Gen Z Dalam Perangkap Kapitalisme

Generasi Z atau biasa disebut Gen Z adalah sebutan untuk generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, tumbuh di tengah perkembangan pesat teknologi dan ekonomi digital. Mereka menjadi saksi dan aktor utama dalam dunia online. Namun, dibalik kemudahan akses informasi dan berbagai peluang yang ada, generasi ini juga terperangkap dalam sistem kapitalisme.

Kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang berbasis pada produksi dan konsumsi barang dan jasa untuk memperoleh keuntungan, berpengaruh besar dalam membentuk pola pikir dan kebiasaan konsumen, terutama di kalangan Gen Z.

Bacaan Lainnya

Sistem ini dengan bantuan teknologi dan media sosial, sering kali membentuk cara mereka memandang nilai dan kebahagiaan, mengarah pada kehidupan yang terperangkap dalam lingkaran konsumsi dan mendorong mereka untuk mengadopsi gaya hidup materialistik.

Gen Z dikenal sebagai generasi yang sangat melek teknologi dan media sosial. Dengan adanya platform – platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube, mereka dapat dengan mudah terpapar pada gaya hidup konsumtif yang diperlihatkan oleh influencer dan selebritas. Kehidupan mereka sering kali terinspirasi oleh standar materialistik yang dipamerkan di dunia maya, yang selalu mengarah pada keinginan untuk memiliki barang-barang terbaru dan mengikuti tren gaya hidup yang dianggap keren atau kekinian.

Dalam dunia kapitalisme, iklan dan promosi selalu hadir di mana-mana, bahkan di ruang pribadi melalui ponsel pintar. Setiap aplikasi yang mereka gunakan memang dirancang untuk memaksimalkan konsumsi, dengan cara menunjukkan produk-produk yang relevan dengan minat dan kebiasaan mereka. Hal ini membuat Gen Z merasa terdorong untuk membeli, meskipun tidak selalu dibutuhkan. Di sinilah kapitalisme berhasil meresap dalam kehidupan mereka, mempengaruhi mereka untuk terus-menerus mencari kepuasan dari materi dan status sosial yang tercermin dari barang-barang yang dimiliki.

Salah satu karakteristik yang menonjol dari generasi ini adalah kecenderungan untuk menginginkan segalanya dengan cepat atau yang sering disebut sebagai “instant gratification”. Media sosial dan teknologi memungkinkan mereka untuk mendapatkan hampir semua hal dengan mudah dan cepat, mulai dari belanja online hingga memperoleh informasi atau hiburan. Hal ini mengarah pada pola pikir bahwa kebahagiaan bisa dibeli atau diperoleh dengan konsumsi barang atau pengalaman.

Di sisi lain, kebiasaan ini juga menciptakan masalah baru dalam hal kesehatan mental. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di media sosial dan menunjukkan gaya hidup mewah yang sering kali tidak realistis, menyebabkan kecemasan dan rasa tidak puas. Gen Z sering kali merasa bahwa kebahagiaan atau kesuksesan mereka diukur berdasarkan apa yang mereka miliki atau mereka kenakan, bukan dari pencapaian pribadi seperti prestasi akademik, hafal Al-Qur’an dan hal positif lainnya.

Hal ini menjadikan Gen Z menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Tanpa memperdulikan lagi apakah ditempuh dengan jalur yang halal atau haram. Karena selain dikepung oleh kapitalisme, mereka juga jauh dari agama akibat diterapkannya sekulerisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Sungguh kombinasi yang mematikan.

Untuk itu, penting bagi generasi ini untuk mulai mempertanyakan dan menyeimbangkan antara pencapaian material dengan pencapaian yang lebih bermakna dalam kehidupan mereka, guna menghindari jebakan gaya hidup materialistik yang merugikan. Karena pada titik tertentu, mereka pasti pernah merasa lelah untuk mengikuti gaya hidup konsumtif yang berputar sangat cepat dan tidak pernah melambat.

Dalam Islam, materi bukan menjadi tolok ukur kemuliaan.
Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”. (QS. Al-Hujurat 13)

Dengan mengubah pola pikir sesuai dengan ayat tersebut maka manusia tidak akan berlomba – lomba menumpuk kekayaan secara materi namun akan berlomba – lomba menjadi orang bertakwa.

Dengan perubahan pola pikir maka pola sikapnya juga akan berubah. Jika hal ini terjadi, maka akan mampu memutus mata rantai kapitalisme dan teman-temannya yang selalu membenamkan manusia pada kesengsaraan.

Gen Z dan generasi lainnya harus memiliki mindset bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah selaras dengan aturan agama, mampu memenuhi perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW, dapat masuk ke dalam surga dan diridai olehNya. Mindset ini harus disampaikan dan terus digulirkan kepada orang lain sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar. Semoga dengan itu seluruh generasi secara umum dan Gen Z pada khususnya mampu terbebas dari perangkap kapitalisme. [Ustadzah Arimbi]

Wallahu’alam bishowab…

Pos terkait