Aksi yang bertajuk ‘Indonesia Gelap‘ mendapat tanggapan dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sekaligus mantan Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan, dia mengatakan bahwa yang disebut gelap adalah mereka yang menyebut ‘Indonesia Gelap’.
“Kalau ada yang bilang Indonesia gelap, yang gelap kau, bukan Indonesia,” ujar Luhut dalam acara The Economic Insights 2025 di Jakarta, Rabu, 19 Februari 2025, seperti dikutip dari Antara, (tempo.com).
Miris sebenarnya melihat sikap para pejabat yang katanya pelayan masyarakat ketika mendapat kritik. Mereka menunjukkan ketidakdewasaan dalam bernegara. Tidak hanya itu, kemarin Wamen Kemnaker RI, Immanuel Ebenezer, juga melontarkan perkataan yang tidak dewasa dalam menanggapi tagar #KaburAjaDulu.
Seharusnya pemerintah berterima kasih kepada masyarakat yang masih mau memberikan kritiknya, karena kritik tersebut merupakan bentuk rasa peduli terhadap pemerintah. Selain itu, sebuah kritik bisa menjadi bahan evaluasi pemerintah beserta jajarannya selama diberi tanggung jawab untuk mengurus urusan rakyat. Bukan malah menyerang balik pengkritik dengan sikap ataupun kata yang seharusnya tidak layak keluar dari mulut seorang yang digaji hasil dari keringat rakyat, yaitu pajak
Kritik adalah bagian yang tak terpisahkan dari kepemimpinan siapa pun, tak peduli sehebat apapun pemimpin itu, pasti akan menghadapinya. Bahkan, para khalifah besar dalam sejarah Islam yang dikenal bijak dan adil, tak luput dari koreksi dan teguran rakyatnya.
Yang paling terkenal adalah kisah Khalifah Umar bin Khattab yang diprotes seorang wanita terkait dengan persoalan mahar. Setelah dikritik akhirnya Khalifah umar membatalkan keputusannya atas batas mahar diatas 400 dirham itu.
Pada zaman berdirinya kekhilafahan di dunia, kisah umat yang mengkritik penguasa bukan hanya terjadi pada waktu Khalifah Umar bin Khattab saja, namun cukup sering dilakukan oleh rakyat di Daulah Khilafah.
Seharusnya ini bisa menjadi pelajaran besar bagi seseorang yang dipundaknya telah diberi amanah dan tanggung jawab besar untuk mengurus rakyat. Agar lebih bijak dalam bersikap ketika menghadapi kritik dari rakyat. Kalau memang kebijakan yang diambil itu merugikan rakyat, ya sudah seharusnya kebijakan itu dibatalkan seperti apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar. Bukan malah sebaiknya, rakyat yang dikorbankan atas kebijakan yang jelas-jelas merugikan rakyat.
Ingat akan sabda Rasulullah saw, pemimpin yang dzolimi akan ditempatkan di sumur Habhab pada sebuah lembah neraka.
“Sesungguhnya di dalam neraka Jahanam itu terdapat lembah, dan di lembah itu terdapat sumur yang bernama Habhab. Allah pasti akan menempatkan setiap penguasa yang sewenang-wenang dan menentang kebenaran di dalamnya.” (HR Ath Thabrani, Al Hakim, dan Adz Dzahabi)
Wallahu’alam. [Jady Rembang]

