Paus Berkunjung ke Masjid Istiqlal, UIY: Toleransi Tidak Boleh Kebablasan

Menyikapi kedatangan pemimpin gereja Katolik dunia Paus Fransiskus ke Indonesia, termasuk kunjungannya ke Masjid Istiqlal di Jakarta, Kamis (5-9-2024), begini pesan penting cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY).

Penting untuk diingatkan, toleransi tetaplah harus memegang prinsip-prinsip akidah Islam, tidak boleh kebablasan,” tuturnya dalam akun TikTok @ismailyusanto, Jumat (6-9-2024).

Bacaan Lainnya

Ada tiga prinsip toleransi yang disampaikan UIY. Pertama, sebutnya, tidak boleh mengatakan semua agama sama benarnya dan semua agama sama-sama akan mengantarkan kepada jalan keselamatan.

Mengapa? Karena tugas kita sebagai seorang muslim, hanya Islam saja yang diridai oleh Allah dan siapa saja yang mengimani agama selain Islam itu akan tertolak,” ucapnya.

Ia mengutip surah Al-Maidah ayat 19,

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Kedua, imbuhnya, toleransi bukanlah partisipasi. “Toleransi diwujudkan dengan kita membiarkan mereka merayakan hari besar mereka, tidak boleh karena toleransi, kita berpartisipasi di dalamnya,” ujarnya.

Ketiga, tambahnya, toleransi jangan kebablasan. “Kita harus tetap memuliakan apa yang dimuliakan Allah dan menghinakan apa yang dihinakan Allah. Allah mengatakan, Allahu muhzil kafirin, yang artinya Allah menghinakan orang-orang kafir,” jelasnya.

Menurutnya, umat Islam tidak boleh bersikap sebaliknya. “Jangan sampai terbalik, satu sisi begitu memuliakan orang yang semestinya dihinakan karena dihinakan oleh Allah, sementara menghinakan orang yang semestinya dimuliakan sesama muslim. Apabila itu terjadi tentu ini toleransi yang tidak tepat, toleransi kebablasan,” urainya.

Bukan Hal Asing

UIY menyampaikan, soal toleransi, sesungguhnya bagi umat Islam bukanlah sesuatu yang asing. “Mengapa? Karena Islam dengan jelas mengajarkan kepada kita [tentang] sikap kita kepada mereka yang beragama selain Islam. Sejarah juga sudah membuktikan hal itu. Saat Islam menguasai dan memimpin suatu wilayah yang di situ terdiri dari berbagai agama,” ulasnya.

Ia mencontohkan, ketika Islam berkuasa di Spanyol lebih dari 700 tahun. “Para sejarawan menyebutkan sebagai Espanyol in three religion. Artinya, Spanyol dalam tiga agama. Ini karena Islam memimpin hidup damai sejahtera orang-orang Yahudi dan Nasrani. Bahkan, Karen Armstrong menyebut orang Yahudi itu enjoy their golden age under Islam in Andalusia,” ucapnya.

Begitu pula dengan negeri Indonesia, ungkapnya, toleransi umat Islam terlihat sangat nyata. “Lihatlah bagaimana tempat ibadah nonmuslim, baik dalam bentuk gereja, wihara, pura, ataupun candi tetap kokoh berdiri berbilang abad lamanya. Para pemimpin agama mereka bisa datang dengan leluasa. Itu adalah bukti nyata bagaimana toleransi dilakukan umat Islam,” tandasnya. [MNews/IK]

Pos terkait