Ada sebagaian orang mengklaim bahwa para ulama dahulu seolah tak terlalu memperhatikan cara berdakwahnya apakah halal ataukah haram yang penting dakwah berhasil. Tentu saja anggapan ini gegabah. Karena bagi para pejuang Islam berdakwah pastilah untuk mencari ridho Allah sehingga mutlak mengharuskan terikat dengan syariat Allah. Tak boleh melanggar sedikitpun.
Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan bukanlah ajaran Islam. Bahkan itu ajaran kapitalis yang berpegang kuat pada hawa nafsu. Wajar saja jika mereka hanya mengejar hasil tanpa melihat proses.
Dalam berdakwah ada dua aspek yang harus diperhatikan:
1. Niat, bahwa niat dakwah mestinya adalah liLlaah hanya karena Allah. Yakni hanya dalam rangka melaksanakan perintah Allah SWT. Sama sekali bukan untuk tujuan yang lain. Tidak boleh karena ingin menang terhadap musuh.
2. Cara berdakwah, yakni bagaimana melaksanakan kewajiban dakwah. Yakni apa yang mesti di lakukan dalam dakwah. Maka ini termasuk amal yang harus terikat dengan syariat. Tidak boleh melakukan dakwah dengan melanggar syariah. Misalnya dakwah dengan konser musik yang campur baur laki laki dan perempuan. Atau menggabung dakwah dengan berbagai aktivitas yang haram lainnya. Apalagi dengan mencampuradukkan dengan kesyirikan dll.
Sementara tujuan dakwah sebagai sebuah kegiatan perubahan maka itu adalah perkara yang juga diperhatikan. Dalam mengatur strategi dakwah wajib memperhatikan bagaimana agar tujuan ini tercapai.
Untuk saat ini tujuan dakwah adalah isti’naful hayatil islamiyah, yakni melanjutkan kembali kehidupan Islam di muka bumi. Dengan bentuk konkrit metodenya adalah dengan menetapkan syariah kaffah dalam sistem khilafah. Hingga jelas bahwa khilafah itu bukan tujuan tapi merupakan metode penerapan Islam kaffah.
Hanya saja tetap bahwa bagi seorang pejuang dakwah itu tetap untuk mencapai ridho Allah sehingga tidak boleh melanggar syariah demi tujuan dakwah. Yang paling penting justru tetapnya seorang pejuang diatas kebenaran. Karena yang akan dihisab Allah adalah amal yang telah dilakukan bukan apakah dakwah nya sudah berhasil ataukah belum. Maka yang paling penting adalah apakah amal dakwahnya sudah sesuai dengan syariah atau tidak. Bukan apakah dakwahnya sudah mencapai hasil ataukah belum.
Surat az-Zalzalah Ayat 7-8
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”
Begitulah Islam tidak mengajarkan prinsip menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dakwah.
Andromeda, galaxy terdekat dengan kita sedang menampakkan kecantikannya. Dakwah kita jauuuuuh melampaui Andromeda karena sampai ke akhirat. Ngaji yuk! [Ustadz Abu Zaid]




