Yang Berguguran Dari Jalan Dakwah, Dakwah Sebuah Ujian

Sobat dakwah, hidup dan mati kita adalah ujian. Sebagaimana firman Allah SWT:

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk : 2)

Bacaan Lainnya

Kita diuji dengan perintah dan larangan. Diantaranya adalah kewajiban berdakwah. Bukan sekedar dakwah namun dakwah berjamaah dalam perjuangan untuk menegakkan khilafah. Ujian apakah kita mau mentaati Allah dan RasulNya untuk melaksanakan dakwah? Kemudian apakah kita taat juga tentang bagaimana metode dalam berdakwah? Atau apakah kita mau mentaati nabi Muhammad Saw dalam menentukan prioritas tujuan dakwah? Dan seterusnya.

Tentu saja dakwah ini menuntut konsekuensi kita harus mengorbankan apa yang kita miliki baik waktu, tenaga, pikiran, ilmu maupun harta. Bahkan juga keluarga. Disinilah kita diuji oleh Allah apakah kita serius mau berdakwah atau tidak. Apakah kita siap dan sedia mengorbankan waktu, tenaga dll untuk dakwah atau tidak. Apakah kita mau menjadikan dakwah sebagai poros hidup sebagaimana teladan Nabi Muhammad Saw? Ataukah kita malah menjadikan dakwah sekedar sambilan saja? Semua ini adalah ujian.

Nah, ujian selanjutnya adalah apakah kita akan tetap mau berjuang di Medan dakwah ini hingga maut menjemput ataukah akan meninggalkan dakwah di tengah jalan? Pendek kata ujian demi ujian datang silih berganti di Medan dakwah ini.

Dalam keseharian dakwah pun tak sepi dari ujian baik dari diri sendiri, dari kawan seiring, dari guru yang mendidik kita atau faktor diluar dakwah misalnya ujian dari sisi pekerjaan, bisnis atau keluarga. Semua bisa datang silih berganti. Satu selesai yang lain menyapa. Satu nya pergi yang lain menanti. Dari yang kita anggap kecil dan ringan hingga yang kita pandang besar dan berat. Datang silih berganti hingga kita mati.

Berharap dakwah akan baik baik saja tanpa masalah adalah khayalan akibat tipuan syetan. Sikap seperti ini disamping merupakan kebodohan juga berbahaya. Kebodohan karena tak akan sesuai fakta. Dan berbahaya sebab menjadikan kita lalai dan tidak siap menghadapi realitas sehingga akan mudah kaget, sulit menerima, susah mencari solusi hingga akhirnya berputus asa dan berhenti dakwah. Na’udzubillah min dzalik.

Dalam ujian inilah akhirnya ada saja yang gugur dari jalan dakwah. Entah secara sadar atau tidak dengan berbagai alasan kemudian berhenti dari dakwah. Na’udzubillah min dzalik.

Ya Allah ampunilah kami. Ampunilah kurang nya niat dan upaya kami. Ampunilah kami yang lemah, bodoh dan hina ini. Tolonglah kami dengan Istiqomah dan kemenangan dengan khilafah. Aamiin ya rabbal alamin. [Ustadz Abu Zaid R]

#Ngaji yuk!

Pos terkait