka 10 banyak diidamkan para murid, sah-sah saja bila ingin mencapainya, namun harus diraih dengan cara yang benar yaitu belajar yang tekun, berikhtiar maksimal, dan berdo’a agar mendapatkan hasil yamg terbaik. Apa guna angka-angka bila dicapai dengan cara mencontek, menyuap teman yang dianggap pandai dan cara-cara instan lainnya. Cara-cara di atas yang tak beretika dan curang tentu bukan akhlak yang baik bagi pelajar Muslim. Pelajar Muslim yang keren ialah selalu bertaqwa pada Allah dan selalu merasa diawasi. Cara nyontek seperti itu sudah gak zaman.

Atau jangan-jangan orang tuanya hanya memperdulikan angka-angka, yang menurutnya angka sempurna, namun melupakan akhlak dan adab anak kepada guru dan orang tuanya. Kemudian berbangga atas capaian nilai-nilai yang dianggap sempurna tadi melebihi perilaku yang baik itu sendiri. 

Atau kebiasaan berbangga itu dibawa hingga anak tumbuh dewasa, mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang mentereng namun hasil dari menyuap hingga melupakan keberkahannya. Menikah dengan orang yang kaya tapi yang tidak sholat pun masih bangga.

Ah, memang semenarik-menariknya sepak bola dengan nomor punggung angka 10 di belakangnya yang dimiliki oleh pemain besar, seharusnya tidak sampai lebih besar dari tim yang ia bela. Sebaik apapun kekompakan Totti, Delpiero dan kolega, tentu tak sebaik dengan tutur kata dan sikap yang elok sebagai manifestasi pemuda Islam yang bertaqwa. Juga nama besar seorang anak yang nantinya menjadi idaman dan orang besar yang berpengaruh, namun didalamnya rapuh jauh dari tuntunan syariat agama tentu tidak tidak ada gunanya di hadapan Allah SWT. Menghalalkan segala cara dengan cara bathil guna memuaskan hasrat duniawi yang sementara. 

So, Sahabat PENA agar paham nilai-nilai yang baik dan paripurna yaitu dengan cara berkumpul dan mendekat dalam circle yang mengkaji Islam secara sempurna, agar nantinya nilai hidup kita tidak keok oleh nilai semu pandangan manusia, namun lebih pada ridhoNya. [Kang Ranto]

Pos terkait