Teman-teman muda yang dirahmati Allah, yang tampan dan cantik, baik hati dan tentu tidak sombong, gemar menabung lagi. Hehe.
Hari ini kita hidup di zaman ketika hiburan semakin canggih. Apa-apa serba cepat dan serba cepat. Sound semakin besar dan kian menggelegar, lampu semakin meriah dengan warna-warna cerah, dancer semakin banyak, dan suasana dibuat semeriah serta seramai mungkin.
Makin ramai, makin viral, dan makin sip. Seperti gosip, makin digosok, makin sib. Hehe.
Tapi pernahkah kita berhenti sejenak di tengah riuhnya hiburan itu dan bertanya kepada diri sendiri, “Apakah semua yang seru itu pasti baik untuk kita?”
Sound horeg yang sangat keras, dancer dengan gerakan yang tidak pantas, lampu kelap-kelip, suasana bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan, pakaian yang tidak menutup aurat, bahkan suasana yang semakin mirip diskotek. Semua mungkin terlihat seru. Semua mungkin dianggap hiburan. Tetapi sebagai seorang Muslim, kita perlu berani bertanya lebih jauh,
“Kayak gini tuh pantes nggak sih? Kira-kira, Rasulullah layak membanggakan kita nggak sebagai umatnya?”
Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci teknologi atau hiburan. Selama itu baik, ya monggo atuh. Digaskeun. Jadi, persoalannya bukan semata-mata pada sound-nya.
Masalahnya adalah ketika hiburan mulai membuat kita melalaikan shalat, mengganggu dan merugikan orang lain dengan suara yang berlebihan, membuka aurat, mempertontonkan gerakan yang tidak pantas, bercampur-baur tanpa menjaga batasan, menghamburkan harta secara berlebihan; atau sengaja menciptakan suasana yang dekat dengan kemaksiatan.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini mengingatkan kita tentang larangan berlebih-lebihan. Maka, ketika sebuah hiburan sudah membuat seseorang melampaui batas, merugikan orang lain, melalaikan kewajiban, atau membawa kepada kemaksiatan, sudah semestinya kita berhenti dan mengevaluasi diri.
Jadi, pertanyaannya bukan sekadar, “Boleh nggak pakai sound besar?” Tetapi, “Untuk apa sound itu digunakan? Apakah caranya membawa kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?”
Di sinilah kita perlu belajar melihat sesuatu bukan hanya dari sisi “seru atau tidak seru”, tetapi juga dari sisi “benar atau salah di hadapan Allah SWT.”
Dahulu kita malu masuk diskotek. Sekarang, jangan-jangan kita justru menjadi pelaku yang membuat suasana diskotek berjalan. Lampu warna-warni sebenarnya hanyalah benda. Tidak bersalah. Sound besar juga hanyalah alat. Dancer hanyalah bagian dari pertunjukan.
Tetapi ketika semuanya dirangkai menjadi sebuah suasana yang sengaja dibuat seperti tempat hiburan malam, ditambah musik keras, gerakan tubuh yang bergoyang-goyang, pakaian yang tidak pantas, dan pergaulan yang tidak terjaga, kita perlu berhati-hati.
Sebab seorang Muslim tidak hanya bertanya, “Apakah saya bisa melakukan ini?” Tetapi juga bertanya, “Apakah yang saya lakukan ini pantas sebagai seorang Muslim?”
Sebab menjaga diri dari sesuatu yang mendekatkan kita kepada maksiat jauh lebih baik daripada membiarkan diri sampai terbiasa dengan kemaksiatan.
Karena kemaksiatan yang awalnya terasa asing, jika terus-menerus dilakukan, lama-lama bisa dianggap biasa. Dan sesuatu yang awalnya membuat kita malu, bisa berubah menjadi sesuatu yang justru kita banggakan.
Trus ada yang nanya, “Tapi kan dosa kita jangan diumbar.” Memang benar. Kita tidak boleh sengaja membuka dan membanggakan dosa yang telah Allah tutupi, apalagi menjadikannya sebagai bahan kebanggaan atau tontonan.
Rasulullah SAW bersabda,
“Semua umatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian beliau menjelaskan bahwa termasuk bentuk terang-terangan dalam berbuat dosa adalah ketika seseorang melakukan dosa pada malam hari, kemudian Allah telah menutupi aibnya, tetapi pada pagi harinya ia justru menceritakan dosa tersebut kepada orang lain. Dengan demikian, ia sendiri membuka penutup yang telah Allah berikan kepadanya.
So, walaupun begitu, jangan sampai muncul pemahaman, “Kalau tidak di-upload, berarti boleh dong.”
Bukan begitu.
Perbuatan dosa tetaplah dosa, baik dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Hadits tersebut memberikan peringatan keras agar seorang Muslim tidak mempertontonkan, membuka, atau membanggakan kemaksiatan yang telah Allah tutupi.
Maka, jangan sampai kemaksiatan yang dilakukan justru dijadikan konten untuk mendapatkan perhatian, pujian, validasi, atau sekadar supaya viral dan meraup banyak AdSense.
Kalau sudah terlanjur, maka bertaubatlah selagi masih ada waktu. Bukan malah menjadikan dosa dan aib itu sebagai bahan kebanggaan. Sebab viral hanya berlangsung sesaat, sementara pertanggungjawaban di hadapan Allah tidak akan pernah bisa kita hindari.
Gaes, jangan sampai tepuk tangan dan validasi orang lain membuat kita lupa untuk menggapai ridha Allah SWT. Hari ini mungkin kita tertawa, merasa bangga, dan video kita ditonton ribuan orang.
Tapi suatu hari semua itu akan berakhir. Lampu akan padam. Musik akan berhenti. Kerumunan akan bubar. Dan tengoklah, kita akan berhadapan by one dengan Allah Ta’ala.
Lalu ke mana tepuk tangan meriah dari kerumunan sound horeg beserta segala pernak-perniknya yang melenakan? Kemana sorak-sorai yang dahulu membuat kita merasa keren? Kemana pujian dan validasi yang membuat kita bangga? Semuanya akan tertinggal. Yang kita bawa hanyalah amal.
Come on, kita ubah definisi keren! Bukan sound yang paling keras. Bukan lampu yang paling ngejreng. Bukan karena dilihat banyak orang. Bukan pula karena video kita paling viral.
Keren ialah ketika kita bisa happy tanpa melanggar aturan dan batasan dari Allah. Keren ialah ketika kita mampu bersenang-senang tanpa harus kehilangan rasa malu. Keren ialah ketika kita bisa menikmati hidup tanpa harus mengorbankan ketaatan. Dan yang paling keren, tentu saja, adalah ketika apa yang kita lakukan membuat Allah ridha kepada kita.
Semoga Allah menjaga anak-anak kita dari kerusakan dalam acara sound horeg, dan juga menjaga mereka dari pemikiran yang keliru dalam memandang sound horeg, dancer, dan lampu-lampunya.
Wallahua’lam.





