Di kampung saya, bancakan itu jika yang diundang anak anak kecil dengan hidangan sederhana yang sudah disiapkan untuk dibawa pulang. Terkadang jajan pasar, atau nasi dengan lauk sederhana seperti tempe dan sambel docang alias sambal kelapa yang diparut. Biasanya bancakan dilakukan untuk syukuran kecil kecilan seperti pas hari lahir, kambing beranak, sapi beranak, dll.
Berbeda dengan kondangan yang hidangannya disiapkan lengkap dengan nasi rames dan kue kue tradisional lengkap. Untuk syukuran acara acara besar. Seperti syukuran membangun rumah, pernikahan, khitanan, dll.
Bancakan itu sangat menyenangkan. Bagi anak anak yang hadir tentu saja. Duduk melingkari makanan siap santap. Dibacakan doa sebentar terus dapat dah makanan dan kue kue gratis langsung santap.
Agaknya itu pula rupanya yang terjadi pada para pengusaha, pejabat dan penguasa. Yang disebut sebut bancakan aset negara. Berbagai aset negara yang awalnya milik negara bisa berpindah tangan secara gratis kepada oligarkhi. Bahkan kabarnya pembangunan IKN pun tak lepas dari Bancakan proyek. Ada juga bancakan anggaran negara seperti bansos. Atau anggaran pemilu. Bancakan uang BUMN seperti disinyalir terjadi pada puluhan kasus Garuda, jiwa sraya dll. Sebelumnya BLBI yang mencapai ratusan trilyun itu. Pendek kata andai dihitung kerugian akibat bancajan ini bisa mencapai belasan atau puluhan ribu triltun. Hasilnya jelas, negara bangkrut aset habis dan rakyat makin miskin. Makin membangun hasilnya makin miskin.
Saya bayangkan, para pengusaha dan penguasa itu duduk melingkari hidangan berupa anggaran proyek dan uang BUMN yang sudah dibungkusi trus nunggu dirapal mantra mantra hiburan untuk rakyat. Mantra yang diputuskan oleh DPR sebagai legalitas bagi Bancakan itu. Disertai janji Jani manis bagi rakyat ada sembako murah dll. Langsung deh rebutan. Sekejap mata semua tandas dan tuntas. Tentu saja mereka akan bernyanyi..”hati senang perut kenyang“.
Yang tersisa hanya rakyat yang nangis dengan suara parau nyaris habis. Kerena makanan hasil masak untuk jualan digotong satpol pp. Atau karena harus berpikir keras bagaimana caranya melakukan tambal ban secara online….
Begitulah bancakan paling kejam yang pernah dan terus terjadi dalam kekuasaan kapitalistik ini. Mereka punya prinsip dari uang, oleh uang dan untuk uang. Kekuasaan berasal dari uang, oleh orang beruang untuk memperoleh uang lebih banyak lagi. Jadilah bancakan tadi. Oligarkhi yang telah membiayai para penguasa tentu saja minta imbalan saat mereka berkuasa dan terjadilah bancakan ini.
Berbeda dengan sistem Islam. Yang memegang prinsip dari Allah, oleh Allah untuk Allah. Manusia hanya menjalankan hukum berupa perintah dari Allah. Yang diperintah oleh Allah dan dilakukan untuk keridhoan Allah.
Sehingga rakyat akan amanndan sejahtera karena pemimpin mengurus mereka denga ikhlas dan sesuai hukum Allah yang menyejahterakan dunia akhirat. Itulah sistem Khilafah.
Khilafah sesuai syariat Islam wajib mengatur negara dan rakyat dengan syariat itu sendiri. Syariat Islam telah menentukan apa saja pendapatan Baitul mal kas negara dan untuk apa dikeluarkan. Semua sudah ditentukan oleh syariat. Kholifah dan keluarganya tak punya hak untuk mengatur sesuai hawa nafsunya atau kepentingan pribadinya. Apalagi hanya untuk jalan jalan naik jet pribadi secara gratis. Itu merupakan dosa besar. Semua bermuara pada kesejahteraan rakyat secara riil bukan janji kosong menjelang pemilu.
Semoga khilafah ala minhajin nubuwwah kedua segera Allah yg hadirkan. Agar rakyat tidak menjadi obyek bancakan dari para penguasa yang melayani kepentingan oligarkhi.
Saat ini semangat Bancakan nampak dari postur kabinet yang super gembrot karena mengadopsi setiap kepentingan kelompok yang ada. Sementara bagaimana nasib rakyatnya? Sudah bisa ditebak bahwa tak akan banyak perubahan kepada kondisi sejahtera seperti janji janji kampanye. Yang penting setiap kelompok oligarkhi mendapatkan cuan.
Masih mau terus begini?
Sampai kapan?
Yuk Sobat, selamat berjuang! [Ustadz Abu Zaid R]





