Di tengah kehidupan yang serba sulit ini, menikmati hidup menjadi salah satu cara Gen Z (sebutan untuk generasi yang lahir pada tahun 1997 sampai dengan 2002) melepas tekanan dan tuntutan hidup sehari-hari. Secangkir kopi, liburan singkat, self-reward, atau healing bukan lagi sekadar kemewahan, tetapi dianggap sebagai kebutuhan emosional. Namun, di balik gaya hidup tersebut ada realitas yang perlu diperhatikan yaitu biaya hidup yang terus meningkat, sementara rasa aman secara finansial belum sepenuhnya dimiliki. Gen Z pun menghadapi dilema antara menikmati kehidupan hari ini dan menyiapkan masa depan yang lebih aman.
Tekanan ekonomi semakin menjadi bagian dari keseharian Gen Z. Lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Temuan tersebut sejalan dengan survei Deloitte yang menunjukkan bahwa biaya hidup menjadi salah satu kekhawatiran utama generasi muda. Bahkan, sebanyak 48% Gen Z dalam survei tersebut mengaku tidak merasa aman secara finansial, sementara lebih dari separuh responden hidup dari gaji ke gaji. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan finansial bukan sekadar soal besarnya pendapatan, tetapi berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan hidup dan ketidakpastian masa depan. (Pojok Batam, 19 Februari 2026).
Di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional. Bagi sebagian anak muda, pengeluaran tersebut dipandang sebagai cara untuk menjaga keseimbangan hidup setelah menghadapi tuntutan pekerjaan, tekanan finansial, serta berbagai persoalan sehari-hari. (Kompas.com, 12 Agustus 2026).
Persoalannya, kebutuhan untuk mendapatkan ruang bagi diri sendiri berhadapan dengan realitas bahwa kondisi keuangan belum sepenuhnya aman. Ketika kebutuhan self-reward semakin besar sementara pendapatan terbatas, keputusan konsumsi berpotensi membuat kemampuan menabung dan mempersiapkan masa depan semakin sulit. Survei Deloitte bahkan mencatat bahwa 55% Gen Z menunda keputusan penting seperti menikah, memiliki anak, memulai usaha, atau melanjutkan pendidikan akibat tekanan finansial. Artinya, tantangan yang dihadapi bukan hanya bagaimana menikmati hasil kerja saat ini, tetapi juga bagaimana membangun ketahanan finansial untuk menghadapi kebutuhan jangka panjang. (Kompas.com, 3 Mei 2026).
Karena itu, Gen Z perlu menemukan keseimbangan antara memenuhi kebutuhan emosional dan membangun keamanan finansial. Di sisi lain, tekanan biaya hidup juga menunjukkan pentingnya membangun keterampilan finansial, mengelola pengeluaran, meningkatkan pendapatan, serta menyiapkan tabungan dan investasi secara bertahap.
Jika ditelaah lebih dalam, persoalan finansial yang dihadapi Gen Z tidak semata-mata lahir dari cara mereka mengelola pendapatan, tetapi juga berkaitan dengan sistem ekonomi yang berlaku. Sistem Kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z di mana biaya hidup terus naik sementara gaji stagnan. Negara lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar, sehingga generasi muda berjuang sendiri. Dalam kondisi seperti ini, anak muda dituntut mandiri secara finansial, sementara kebutuhan hidup semakin mahal dan kesempatan memperoleh penghasilan yang layak tidak selalu sebanding dengan beban yang harus ditanggung.
Tekanan tersebut kemudian bertemu dengan pola hidup yang berkembang di tengah masyarakat. Tekanan ekonomi itu diperparah oleh gaya hidup Sekuler-Liberal yang menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai “solusi” pelarian. Ketika masalah hidup terasa berat, kesenangan sesaat sering dipilih sebagai cara untuk mengurangi stres. Padahal, jika tidak dikendalikan, kebiasaan tersebut justru dapat menambah beban finansial. Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren populer yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif, sehingga seseorang mudah merasa harus mengikuti apa yang sedang ramai agar tidak dianggap tertinggal.
Lebih jauh lagi, persoalan ini tidak berhenti pada masalah ekonomi ataupun gaya hidup. Di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Ketika arah kehidupan tidak dibangun di atas pandangan hidup yang benar, kebahagiaan mudah disandarkan pada sesuatu yang bersifat material dan sementara. Ukuran keberhasilan pun bergeser, memiliki barang tertentu, bepergian ke tempat populer, menikmati kuliner, atau mendapatkan pengalaman baru dianggap sebagai tujuan hidup yang bahagia.
