Pahami Akar Masalah Sebelum Berubah

akar masalah

Masa – masa transisi kekuasaan di negeri ini tentu saja tidak semulus seperti apa yang diangankan oleh sebagian pihak, karena rezim satu dengan rezim pengganti tetap ada perbedaan pandangan dalam mengelola pemerintahan.

Tetapi sebenarnya mereka masih dalam jalur yang sama, yaitu berkutat di sistem yang dipakai oleh penguasa sebelum – sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Kalau ingin melakukan perubahan secara total, tentu harus mencari dahulu akar persoalannya, apakah akar persoalan itu ada pada person nya ataukah pada sistemnya. Kalau pada sistemnya, tentu pergantian person, apakah dia seorang ulama’, kyai, atau bahkan profesor sekalipun, tidak akan membawa perubahan yang hakiki. Ingat kata pak Mahfud MD, “Malaikat masuk ke dalam sistem Indonesia pun bisa jadi iblis juga,” [republika.co.id. Oktober 2013]

Saya pribadi sangat mengapresiasi siapa saja yang mempunyai itikad baik untuk melakukan perubahan. Tetapi, tentu semangat perubahan saja tidak cukup. Harus bisa membaca persoalan dengan jernih dan teliti, agar bisa pas dalam memberi solusinya.

Permasalahan yang ada saat ini adalah terkait dengan persoalan sistem yang dianut. Jadi solusinya adalah pergantian sistem. Sistem yang baik akan melahirkan aturan yang baik. Dan tentu akan melahirkan individu – individu yang baik pula.

Sistem apa itu yang bisa mewujudkannya? Ya, tentu saja hanya sistem Islam-lah yang bisa mewujudkannya. Apalagi negeri ini adalah negeri dengan penduduk mayoritas beragama Islam, tentu saja tidak mustahil untuk mewujudkannya. Walaupun banyak kekuatan jahat yang tidak menginginkan terwujudnya Syariat Islam diterapkan di Negeri ini.

Ya, lucu dan mengenaskan saja sebenarnya, kalau ada umat Islam yang paham akan Islam, tetapi tidak mau, bahkan ikut menghalang-halangi para pengemban dakwah yang ingin Syariat Islam diterapkan untuk mengatur negeri ini. Semoga mereka sadar akan kesalahan yang dilakukan agar azab Allah SWT tidak menghampiri dirinya kelak karena ikut berkontribusi memusuhi Islam. [Sahabat Pena: Jady Rembang]

Wallahu a’lam.

Pos terkait