Sebuah komunitas apapun termasuk komunitas dakwah adalah sekumpulan manusia biasa. Tak lepas dari yang namanya variasi karakter dengan berbagai kualitasnya. Termasuk tak mustahil ada saja karakter hasad antar aktifisnya. Hasad ini tentu sangat berbahaya baik bagi pelakunya maupun bagi komunitasnya. Apalagi bagi komunitas dakwah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini–beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali–. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.’” (HR. Muslim, no. 2564)
Menurut jumhur ulama, hasad adalah berharap hilangnya nikmat Allah pada orang lain. Nikmat ini bisa berupa nikmat harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. Demikian penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 368.
Perkataan jumhur ulama di atas diungkapkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah,
“Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain.” (At-Tashiil li Ta’wil At-Tanziil Juz ‘Amma fii Sual wa Jawab, hlm. 720)
Hasad menurut Ibnu Taimiyah adalah,
“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).
Hasad alias dengki adalah jika seseorang ingin agar kenikmatan yang Allah berikan kepada saudaranya hilang. Misalnya nikmat ilmu, nikmat harta, nikmat kedudukan, dll. Maka hasad jika dia ingin saudaranya itu hilang hartanya, atau ilmunya atau kedudukannya. Hasad lebih buruk dari iri hati.
Bahaya hasad bagi diri pelakunya sebagaimana hadits Nabi Muhammad Saw adalah terbakarnya pahala amal Sholih hingga lenyap. Sementara bahaya bagi komunitas dakwah adalah menimbulkan kondisi yang tidak sehat dalam dakwah. Akan muncul saling benci. Tidak saling mendoakan kebaikan. Dan keburukan ini sangat menghancurkan.
Padahal dalam komunitas dakwah setiap keberhasilan dakwah disisi manapun dan oleh siapapun adalah keberhasilan bersama. Bukan keberhasilan si A atau si B. Oleh karena itulah tak boleh si A yang secara langsung berhasil melakukan sesuatu kemudian menganggap diri berjasa. Sebab tanpa dukungan komunitas nya mustahil dia bisa berhasil. Demikian pula kawan kawan yang tidak secara langsung berhasil melakukan sesuatu kegiatan pun tak boleh iri apalagi hasad sebab itu merupakan keberhasilan komunitas bukan keberhasilan individu manapun.
Dalam setiap kegiatan dakwah apapun baik kecil maupun besar bukan hasil kerja individu melainkan kerja bersama. Hanya saja peran tiap orang berbeda sesuai posisi dan kondisi masing masing. Bagaikan harmoni suara yang indah yang terjadi pada orkestra maka tidak bisa terjadi jika tidak melibatkan semua jenis alat musik dan pemainnya. Jika ada salah satu yang hasad kemudian merusak permainan salah satu pemain otomatis merusak dan menghancurkan semuanya.
Misalnya kegiatan Masirah di suatu kota. Semua individu berperan penting. Tak ada yang tak penting. Kyai yang orasi dengan memukau tak kan berguna jika tak ada peserta. Orasi tak kan terdengar jika tak ada sound sistem. Sehingga setiap peserta meksipun cukup datang dan berjalan hingga berdiri sampai acara selesai tanpa satu patah katapun adalah bagian penting dari suskensya agenda tersebut. Dan setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai niatnya masing masing. Bisa jadi peserta yang datang diam tak berkata apapun pahalanya jauh lebih besar daripada seorang orator yang begitu semangat dan menyihir peserta yang hadir. Mengapa? Sebab pahala itu bergantung pada niat masing masing.
Moga kita dihindarkan oleh Allah atas penyakit hati yang sangat berbahaya ini. Aamiin.
Ngaji yuk! [Ustadz Abu Zaid R]