Karena itu, persoalan Gen Z membutuhkan penyelesaian yang tidak hanya berbicara tentang kemampuan mengatur uang, tetapi juga menyentuh cara pandang terhadap kehidupan. Sehingga, kebahagiaan tidak diukur dari kenikmatan materi sesaat, tetapi ridha Allah dan kemuliaan Islam. Islam memandang kehidupan dunia bukan sekadar ruang untuk mengejar kesenangan, melainkan amanah yang harus dijalani sesuai tujuan penciptaan manusia. Dengan pemahaman tersebut, menikmati rezeki tetap diperbolehkan, tetapi tidak menjadikannya sebagai tujuan utama. Kebahagiaan justru diarahkan pada kehidupan yang bernilai, berkah, dan mendapat ridha Allah.
Islam memandang persoalan finansial dan gaya hidup tidak semata-mata sebagai persoalan individu, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab negara. Harta dalam Islam adalah amanah yang harus diperoleh dan digunakan sesuai ketentuan Allah. Karena itu, seorang Muslim tidak dilarang menikmati rezeki, tetapi tidak boleh berlebihan dan menjadikan kenikmatan materi sebagai tujuan hidup. Allah SWT berfirman,
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Prinsip ini mengajarkan keseimbangan yaitu memenuhi kebutuhan, menikmati rezeki secara wajar, sekaligus menghindari pemborosan dan konsumsi yang didorong oleh gengsi maupun dorongan mengikuti tren. Kebahagiaan seorang Muslim tidak diukur dari banyaknya barang yang dimiliki atau seberapa sering melakukan self-reward, tetapi dari keberkahan hidup dan kedekatannya kepada Allah SWT.
Pada saat yang sama, Islam menempatkan negara sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab besar dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Negara tidak boleh membiarkan masyarakat berjuang sendirian menghadapi kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi. Rasulullah SAW bersabda,
“Imam (khalifah) adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa penguasa memiliki amanah untuk mengurus urusan rakyat, termasuk menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat memperoleh kebutuhan dasar secara layak.
Dengan demikian, Islam tidak hanya mengajarkan Gen Z agar bijak mengelola uang dan mengendalikan gaya hidup, tetapi juga menuntut adanya sistem yang menjamin kesejahteraan masyarakat. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, pendidikan tentang tujuan hidup diperkuat, dan masyarakat dibimbing dengan nilai-nilai Islam, generasi muda tidak perlu menjadikan konsumsi sebagai pelarian dari tekanan hidup, tetapi dapat mengarahkan energi dan potensinya untuk kehidupan yang lebih bermakna serta meraih ridha Allah.
Islam menawarkan solusi yang menyentuh akar persoalan, bukan sekadar meminta Gen Z lebih pandai mengatur keuangan. Dalam Islam, negara menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat, termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri. Pengelolaan sumber daya alam untuk kemaslahatan rakyat akan menjadi bagian penting dalam mewujudkan kesejahteraan.
Negara juga berkewajiban menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan masyarakat memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak, sehingga kebutuhan hidup tidak sepenuhnya dibebankan kepada individu.
Islam juga memberikan perhatian terhadap lingkungan sosial dan informasi yang membentuk perilaku generasi muda. Islam menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Media dalam negara Islam akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat. Dengan lingkungan yang sehat, generasi tidak terus-menerus didorong mengejar tren, gengsi, dan kesenangan konsumtif. Mereka akan dibekali pemahaman agar mampu membedakan kebutuhan dengan keinginan serta menggunakan harta secara bertanggung jawab.
Lebih mendasar lagi, Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia. Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah sebagaimana tercantum dalm QS. Adz-Dzariyat: 56. Pemahaman ini membuat manusia tidak menjadikan kenikmatan dunia sebagai ukuran utama kebahagiaan. Harta, pekerjaan, pendidikan, maupun berbagai aktivitas kehidupan ditempatkan sebagai sarana untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Dengan akidah yang kokoh, Gen Z dapat memiliki arah hidup yang jelas dan tidak mudah menjadikan self-reward atau konsumsi sebagai pelarian dari tekanan kehidupan.
Pada akhirnya, solusi Islam tidak berhenti pada perubahan perilaku individu, tetapi membutuhkan peran bersama antara individu, masyarakat, dan negara. Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam. Gen Z diarahkan menjadi generasi yang produktif, mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap umat. Ketika kebutuhan dasar terjamin, lingkungan sosial terlindungi, serta tujuan hidup dibangun di atas keimanan, kebahagiaan tidak lagi bergantung pada seberapa banyak yang dapat dikonsumsi. Kehidupan justru diarahkan untuk meraih keberkahan, kemuliaan, dan ridha Allah SWT. [ Abdul Shokib (Pemerhati Lingkungan dan Pegiat Literasi Islam) ]
Wallahua’lam.





