Presiden AS, Donald Trump dalam pidatonya di Ruang Oval Gedung Putih menyatakan akan merelokasi warga Palestina ke Mesir dan Yordania. Bahkan, Trump memaksa kedua negara tersebut untuk menampung pengungsi dari Palestina. Namun, rencana relokasi tersebut ditolak tegas oleh Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan Raja Yordania Abdullah II.
Seperti diberitakan news.detik.com (31/01/2025) Akhir pekan lalu, Trump melontarkan gagasan untuk “membersihkan” Gaza setelah perang antara Israel dan Hamas, yang berkecamuk selama lebih dari 15 bulan terakhir, menjadikan wilayah Palestina itu bagaikan “area penghancuran“.
Dia mempertegas kembali gagasannya pada pada Senin (27/1/2025) waktu setempat. Trump menyatakan keinginan untuk memindahkan warga Palestina keluar dari Jalur Gaza, menuju ke lokasi-lokasi yang “lebih aman“, seperti Mesir atau Yordania.
Rencana Trump untuk memindahkan warga Palestina ke Mesir, Yordania, dan Negara Arab lainnya menuai kecaman dan protes keras. Tak hanya Negara Mesir dan Yordania yang menolak rencana tersebut, namun juga Presiden Palestina, Mahmoud Abbas mengecam tindakan Trump tersebut. Presiden Mahmoud menegaskan bahwa warga Palestina tidak akan meninggalkan tanah dan tempat – tempat suci mereka. Bahkan, Negara Jerman dan Prancis, yang termasuk sekutu AS di Eropa pun kompak menyebut rencana Trump itu tidak dapat diterima.
Tak ketinggalan juga Pemerintah Indonesia yang disebut-sebut akan dijadikan sebagai salah tempat untuk merelokasi warga Gaza, Palestina. Dilansir dari kontan.co.id (05/02/2025), Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri RI dengan tegas menolak rencana Presiden Amerika Serikat yang ingin merelokasi warga Palestina di Gaza. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Roy Soemirat, mengatakan Indonesia menolak segala upaya untuk secara paksa merelokasi warga Palestina atau mengubah komposisi demografis wilayah pendudukan Palestina.
Merampas Hak Negara Adalah Watak Penjajah
Sikap Presiden AS, Donald Trump kepada warga Palestina yang ingin mengambil alih Gaza dan merelokasi rakyat Palestina adalah tindakan perampasan hak negara dan merebut negara dari kepemimpinan yang sah. Dan itulah watak penjajah. Mereka menghalalkan segara cara agar bisa menguasai dan mengeksploitasi negara tersebut.
Apa yang terjadi di Palestina saat ini tidak terlepas dari peran AS yang ingin merebut dan menguasai tanah Palestina dengan mengirimkan Zionis Yahudi untuk melancarkan tindakannya tersebut.
Mereka melakukan penyerangan, perampasan, dan penganiayaan secara terstruktur dan terencana kepada rakyat Palestina dengan harapan mereka bisa meninggalkan tanah dan tempat tinggal mereka secara sukarela. Namun, upaya tersebut tidaklah berjalan mulus. Para pejuang Palestina yang tulus dan ikhlas mempertahankan tempat tinggal mereka dari penjajah Zionis Yahudi dengan bantuan dan peran AS.
Bahkan, ketika dunia mengecam keras atas tindakan tersebut, mereka seakan tidak memperdulikannya dan terus melakukan penyerangan tanpa henti sampai pada akhirnya mereka meredam berbagai kecaman dan protes dari berbagai negara dengan gencatan senjata yang bersifat ilusi dan manipulatif.
Penjajahan, Akar Masalah di Palestina
Genosida yang dilakukan oleh Zionis Yahudi kepada rakyat Palestina merupakan upaya untuk mengusir rakyat Palestina dari negara dan tempat tinggal mereka. Zionis Yahudi ingin menguasai dan menduduki wilayah Palestina karena mereka beranggapan bahwa Palestina adalah tanah warisan leluhur mereka.
Dalam melakukan genosida tersebut, Zionis Yahudi didukung penuh oleh Trump. Tidak hanya itu, Trump bahkan mengirimkan persenjataan dan logistik yang sangat besar kepada Zionis guna melancarkan aksinya tersebut. Tak heran jika Trump ikut mengatur strategi keji untuk melenyapkan rakyat Palestina dari negerinya.
Apa yang dilakukan Trump dan Zionis Yahudi beserta antek-anteknya kepada Palestina merupakan bentuk penjajahan yang harus dihilangkan dari muka bumi ini karena tindakan mereka telah menyebabkan puluhan ribu rakyat Palestina meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya luka – luka. Tidak hanya itu, tindakan mereka telah menimbulkan kerusakan parah pada infrastruktur dan bangunan – bangunan tempat tinggal warga Palestina.
Islam telah melarang segala bentuk penjajahan yang ada di muka bumi ini karena bertentangan dengan ajaran Islam dan menimbulkan kedzaliman dan kerusakan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf : 56)
Menurut Tafsir Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar dalam Kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir menjelaskan bahwa makna dari “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi” adalah tidak melakukan pembunuhan terhadap manusia, menghancurkan rumah-rumah, membunuh hewan-hewan dan menebang pepohonan, dan mengeringkan sungai-sungai. Sedangkan makna dari “Sesudah (Allah) memperbaikinya” adalah setelah Allah memperbaikinya dengan mengutus para Rasul, menurunkan kitab-kitab, dan menetapkan syariat-syariatNya.
Dari ayat dan tafsir di atas sudah jelas jika manusia dilarang berbuat kerusakan di muka bumi dalam bentuk apapun setelah Allah SWT mengutus Rasul-rasulNya yang membawa syari’at – syari’atNya.
Jihad dan Khilafah, Solusi Tuntas Penjajahan di Palestina
Penjajahan yang terjadi di Palestina akan berakhir jika diselesaikan dengan solusi yang tepat dan sesuai Syari’at Islam. Dan solusi satu – satunya yang bisa menyelesaikan masalah Palestina adalah dengan berperang (Jihad Fii Sabilillah) sebagaimana telah diperintahkan Allah SWT dalam Firman-nya yang berbunyi,
“Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj : 39-40)
Dari ayat di atas telah jelas bahwa Allah memerintahkan Umat Islam untuk memerangi orang – orang yang berbuat dzalim dan aniaya yaitu Zionis Yahudi dan antek-anteknya karena telah mengusir orang – orang Muslim dari negerinya tanpa alasan yang dibenarkan Syara’.
Namun, berperang (Jihad Fii Sabilillah) hanya bisa dilaksanakan dalam institusi negara Islam yaitu Khilafah. Oleh karena itu, keberadaan Khilafah menjadi hal yang penting dalam pelaksanaan Jihad. Khilafah akan menghentikan penjajahan dan dominasi Zionis Yahudi beserta antek-anteknya yang saat ini tengah terjadi di Palestina, bahkan di seluruh dunia manapun. Tidak ada yang bisa diharapkan selain Jihad Fii Sabilillah di bawah naungan Khilafah.
Wallahua’lam. [Abdul Shokib, ST., MM]





