Campur aduk. Itulah perasaan kita ketika menunggu peristiwa besar yang Agung. Peristiwa sejarah yang akan mampu menjungkirbalikkan kekuasaan dunia. Yang mampu mengembalikan kapitalisme ke tempat sampah peradaban dunia tempat yang paling layak baginya.
Campur aduk antara penatnya kelelahan setelah merasa menempuh perjalanan panjang. Dan besarnya harapan hadirnya kehidupan yang sesuai cita cita kaum mukmin yakni menangnya al haq dan hancurnya al batil. Memangnya kebenaran dan kehancuran kebatilan.
Namun ternyata menunggu itu memang melelahkan. Silih berganti antara rasa lelah dan binar gembira kemenangan. Sambil berupaya membuka pintu gerbang yang masih tertutup.
30 tahun terakhir perjuangan itu begitu masif. Kesadaran umat terus meluas. Opini khilafah terus menyebar menembus batas batas yang beluk pernah terjadi sebelumnya. Para ulama mukhlis pun berbondong bondong bergabung dengan gerbong para pejuang.
Desakan dan gedoran kesadaran umat yang begitu kuat mampu mengguncangkan singgasana rejim antek penjajah. Mereka sangat ketakutan. Hingga kehilangan nalar menghadapi gelombang besar dakwah khilafah. Dibawah bimbingan para penjajah maka lahirlah berbagai proyek untuk menggagalkan perjuangan umat. Ada proyek War on terrorism, ada proyek deradikalisasi dan yang terbaru moderasi beragama.
Mereka lupa bahwa semua upaya penghadangan itu pasti gagal. Setiap upaya mereka hanyalah pelengkap kondisi untuk proses mematangkan perjuangan besar ini. Semua itu akan jadi penyesalan besar mereka di dunia ini terlebih di akhirat kelak.
Meski terasa penat dan lelah. Maka para pejuang khilafah akan tetap menikmati setiap proses menuju terbukanya gerbang kemenangan. Yakni berdirinya khilafah. Bahkan seandainya itu harus 1000 tahun lagi.Mengapa? Karena kami sudah berjanji kepada Allah, Rasul-Nya dan orang orang mukmin. Dan janji itu lebih berharga daripada nyawa kami.
Surat Al-Ahzab Ayat 23
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”
Maju terus Sobat. Hasbunallahu wani’mal wakil. [abu zaid]




