Sobat, seringkali harapan kita kepada kawan kawan sesama pengemban dakwah terlalu besar. Kita berharap kawan kita itu selalu benar tak boleh salah. Karenanya ketika kita lihat dia melakukan kesalahan dan dosa kemudian kita begitu kecewa hingga membencinya dan menjauhinya. Atau pas kita membutuhkan bantuannya ternyata dia tak bisa membantu kemudian kita pun kecewa bahkan patah hati. Bahkan ada yang tak mau ngaji dan dakwah lagi sebab kecewa seperti ini.
Padahal kawan kita manusia biasa yang pastinya tak ma’shum. Dia hanyalah seorang mukmin yang berupaya Istiqomah di atas agamanya sebagaimana diri kita. Yang senantiasa berupaya tersenyum ramah saat jumpa kita. Dan berupaya membantu jika kita membutuhkannya. Namun pastinya tidak bisa setiap saat selalu benar dan lurus. Kawan kita juga sedang berjuang memikul beban hidupnya bersama anak, istrinya dan orang orang yang sedang ditanggungnya misalnya bapak dan ibunya.
Seringkali pula kita berharap terlalu besar kepada guru guru kita seolah olah beliau beliau tak kan mungkin berbuat salah. Beliau beliau akan selalu bisa mendampingi kita dalam menjalani proses ngaji dan dakwah. Beliau beliau selalu bisa menyapa ramah setiap berjumpa. Beliau beliau selalu bisa membantu kita menyelesaikan setiap persoalan hidup yang kita pikul. Ketika suatu saat kita merasa beliau beliau tak bisa memberikan respon segera saat kita membutuhkan bantuan maka kemudian kita pun kecewa berat bahkan muncul ketidaksukaan hingga membuat tak semangat ngaji dan dakwah lagi.
Padahal guru gitu kita pun manusia bisa seperti kita. Beliau beliau juga tengah memikul beban berat kehidupan dalam mengurus keluarganya, anak, istri dan kedua orang tuanya. Beliau beliau juga menanggung beban sebagaimana kita. Beban kehidupan sehari hari yakni menjamin keluarganya tetap tidak lapar, bisa mbayar kontrakan, juga bisa mbayar biaya pondok putra putrinya. Atau bahkan sedang berjuang juga untuk membiayai putra putrinya yang sedang kuliah.
Disisi lain guru guru kita dituntut untuk melaksanakan kewajibannya jauh lebih berat dari kita. baik tanggung jawab ngisi ngaji maupun dakwah. Beliau masih berupaya untuk mengurus kita para muridnya dengan baik full 24 jam tanpa kenal batas waktu. Dengan segala beban dan resiko yang hanya beliau sendiri memahami betapa beratnya. Sebab beliau beliau tak mungkin cerita atau curhat ke kita murid muridnya tentang kesulitan hidupnya. Sementara kita masih mending kan bisa cerita dan curhat kepada guru guru kita.
Pendek kata pengemban dakwah baik para guru yang mulia maupun kita para murid semua manusia biasa. Dengan kondisi manusia biasa juga yakni:
- Pengemban dakwah tidak ma’shum bisa salah dan bisa lupa. Suatu saat bisa lalai atau tergelincir hingga melakukan kesalahan dan dosa baik disengaja maupun tidak. Maka merupakan suatu yang mustahil kita berharap kawan dan guru kita akan selalu benar dan tidak pernah salah. Meskipun harapan itu tak terkatakan oleh kita dan muncul dalam diri tanpa kita sadari. Yang tepat mestinya kita saling menjaga, saling menasehati, saling mendukung hingga bisa lebih Istiqomah dalam menjalani hidup dan perjuangan ini. Jika ada kawan atau guru kita salah maka kita berikan nasehat atau kita ingatkan dengan cara yang baik dan kita doakan semoga Allah ampuni dan berikan petunjuk. Kita tetap merapat bersahabat dengannya selama dia bukan orang orang fasik yakni pelaku dosa dosa besar secara terang terangan.
