Kenapa seseorang bisa jatuh di lubang yang sama tidak hanya satu dua kali, tetapi berkali-kali?
Memang, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, baik dilakukan secara sengaja ataupun tidak disengaja. Seringkali kesalahan itu terjadi akibat kelalaian atau keteledoran manusia itu sendiri. Terkadang berbuat salah merupakan hal yang wajar bagi seorang anak Adam, mengingat manusia sendiri adalah tempatnya salah dan lupa. Kendati demikian, tidak wajar sebagai seorang mukmin berulang kali jatuh dalam kesalahan yang sama.
Nabi Muhammad saw pernah memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya.
لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ
“Seorang mukmin tidak boleh jatuh ke satu lubang dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Begitu pun juga dalam hal politik. Ambillah contoh setelah masa Reformasi. Harapan perubahan itu yang sangat diinginkan oleh para pelaku reformasi. Tentunya perubahan yang lebih baik dari kepemimpinan sebelumnya.
Tetapi setelah 26 tahun berlalu, banyak yang mengatakan jika kondisi saat ini tidak lebih baik bahkan lebih buruk dari pada kepemimpinan sebelum era reformasi. Tentu saja banyak acuannya mulai dari kondisi politik, ekonomi, dan lain-lain.
Belum lagi kondisi pemilih kita yang -maaf- kurang cerdas dalam menentukan pilihannya, mereka masih melihat apa yang tampak. Dan pada akhirnya, mereka yang bermodal besar, mampu beriklan, dan menyewa jasa Influencer ternama, yang masuk dalam radar pilihannya. Para pemilih tidak melihat lagi bagaimana _track record_ nya. Bahkan seorang koruptor pun bisa kembali terpilih menjadi wakil rakyat dari mereka 5 tahun kedepan.
Kenapa semua ini bisa terjadi? Apakah kondisi ini menandakan rakyat negeri ini terlalu baik? Mudah memaafkan? Atau mungkin rakyat negeri ini memang pelupa?
Pertanyaan inilah yang menggelayut didalam pikiran banyak orang, kok masih ada orang seperti itu di jaman dimana keterbukaan informasi sangatlah terbuka lebar seperti saat ini.
Tetapi walau bagaimanapun, hal ini memang ada dan bahkan banyak sekali orang-orang yang melakukan kesalahan yang sama dan diulang kembali terkait dengan pilihan politik. Ini artinya, negara telah gagal mengedukasi politik kepada rakyatnya. Ditambah lagi sistem penyaringan yang diadopsi negara ini sangat buruk, mereka yang berduit dan didukung para pemilik modal lah yang berpeluang besar. Hal ini tentu berdampak kepada peran partai politik, dimana partai politik menjadi abai dalam mempersiapkan kader-kader mereka yang mempunyai karakter baik. Karena di sistem yang dianut negara ini, baik saja tidaklah cukup kalau tidak mempunyai modal untuk berkompetisi.
Pada akhirnya rakyat lah yang menjadi korban, mereka harus bisa memilah atau memfilter sendiri terkait dengan pilihan politiknya. Inilah suatu kondisi yang sulit, dimana tidak semua rakyat negeri ini mempunyai kemampuan IQ yang sama dalam menentukan pilihan.
Tetapi kita sebagai Umat Islam, seharusnya sudah barang tentu mempunyai standar sendiri, yaitu baik dan buruk kita sandarkan kepada Syariat Islam. Dan sudah barang tentu memilih perubahan itu yang menuju kepada Islam, bukan yang lain. [Sahabat Pena: Jady Rembang]
Wallahu a’lam…





