Walau dah lewat, ya tetap harus saling mengingatkan bukan? Bukankah selama nafas masih berhembus, jantung tetap berdegub, nyawa masih urung ajalnya menjemput, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran ialah intisari dari ajaran mulia ini.
Bagaimana tidak? Bahwasanya ia mencakup semua persendian hidup. Mulai dari brojol sampai seperti yang saya sampaikan di atas, yaitu koid bin mati, ada tuh aturannya. Pasti ada. Adapun kalau belum tahu, ya itu soal lain, bisa jadi karena kita yang kurang belajar.
Ya, demikian juga soal pandangan hidup dalam bab percintaan. Yang didalamnya begitu pelik untuk diungkapkan, silahkan saja Anda mendefinisikan, baik cinta itu buta, atau cinta menguatkan. Ijinkan saya mengambil sudut pandang Islam yang hingga kini saya pahami. Jika keliru, datangnya dari kelemahan saya sebagai hambaNya, dan bila benar semoga kita dapat belajar bersama.
Beberapa hari yang lalu telah lewat tuh 14 Februari, yang diagung-agungkan sebagai hari kasih sayang. Kalau yang ngomong non Muslim sih ya wajar, sebab sejarah telah mencatat sebagaimana dikutip dari cnnindonesia.com (14/02/2025) bahwasanya memang dari Pendeta Kristen ya gaes, dan jauh sekali dengan ajaran Islam.
Di Jepang -saya tahunya dari anime Detective Conan-, perempuan muda biasanya memberikan coklat kepada pria yang disukainya. Kalau di kita yang gampang fomo-an, ya akhirnya cenderung ikut-ikutan dan malah berlebih-lebihan. Bahkan, banyak publik figure menikah di hari itu.
Banyak promo-promo coklat, boneka, gift cantik menghiasi swalayan, ya entah motifnya aji mumpung pas momentum valentine untuk menggenjot penjualan ataukah karena sebab lain. Namun yang pasti bahwa apapun merk yang Anda tawarkan yaitu budaya – budaya yang menuju kemaksiatan. Jelas itu bukanlah hal yang baik.
Valentine yang dimaknai publik figure serta remaja fomo sebagai hari kasih sayang, sejatinya ialah bahasa halus dari kemaksiatan bernama pacaran. Sama lah kayak orang menyebut bunga padahal itu riba.
Ya, pacaran ialah jalan tol menuju kemaksiatan lain yang lebih besar, bagaimana dengan mudahnya gadis muda yang dijejali informasi murahan di tiktok, dengan mudahnya klepek-klepek digombalin pria muda miskin komitmen yang datang membawa sekuntum mawar, dengan gampangnya campakkan rasa malu hanya dengan hadiah boneka beruang beserta sebatang coklat ditambah ungkapan “you’re my love, you’re my valentine” dan bejibun kata-kata manis dari mulut buaya buntung bersosok lelaki yang hidup di daratan.
Valentine dan pacaran ialah problematika atas buah sekulerisme, yang memisahkan agama dari kehidupan dan sepaket dengan isme – isme lain yang dijejalkan di banyak negeri kaum Muslim. Valentina bukan budaya kita.
Jauh-jauh nabi sudah ingatkan,
“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Musim – Shahih)
Ya kalau diteruskan apa-apa dari mereka ya kita ikuti, sadar ataupun tidak. Pacaran juga sama, hubungan sebelum halal sebelum nikah itupun, banyak mengakibatkan kemaksiatan lain yang lebih ngeri, contohnya seperti hamil di luar nikah. Diawali berdua-duaan, pegangan tangan, hingga akhirnya berzina, kemudian hamil diluar nikah. Malu pasti. Aborsi dilakukan. Kalaupun tidak, ketika anak lahir siapa pula jalur nasabnya berlabuh? Pada ayah biologisnya? O, tidak bisa Ferguso. Makanya, jauhilah pacaran, beraaaaat.
Namun, mari kita tarik dan hembus nafas dengan dalam, betapa pelik dan ngeri masalah ini. Apakah ada solusi? Ada insyaaAllah. Ya Islam, way of life.
Dalam ranah keluarga, mari kita ajarkan pendidikan seks sejak dini pada anak-anak, tentang mahram, tentang baligh, tentang laki-laki dan perempuan pada asalnya hukumnya terpisah dan halal setelah ada pernikahan, tentang menutup aurat, tentang jangan pacaran dan buanyak lagi.
Juga, di masyarakat harus selalu berusaha mengingatkan keluarga, saudara dan masyarakat serta memberikan edukasi tentang bahaya paket combo pacaran dan valentine, namun yang lebih penting tentu institusi yang lebih tinggi, yang memayungi berbagai macam urusan dan solusi bagu masyarakat, yg bernama negara untuk hadir dalam menjaga masyarakat dari segala bentuk kemaksiatan, dari dosa yang dapat murka Alah, dari kerusakan maksiat pacaran. Dengan memberi hukuman dan tindakan preventif kepada rakyatnya. Dengan memblokir tontonan negatif, pornografi dan hukuman setimpal bagi pelaku zina.
Wallahua’lam. []




