Banyak dari grup musik yang beraliran punk dalam lirik lagunya menyematkan kritik terhadap penguasa dan aparatur negara. Mulai dari grup musik bergenre punk asal luar negeri sampai dalam negeri, tidak sedikit yang melakukan hal itu.
Baru-baru ini sosial media dihebohkan dengan adanya klarifikasi grup musik yang bernama ‘Sukatani’ yang beraliran punk dari Purbalingga, JawaTengah melakukan klarifikasi atas lagu berjudul ‘Bayar Bayar Bayar’ yang dianggap menciderai nama baik kepolisian. Klarifikasi yang beredar di media sosial itu dilakukan oleh mereka tanpa memakai topeng yang selama ini dipakai ketika sedang konser atau sedang perform, alias pada waktu klarifikasi itu mereka menampakkan wajah aslinya. Bahkan tidak berhenti disitu, si vokalis kabarnya juga dipecat dari sekolah dimana dia melakukan aktivitas mengajar.
Sebenarnya lagu ini sudah rilis kurang lebih dua tahun yang lalu, yaitu tahun 2023. Lagu ini mengkritik praktik korupsi di kalangan oknum kepolisian, dengan liriknya yang menyoroti berbagai situasi di mana masyarakat merasa harus membayar untuk mendapatkan pelayanan atau menghindari sanksi.
Pada 20 Februari 2025 kemarin, Sukatani mengumumkan penarikan lagu ‘Bayar Bayar Bayar’ dari semua platform streaming dan menyampaikan permintaan maaf kepada Kapolri dan Institusi Polri.
Sedikit tulisan ini bukan saya maksudkan untuk mendukung band punk Sukatani dari semua performnya, meski dulu saya juga penikmat musik punk bahkan juga mengikuti gaya dan kehidupan didalamnya. Tetapi itu dulu sebelum saya mengenal Islam sebagai standar perbuatan manusia.
Kembali lagi ke lagu ‘Bayar Bayar Bayar‘. Ini adalah satu dari banyak lagu yang ada di negeri ini, yang liriknya ditujukan untuk mengkritik penguasa. Dan tidak hanya Sukatani saja yang mendapatkan respon dari penguasa terkait hal semacam ini. Banyak musisi dan grup band yang juga dibredel lagunya gara-gara liriknya menyinggung atau berisikan kritik terhadap penguasa.
Sikap yang tidak dewasa yang ditunjukkan penguasa saat mendapatkan kritik semacam ini memang kerap terjadi di negeri kita. Bukan malah menjadikan kritik itu sebagai bahan introspeksi dan evaluasi kinerja, tetapi malah menggunakan kekuasaan mereka untuk menekan si pemberi kritik. Padahal, apa yang disebutkan didalam lagu Sukatani tersebut adalah fakta, dan juga katanya yang melakukan itu adalah oknum, tepatnya oknum-oknum, karena terlalu banyak oknum yang seperti itu. Hehehe
Mereka mengagung-agungkan kebebasan berpendapat didalam sistem Demokrasi, tetapi sepertinya kebebasan itu hanya berlaku untuk siapa yang berkuasa, bukan untuk lawan politik atau kelompok – kelompok diluar kekuasaan. Bisa dikatakan demokrasi hanya dijadikan alat pelindung kekuasaannya saja. Ini berbeda dengan bernegara yang menerapkan sistem Islam. Islam tidak anti kritik. Hal ini bisa kita dapatkan didalam banyak kisah dimana Islam dulu pernah berkuasa dan memimpin dunia seperti yang dituliskan oleh para penulis – penulis Islam yang lurus pada jaman dahulu ataupun sekarang. [Jady Rembang]
Wallahu’alam.