- Pengemban dakwah juga memikul beban kehidupan sebagimana manusia biasa yang lain. Mereka juga harus bekerja mencari maisyah. Menanggung urusan keluarga dengan membiayai semua kebutuhannya seperti juga kita manusia biasa. Sama sama menjalani kehidupan yang tidak mudah dalam sistem kufur materialistis saat ini. Sama dengan kita. Sehingga jika kawan kawan dan para guru tidak bisa memberikan bantuan terhadap urusan pribadi kita pada saat kita perlukan maka kita pun maklum dan berbaik sangka. Dan kita berupaya menyelesaikan urusan kita dengan harapan penuh bahwa Allah pasti menolong kita.
- Sebagai pengemban dakwah kita mesti berupaya betul untuk ikhlas karena Allah. Kita jadikan Allah satu-satunya tujuan perjuangan kita. Kita jauhkan betul betul pengaruh manusia dalam hal ini. Sementara jika ada kebaikan, perhatian, kelembahlembutan dari kawan kawan atau guru kita maka itu semua adalah bonus saja. Artinya sekalipun tidak ada satupun manusia yang memperhatikan kita. Andai tak satupun manusia membantu saat kita perlukan. Kita tidak peduli. Karena kita hanya berhubungan dan berharap kepada Allah bukan kepada manusia yang lemah.
- Sebagai pengemban dakwah kita harus mengokohkan niat kuat dan berupaya semampu kita untuk siap sedia membantu meringankan beban saudara saudara seperjuangan sesuai kemampuan kita. Dengan harapan hanya kepada ridho Allah. Kita tak peduli apakah pertolongan kita ditanggapi baik atau tidak. Apakah jikalau kita yang membutuhkan kemudian dibantu atau tidak. Karena semua adalah karena Allah.
- Sebagai penngemban dakwah kita sebagai manusia biasa harus tetap berupaya agar bisa berjuang maksimal ditengah segala urusan pribadi. Tetap berupaya fokus menjadikan ngaji dan dakwah adalah poros hidup kita dimana semua urusan pribadi beredar mengelilinginya. Tentunya maksimal sesuai peran dan tanggung jawab masing masing.
- Sebagai pengemban dakwah senantiasa kita berdoa siang malam untuk tiga perkara. Pertama untuk kemenangan Islam wal muslimin dengan tegaknya khilafah rosyidah ala minhajin nubuwwah. Kedua keselamatan, kesehatan, keberkahan dan kemudahan untuk urusan kita sekeluarga. Anak anak yang Sholih dan keselamatan hingga ke jannatil firdaus. Ketiga, mendokan seluruh kaum muslimin dan khususnya para pejuangnya. Lebih khusus lagi para Mujahidin dan para pengemban dakwah. Untuk orang orang istimewa kita bisa sebutkan nama namanya satu persatu misalnya guru kita dan kawan kawan ngaji kita.
Alangkah indahnya jika dalam kebersamaan kita dalam perjuangan ini kita dimampukam oleh Allah SWT untuk merealisasikan sabda Baginda Rasulullah Saw ini:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat.
Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat.
Siapa yang menutupi seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat.
Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya.
Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga.
Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Siapa yang lambat amalnya, maka bagusnya nasab tidak dapat mengejar ketertinggalan amal.” (HR. Muslim, no. 2699).
Oleh karena itulah sobat, saya juga adalah manusia biasa. Maka jika ada segala hal ihwal dalam diri saya yang tidak sesuai harapan Sobat semua saya sampaikan permohonan maaf yang sebesar besarnya. Semoga Allah mudahkan semua urusan kita sekeluarga. Semoga kita diampuni dan dikasihi oleh Allah SWT. Aamiin. Selamat berjuang Sobat. [Ustadz Abu Zaid R]




