Ngaji Dan Dakwah, Hiburan Hakiki

ngaji

Mau hidup kita tetap semangat dalam kondisi apapun? Ngaji dan berdakwahlah. Mau hidup kita selalu terhibur? Ngaji dan berdakwahlah. Mau hidup kita ga selalu dibebani urusan dunia yang bikin pusing? Ngaji dan berdakwahlah. Mau hidup kita benar dan selamat? Ngaji dan berdakwah lah. Mau hidup kita mudah karena ditolong Allah? Ngaji dan berdakwahlah!

Kok bisa begitu? Ya bisa lah. Kenapa tidak? Bisa dijelaskan? Insyaallah bisa. Begini, perhatikan baik baik ya.

Bacaan Lainnya

Pertama, dengan ngaji membuat kita memahami tujuan hidup ini. Yakni untuk beribadah dan mencari ridho Allah. Kemudian dengan ngaji juga kita memahami bagaimana cara kita hidup yakni dengan mengikuti syariat Allah. Dengan ngaji pula kita memahami bahwa Allah lah satu satunya Yang diibadahi dan satu satunya Yang bisa menolong kita dalam keadaan apapun. Intinya dengan ngaji kita faham siapa kita, dari mana kita berasal, mau kemana kita, apa yang harus kita cari dan bagaimana caranya menjalani hidup ini. Semua clear. Sehingga kita bisa hidup dengan benar dan tenang.

Dalam surat Az-Zariyat Ayat 56 Allah berfirman:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu”

Kedua, dengan ngaji juga kita memahami kunci ketentraman hati sebagai mahluk Allah yakni qodho wal qodar. Siapa saja yang memahami dengan benar perkara ini maka hatinya akan tentram sebab kita faham betul siapa kita dan siapa Allah. Mana urusan yang menjadi bagian kita dan mana yang menjadi bagian Allah. Mana urusan yang kita dipaksa oleh Allah sehingga tak ada pilihan sama sekali dengan konsekuensi tidak dihisab diakhirat. Dan mana urusan yang kita diberi pilihan oleh Allah sehingga kita yang harus memilihnya dengan konsekuensi dihisab pada hari kiamat.
Dengan demikian kita tak akan ngambil bagian Allah yang pastinya kita tak akan mampu memikulnya sehingga berakibat stress bahkan frustasi bahkan depresi.

Misalnya dalam urusan rejeki, maka kita faham betul bahwa besar kecilnya rejeki sudah ditentukan oleh Allah dan itu sudah pasti untuk setiap mahluk tak kan tertukar atau keliru. Sehingga kita memahami bahwa usaha kita hanya menentukan apakah rejeki itu menjadi halal atau haram. Sama sekali tak berpengaruh terhadap banyak sedikitnya rejeki. Dengan demikian kita bisa tetap tenang dalam berusaha yakni menempuh jalan yang halal dan berharap keberkahan karena usaha tidak mengubah rejeki sedikitpun.

Dalam surah Thoha ayat 132 Allah berfirman;

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”

Juga dalam urusan kematian maka itu sudah Allah tentukan bagi setiap hamba. Tidak akan mati seseorang kecuali telah tiba ajalnya. Tidak akan cepat mati ketika kita berjuang menetapi kebenaran sebagaimana tidak akan bertambah panjang umur ketika kita bermaksiat kepada Allah.

Dalam surah an Nisa ayat 78 Allah berfirman:

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah“, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?”

Ketiga, ngaji juga membuat kita memahami problematika kehidupan ini dengan benar. Problem pribadi kita ini seperti apa. Problem umat Islam itu apa. Juga problematika kehidupan manusia secara keseluruhan itu seperti apa. Sehingga kita faham betul mana problem pribadi dan mana problem umat Islam. Apa saja kewajiban kita dalam problem pribadi dan apa saja kewajiban kita sebagai bagian dari umat Islam bahkan umat manusia seluruhnya. Jadi kita tahu persis mana yang menjadi tanggungan kita dan mana yang bukan dalam setiap problemnya.

Keempat, dengan ngaji pula kita faham bahwa kita wajib berjuang untuk mengurusi problem pribadi sebagaimana juga kita wajib mengurus problem umat Islam. Sementara kita juga faham bahwa urusan kita pasti Allah berikan kemudahan dan pertolongan jika kita melaksanakan nya dengan niat dan cara yang benar sesuai syariat baik urusan pribadi maupun urusan umat. Disisi lain kita juga memahami bahwa problem pribadi itu “kecil” semetara problem umat itu “besar”. Sehingga kita harus segera menyelesaikan urusan pribadi dan bersegera berjuang untuk menyelesaikan urusan umat. Maka disinilah kemudian muncul ungkapan bahwa dakwah adalah poros kehidupan. Bukan mengabaikan urusan pribadi namun bersegera menyelesaikan urusan pribadi sehingga mampu berjuang ditengah umat untuk menegakkan Islam.

Kelima, dengan dakwah kita dijanjikan Allah pertolongan dan kemenangan. Baik pertolongan untuk urusan pribadi maupun urusan umat Islam.

Allah berfirman dalam surah Muhammad Ayat 7:

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Belum lagi janji Allah dan RasulNya tentang betapa besarnya pahala bagi hamba yang berdakwah.

Dalam surat Ali ‘Imran Ayat 104 Allah berfirman:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menyeru kepada suatu petunjuk maka dia akan mendapat pahala sama seperti orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala yang mereka dapatkan sedikitpun”.(HR Muslim no 2406).

Nah, begitulah Allah menjadikan ngaji dan dakwah sebagai hiburan sejati bagi hambaNya. Bagaimana menjalani hidup dengan benar merupakan hiburan paling pokok karena menjadi sebab adanya hiburan dari Allah berupa pahala, pertolongan dan ridhoNya. Masih mau cari hiburan lain yang hanya pengalih perhatian kah? Tentu tidak bukan. Ngaji yuk! Dakwah yuk! [abu zaid]

Pos terkait