Sedikit tulisan ini bukan bermaksud untuk menggurui SobatPena sekalian ataupun merasa paling berkontribusi didalam dakwah ini. Tetapi sedikit tulisan ini tidak lain hanya untuk menjadi pengingat atau alarm untuk diri penulis agar selalu berupaya untuk berada di barisan dakwah yang mulia ini dengan menggunakan segenap keahlian serta kemampuan untuk terus ikut berkontribusi didalam dakwah untuk tegaknya Islam.
Teringat kisah salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang tidak begitu terkenal di khalayak umum seperti para sahabat nabi yang lain, tetapi peran dakwah dan pengorbanan beliau sangat luar biasa didalam Islam ini. Beliau adalah Amr bin Al Jamuh, ayahanda dari Muadz bin Amr. Putra beliau lebih dulu masuk Islam dan menjadi salah satu dari 70 peserta bai’at aqabah.
Dengan keterbatasannya, setelah masuk Islam beliau sangat gigih dalam mendakwahkan Islam. Yang paling dikenal dari sosok beliau adalah kedermawanannya dalam membaktikan hartanya di jalan Allah. Menjelang Perang Uhud, atas permintaan putra – putra Amr bin Al Jamuh, Rasulullah melarang beliau untuk ikut berperang, agar ia tetap tinggal di madinah, karena kondisi kakinya yang cacat (pincang). Tetapi Ketika datang saatnya Perang Uhud, beliau lalu pergi menemui Nabi SAW dan memohon kepadanya agar diijinkan ikut kedalam barisan pasukan uhud tersebut. Karena permintaan yang sangat keras, akhirnya Nabi SAW mengijinkan beliau untuk ikut. Dan beliau Amr bin Al Jamuh syahid dipertempuran uhud tersebut.
Dan masih banyak lagi kisah – kisah para sahabat Nabi SAW yang sangat luar biasa, yang dengan apa yang dimilikinya berusaha mengabdikan diri untuk dakwah Islam sampai akhir hayat.
Banyak juga kisah – kisah hebat yang patut kita teladani dari pendahulu ataupun para guru dan teman – teman kita di barisan dakwah ini. Dengan mengharap ridha Allah Swt, mereka dengan gigih mengazamkan diri dan bertekat kuat untuk menjadi bagian di barisan dakwah yang mulia ini. Bahkan tidak sedikit yang telah gugur di medan dakwah atas penyiksaan rezim dzalim di beberapa negeri muslim khususnya di Timur Tengah.
Melaksanakan tugas dakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Setiap pribadi muslim yang telah baligh dan berakal, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kewajiban untuk mengemban tugas dakwah.
Dakwah hakikatnya adalah upaya untuk menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan. Menyeru amar ma’ruf nahi munkar kepada seseorang maknanya adalah berupaya untuk menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan pada apa yang kita serukan, yaitu Islam. Karenanya, dakwah Islam tidak terbatas pada aktivitas lisan saja, tetapi mencakup seluruh aktivitas, baik lisan maupun perbuatan.
Dulu penulis membayangkan, kewajiban dakwah itu hanya terbeban kepada para orang – orang yang mahir dalam agama Islam, seperti kyai, gus atau orang – orang lulusan pesantren saja. Orang seperti penulis ini hanya menjadi target dakwah mereka. Dan dulu penulis juga beranggapan bahwa aktivitas dakwah itu hanya terbatas di atas mimbar dan di dalam masjid yang banyak peserta. Tapi ternyata anggapan itu salah, dakwah adalah kewajiban atas setiap individu muslim dengan kapasitas dan kemampuannya masing – masing.
Menyeru manusia ke jalan Allah SWT merupakan kewajiban sekaligus ibadah yang bisa mengantarkan pelakunya untuk dekat (taqarrub) dengan Allah Swt. Dakwah juga mengantarkan pelakunya bahwa kedudukannya di hadapan Allah adalah sangat tinggi. Allah SWT akan mengangkat keduduknnya di dunia maupun di akhirat.
Al Qur’an sendiri telah menjelaskan betapa urgennya dakwah Islam dan betapa butuhnya manusia akan dakwah Islam.
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” [TQS. Ali Imran : 110]
Rasulullah saw juga bersabda;
“Siapa saja di antara yang melihat kemunkaran, ubahlah kemunkaran itu dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan kalbunya. Yang demikian adalah perwujudan keimanan yang paling rapuh.” (HR. Muslim)
Melalui tulisan singkat ini, penulis mengingatkan diri penulis pribadi dan mengajak SobatPena sekalian untuk terus berkontribusi dalam dakwah Islam, khususnya dakwah mewujudkan kembali kehidupan Islam yang pernah ada. Dengan segenap kemampuan dan keahlian yang kita miliki, marilah kita terus gunakan untuk mendakwahkan tegaknya Dinullah di muka bumi ini. Jangan pernah merasa kecil dengan apa yang bisa kita konribusikan dalam dakwah ini, sekalipun kita hanya bisa membantu menggelar tikar atau hanya penata kursi di setiap kajian yang diadakan. Semoga Allah meridhai aktivitas kita dan semoga kita bisa istiqomah di barisan dakwah ini. [Jady Rembang]
Aamiin Ya Robbal Alamin…




