Ujian Pengemban Dakwah

Dalam kehidupan dakwah ada saja para aktivis yang berguguran bagai daun dari sebatang pohon (Semoga kita termasuk yang ditolong Allah hingga bisa Istiqomah). Kondisi ini memunculkan rasa sedih. Orang orang yang bersama dalam perjuangan suka duka satu dua gugur ga istiqomah. Rasanya bagaimana gitu yah. Berat sekali tentu saja.

Namun itu adalah proses alami. Selama seorang guru melakukan tugasnya dengan baik dalam mengurus dan mendidik murid muridnya maka kejadian itu ga masalah. Wajar adanya. Sebagaimana daun daun yang gugur akan segera digantikan oleh daun yang baru selama pohon tetap sehat dan bugar. Demikianlah selama dakwah tetap sehat berguguran nya beberapa aktivis tidak masalah.

Bacaan Lainnya

Setiap aktivis dakwah akan diuji dalam komitmennya. Apakah dia akan tetap setia pada aqidahnya ataukah lebih setia kepada kepentingan pribadinya. Apakah dia lebih cinta akhirat atau kah lebih cinta dunia. Meskipun berjuta alasan bisa saja masuk akal.

Alasan yang sering kita dengar adalah karena sibuk. Padahal kalo perkara sibuk semua orang pasti sibuk. Bahkan pengangguran pun sibuk. Minimal sibuk berkhayal kalo kalo sudah jadi orang kaya mau bikin apa.

Apalagi ngurus keluarga, ngurus kerja, ngurus orang tua, ngurus bisnis dll pastilah sibuk. Ga mungkin ga sibuk. Oleh karena itu sebagai aktivis kita harus nya mendefinitifkan kegiatan harian kita. Jam berapa bangun tidur terus aktivitas a, b, c, d,….dst sampai tidur lagi. Ini kita susun untuk satu pekan. Begitu seterusnya maka akan npal bahwa kita punya waktu waktu kosong hari apa saja dan jam berapa saja. Sehingga mudah memadupadankan dengan aktivitas dakwah. Simpel bukan?

Ini kalo kita masih mau berjuang. Jika tidak maka paling mudah menjadikan sibuk sebagai alasan. Tanpa perlu melakukan perincian seperti itu. Tinggal bilang saja afwan saya sibuk kepada Guru. Selesai.

Dalam kondisi ini aktivis dakwah perlu dicas. Baik ngecas mandiri maupun oleh kawan kawan sesama aktivis. Meskipun ngecas mandiri itu jauh lebih efektif daripada dicas orang lain.

Bagaimana caranya ngecas mandiri? Perbarui dan perkokoh aqidah. Dengan cara memperbarui ilmu kita tentang aqidah.Ngaji jangan sampai putus. Baik yang rutin maupun temporal. Juga baca kitab kitab aqidah untuk memahami dalil dalil yang menyertainta sehingga aqidah makin kokoh dan kuat. Kaji juga sirah Nabi Saw dan juga sirah para sahabatnya. Maka tergambar jelas bagaimana manusia manusia pilihan itu berjuang hingga mencapai derajat mulya di sisi Allah.

Kemudian ditopang dengan ketaatan tanpa tapi tanpa nanti. Itu akan memperkuat jiwa kita untuk tetap taat khususnya dalam mengarungsi medan dakwah. Baik dalam bentuk menjalankan perintah maupun menjauhi larangan Allah. Termasuk dalam melaksanakan aktivitas dakwah. Dengan begitu maka Allah akan menolong kita dengan keteguhan dan keistiqomahan. Makin hari makin kuat dan kokoh insyaallah.

Demikianlah Allah berfirman dalam hadits Qudsi bahwa hamba yang mentaati Allah dalam yang wajib maupun sunnah akan dicintai Allah kemudian ditolong oleh Allah dengan keteguhan telinga, mata, kaki dan tangan untuk tetap lurus di jalan Allah.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.”

Kelengkapan hadits ini adalah:

“Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya.” ( Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhâri, no. 6502; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ‘ , I/34, no. 1; al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra, III/346; X/219 dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 1248, dan lainnya).

Semoga Allah kokohkan kaki kaki kita dalam menapaki jalan dakwah ini. Dan menolong kita dengan kemenangan yang sudah dijanjikanNya. Allahu Akbar! [Ustad Abu Zaid R]

Pos terkait