Bekerjalah Untuk Duniamu Seakan Kamu Hidup Selamanya

Sebagian umat Islam memahami bahwa bekerja untuk dunia harus semangat seolah akan hidup selamanya sehingga membutuhkan harta yang banyak.

Hal ini karena salah memahami syair terkenal sebagai berikut:

Bacaan Lainnya

“I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.”
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.”

(Ungkapan di atas yang tepat bukanlah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana pernyataan Syaikh Albani dan ulama lainnya)

Padahal maksud syair tersebut bahwa untuk urusan dunia slow sewajarnya saja. Apa yang luput dari kita hari ini masih bisa kita kerjakan besok. Kalo hari ini belum selesai maka masih ada waktu besok. Jika besok belum selesai maka masih ada lusa. Lusa belum selesai masih ada pekan depan dan seterusnya. Yang penting kerja niatnya liLlaah dan serius. Bukan main main. Apalagi malas. Mengapa? Karena kita akan hidup selamanya. Masih banyak waktu. Karena seolah olah kita hidup selamanya.

Untuk urusan akhirat maka harus segera dikerjakan hingga tuntas. Seperti ibadah sholat misalnya. Sesegera mungkin dikerjakan. Utang puasa kalo ada maka sesegera mungkin dibayar. Zakat segara mungkin ditunaikan. Haji jika sudah mampu sesegera mungkin ndaftar. Ngaji harus segera dan semangat jangan lelet dan malas. Berdakwah juga harus segera jangan ditunda. Dan seterusnya. Mengapa? Sebab besok kita mati. Karena seolah olah kita besok akan mati.

Hal ini sesuai dengan hadits Baginda nabi Muhammad Saw:

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jika kamu memasuki sore hari, maka jangan menunggu pagi hari. Jika kamu memasuki pagi hari, maka jangan menunggu sore hari. Manfaatkanlah sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Bukhari, no. 6416).

Hidup di dunia sangat singkat maka kita harus selalu ingat akan negeri akhirat. Tempat kita pulang. Sebab dunia ini bukan kampung kita. Kampung kita di surga. Nah perjalanan ke negeri akhirat sangatlah jauh dan lama. Oleh karena itulah kita harus bersegera beramal agar cukup bekal dan bisa kembali ke kampung yakni surga.

Meski sebenarnya dalam Islam tidak ada pemisahan urusan dunia dan akhirat. Sebab tidak ada satu urusanpun yang tidak berlanjut ke akhirat yakni dari segi dosa dan pahala. Semua amal kita pasti dihisab dan diberikan imbalan baik berupa surga maupun neraka. Istilah ini dipakai hanya untuk memberikan sttressing mana perkara yang lebih dominan dirasakan oleh manusia.

Oleh karena itulah jangan sampai terjadi kalo ngaji engke heula nanti dulu. Tapi kalo bisnis langsung berangkat. Kalo kerja langsung go. Apalag ngaji dan dakwah jadi no sekian. Setiap bentrok jadwal maka ngaji dan dakwah jadi korban sedangkan kerja, bisnis dan keluarga duluan selalu menang dan duluan. Ngaji kalo sempat sedangkan kerja harus tepat. Na’udzubillah min dzalik. [Ustadz Abu Zaid]

Selamat berjuang Sobat. Ngaji yuk!
Selamat berjuang

Pos terkait