Pernah tidak Ayah Bunda ngecek Grup LGBT di media sosial? Grup media sosial di daerah Anda tinggal ya… Kalau belum cobalah cek, nanti Anda akan dibuat tercengang.
Memang anggotanya tidak besar dibanding jumlah penduduk disuatu Kabupaten, tetapi hal itu sudah bisa membuat dahi Anda berkerut. Walaupun saya yakin, tidak semua anggota grup tersebut mempunyai perilaku menyimpang. Mungkin ada yang hanya ingin tahu, atau ingin mengamati pergerakan mereka saja.
Indonesia Berpenduduk Mayoritas Beragama Islam
Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Suara adzan berkumandang 5 kali dalam satu hari, pesantren ada di setiap daerah, dan setiap tahun kita memperingati hari – hari besar Islam. Tetapi di tengah – tengah itu, ada fenomena yang makin terang – terangan pergerakannya, yaitu perilaku dan propaganda LGBT.
Dulu, perilaku menyimpang ini dilakukan secara sembunyi – sembunyi karena dianggap aib dan tabu. Tetapi sekarang beda, ada Komunitas yang terang – terangan bikin acara, diskusi, sampai perayaan. Yang lebih parah lagi, media dan konten kreator ikut menormalisasi lewat film, series, lagu, dan konten TikTok. Pelan-pelan ditanamkan “ini normal”, “ini hak asasi“, “jangan diskriminasi“.
Belum lagi campur tangan asing yang masuk lewat dana hibah, LSM, dan beasiswa. Ada agenda global untuk menjadikan penerimaan LGBT sebagai tolok ukur “negara modern” dan “HAM“. Hasilnya, yang dulu malu, sekarang bangga. Yang dulu dikritik, sekarang yang mengkritik dituduh “intoleran“.
Kenapa Bisa Terjadi di Negeri Mayoritas Muslim?
Paling tidak ada tiga celah besar, yang pertama adalah pemisahan agama dari kehidupan negara (sekulerisme). Agama diajarkan di masjid dan sekolah, tetapi saat bikin UU, kebijakan, dan kurikulum, rujukannya bukan agama. Standarnya HAM, kebebasan berekspresi, konvensi internasional. Akibatnya, negara tidak punya keberanian melarang secara tegas karena takut dianggap melanggar HAM.
Yang kedua, serangan pemikiran lewat budaya. Propaganda paling efektif bukan demo, tapi lewat budaya. Lewat karakter di film, lewat K-Pop, lewat selebgram, lewat istilah – istilah baru yang terdengar keren. Anak – anak kita terpapar tiap hari. Tanpa sadar nilai yang ditanam bukan lagi halal-haram, tapi suka sama suka.
Yang ketiga, diamnya tokoh dan lemahnya pendidikan keluarga. Banyak orang tua, guru, bahkan tokoh masyarakat memilih diam karena takut dibully “kolot”. Pendidikan agama di rumah juga kalah cepat dengan HP. Anak lebih banyak belajar dari media sosial daripada orang tuanya. Belum lagi orang tua yang tersibukan dengan aktivitas sehari – hari yang menjadikan kedekatan orang tua dengan anak – anaknya terjauhkan.
Lalu Apa yang Harus Dilakukan?
Marah? Marah saja tidak cukup. Keluarga sebagai benteng pertama harus mengajarkan anak sejak dini tentang fitrah, aurat, adab pergaulan, dan bahaya konten negatif. Awasi HP dan tontonan mereka. Jadilah sahabat agar mereka tidak cari kenyamanan di luar.
Ditambah masyarakat dan ulama saling bahu membahu, bersuara dengan hikmah.
Jelaskan dengan dalil dan data, bukan dengan caci maki. Tegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Tolak acara, buku, dan konten yang mempromosikan LGBT di lingkungan kita.
Kemudian Negara berlaku tegas dengan aturan. Mayoritas Muslim harusnya melahirkan kebijakan yang melindungi fitrah manusia. Perlu UU yang jelas melarang propaganda, edukasi, dan pernikahan sesama jenis. Serta menutup celah dana asing untuk gerakan ini.
Merajalela terjadi bukan karena LGBT kuat. Tapi karena umat yang lemah. Lemah dalam iman, lemah dalam pendidikan, dan lemah dalam menerapkan Islam secara kaffah. Mayoritas tanpa kekuasaan itu seperti buih di lautan. Banyak, tapi tidak punya arah.
Ingat, Allah tidak bertanya “berapa jumlah Muslim di KTP“. Allah bertanya: “Sudahkah kalian menegakkan agama – Ku?”
Selama kita masih memisahkan Islam dari politik, pendidikan, dan hukum, maka ruang untuk kemungkaran akan terus melebar.
Tugas kita sekarang menjaga keluarga, meluruskan umat, dan berjuang agar syariat Islam diterapkan. Karena hanya dengan itu, kemungkaran bisa dicegah dan fitrah manusia bisa dijaga.
”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar” (TQS. Ali Imran: 104)
Wallahu ‘Alam.





