Gading, Belang dan Kebangkrutan

Ketika Anda mati kelak, apa yang ingin orang kenang tentang diri Anda?

Ada pepatah lama berbunyi; “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” Insightnya adalah pada saat kita meninggal maka akan ada sesuatu yang dikenang orang tentang diri kita. Jangankan manusia, hewan seperti gajah dan harimau saja ada sesuatu yang dikenal orang.

Bacaan Lainnya

Bukan badan dan wajah manusia yang lebih akan dikenang orang dalam jangka waktu panjang tentang diri ini, tapi apa yang kita berikan pada mereka dalam kehidupan. Semakin besar jasa seseorang biasanya semakin orang mengenalnya dan berusaha mengabadikannya.

Sebab itulah kita mengenal banyak nama jalan besar di kota-kota besar menggunakan nama-nama tokoh terkemuka; Sudirman, Diponegoro, Rasuna Said, dsb. Nama-nama jalan yang diambil dari manusia terkemuka dengan jasa yang tidak biasa.

Seorang seniman dan sejarawan asal Amerika Serikat, Maya Angelou menulis; “I’ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made the feel.”

Dia benar. Hal yang paling kuat untuk diingat orang tentang diri orang lain, adalah apa yang mereka perbuat terhadap perasaan orang lain. Maka, makam orang-orang terkenal tidak pernah sepi dari kunjungan orang-orang yang mengaguminya karena dia berhasil memberikan sebuah perasaan luar biasa untuk mereka.

Banyak orang mendatangi makam para ulama, para wali, para syaikh, karena pemikiran-pemikiran dan jasa mereka sanggup menghentak perasaan kaum muslimin. Dalam sisi lain, orang berbondong-bondong mendatangi kuburan para artis dan seniman karena merasa karya mereka begitu menyentuh perasaan.

Pada titik inilah seorang yang mengaku beriman patut waspada akan tindakan dan ucapannya. Ada dua sebab; pertama, khawatir bila ucapan dan tindakan itu menjadi inspirasi keburukan untuk banyak orang. Akibatnya ini menjadi dosa jariyah, dosa yang terus mengalir karena banyak orang yang begitu terdorong menyebarkan keburukan-keburukan tersebut. Nabi Saw bersabda:

“Barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam suatu contoh yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelah dia, tanpa berkurang sesuatu pun dari dosa-dosa mereka”. (HR. Muslim)

Terbayang panjang dan beratnya dosa jariyah seseorang yang menyebarkan ujaran kebencian pada orang lain, melemparkan fitnah pada manusia lain dengan penyampaian yang begitu menggugah perasaan banyak orang, begitu meyakinkan, sehingga banyak orang terpengaruh lalu beramai-ramai ikut meneruskannya seperti mata rantai yang panjang. Mengerikan bukan aliran dan pikulan dosa yang harus dipikul?

Kedua, peringatan dari Nabi Saw bahwa kezaliman yang dilakukan di dunia bisa membangkrutkan seseorang di pengadilan akhirat. Kezaliman yang dilakukannya akan menguras pahala seseorang untuk membayar kejahatannya pada para korban. Celakanya lagi bila ternyata kezaliman itu sedemikian banyak, sementara deposit pahala telah terkuras, maka Allah akan timpakan dosa-dosa para korban pada si pelaku. Betul-betul bangkrut!

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kamu siapakah orang bangkrut itu?” Para Sahabat Radhiyallahu anhum menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku, (yaitu) orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala amalan) shalat, puasa dan zakat. Tetapi dia juga mencaci maki si ini, menuduh si itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya, dan orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu ditimpakan padanya, kemudian dia dilemparkan di dalam neraka.” (HR. Muslim)

Ngeri untuk membayangkan bila kezaliman seperti caci maki, fitnah dan hinaan itu ditimpakan banyak orang, bagaimanakah cara menghindarinya di hari akhir kelak? Sebanyak apapun ibadah dan amal saleh yang dilakukan, juga sealim apapun seseorang, belum tentu bisa menghindari kebangkrutan semengerikan itu di hari akhir.

Jadi, kalau gajah mati meninggalkan gadingnya, dan harimau mati meninggalkan belangnya, untuk binatang tak ada episode lanjutan. Tak ada penghisaban. Tapi manusia mati sekalipun meninggalkan kenangan kebaikan dalam dada banyak orang, belum tentu selamat karena akan dihadapkan pada pengadilan akhirat. Terutama bila ternyata meninggalkan dosa jariyah yang dilanjutkan para pengagumnya, dan perbuatan zalim yang akan diancam dengan kebangkrutan di hari pembalasan. Ngeri. [Iwan Januar, Siyasiyah Institute]

 

 

 

Pos terkait