Masyarakat Indonesia ini memang beragam dalam hal menerima informasi. Ada yang menerima 100 persen informasi yang masif beredar di media tanpa mencari tahu kebenarannya, dan ada juga yang menelaah dahulu informasi yang diterima. Namun, masyarakat yang menelaah informasi terlebih dahulu jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan yang menerima mentah – mentah informasi yang didapat walhasil menimbulkan salah persepsi yang ujung – ujungnya nanti akan menyebabkan kontroversial. Bahkan, ada yang sampai perpecahan.
Peran media memang sangat penting bagi para pesohor, tokoh politik, dan para pejabat dalam membangun citra untuk mendapatkan kepercayaan publik. Polesan demi polesan mereka publikasikan untuk meraih ambisi yang diinginkan. Walaupun faktanya jauh dari apa yang diinformasikan di media massa.
Hal tersebut bisa dilihat dari apa yang telah dilakukan pak Jokowi di akhir masa jabatannya. Ada tawaran yang menggiurkan untuk insan media dari pihak tertentu untuk mencitrakan kepuasan publik atas kinerja presiden dalam 10 tahun ini.
Majalah Tempo misalnya, mengeluarkan laporan utama berjudul ‘Operasi Memoles Citra’. Dalam laporan itu, Tempo menyampaikan bahwa menjelang Jokowi lengser, keluar instruksi mengkampanyekan keberhasilan pemerintah. Ada kontrak miliyaran rupiah ke media massa.
Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Setri Yasra, mengungkapkan pihaknya sempat mendapatkan tawaran kontrak kerja sama pemberitaan dari Kemenkominfo, yang berisi klaim keberhasilan Jokowi. [sumber: majalah.tempo.co].
Walaupun hal ini dibantah oleh pihak Kemenkominfo yang mengatakan bahwa setiap kali ada kerjasama dengan pihak manapun pasti akan ada dokumen resminya.
Selain itu, BBC News Indonesia mengonfirmasi ke sejumlah media terkait tawaran itu. Mereka mengakui adanya kerja sama pemberitaan dengan pemerintah senilai ratusan juta tanpa proposal tertulis untuk memberitakan kesuksesan pemerintahan Jokowi. [sumber: bbc.com]
Inilah gambaran pencitraan yang dilakukan oleh penguasa di negeri ini, bukan hanya setiap mau lengser, melainkan juga dilakukan kapanpun dan di momen apapun dalam rangka untuk menumbuhkan kepercayaan publik kepada diri mereka demi untuk memenuhi syahwat politik, walaupun apa yang diinformasikan jauh dari fakta yang sebenarnya.
Amal kebaikan yang hanya berorientasi pada popularitas duniawi akan bermuara pada penyesalan dan kehinaan di akhirat.
Nabi Muhammad saw bersabda;
“Siapa yang mengenakan pakaian ketenaran di dunia, niscaya Allah akan mengenakan padanya pakaian kehinaan di hari kiamat.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah).
Wallahu’alam… [Jady Rembang]





