Seorang Mukmin wajib menggunakan waktunya pada berbagai perkara yang bermanfaat, karena umur akan dimintakan pertanggung-jawabannya oleh Allâh Azza wa Jalla , digunakan untuk apa? Sebagaimana ilmu dan harta. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Tidak akan beranjak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia habiskan, dan tentang tubuhnya -capek dan letihnya- untuk apa ia gunakan.[HR Tirmidzi]
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman
“Demi masa.Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” [Al-‘Ashr/103:1-3]
Waktu merupakan modal pokok hidup kita. Ketika masih ada waktu maka semua nikmat lain masih bisa kita manfaatkan untuk beramal Sholih. Bahkan iman, ilmu, badan sehat, dll semua bersandar pada waktu. Jika waktu sudah habis alias kita mati maka semua itu tak dapat lagi kita manfaatkan.
Oleh karena itulah maka mumpung kita masih punya waktu marilah kita berjuang menegakkan khilafah. Sebab itulah perkara wajib paling penting yang Allah dan RasulNya perintahkan kepada kita. Sebab kepada khilafahlah semua kewajiban syariat bergantung. Para ulama menyebut khilafah sebagai ahammul wajibat alias kewajiban paling penting. Atau ada yang menyebut tajul furudh alias mahkota kewajiban.
Khilafahlah ajaran Islam yang paling menakutkan bagi penjajah barat sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu. Mereka gagal menguasai palestina dan terusir dengan hina setelah perang selama sekitar 200 tahun gegara khilafah masih ada. Beberapa abad Kemudian umat Islam malah berhasil menaklukan konstantinopel dan menguasai menguasai eropa timur hingga ke Austria juga gegara khilafah. Oleh karena setelah mereka berhasil meruntuhkan khilafah Utsmaniyah maka proyek terbesar mereka adalah menghalangi agar khilafah tak berdiri lagi.
Disisi lain khilafah adalah pelaksana Islam secara kaffah. Khilafah lah yang menentukan eksistensi umat Islam di dunia. Jika tanpa khilafah maka umat Islam tak punya eksistensi meskipun jumlahnya banyak. Lihatlah hari ini kita tak punya kekuatan apapun untuk membela palestina secara layak ketika muslim disana dibantai di depan mata.
Secara terperinci, ada beberapa alasan Khilafah layak disebut sebagai mahkota kewajiban, di antaranya sebagai berikut.
Pertama, Khilafah adalah pelaksana seluruh hukum Islam, sedangkan Islam adalah agama sempurna dan menyeluruh yang mengatur hubungan hamba dengan Sang Khalik yang terwujud dalam akidah dan ibadah.
Islam mengatur hubungan individu dengan dirinya sendiri, yang tercakup dalam pengaturan makanan, minuman, pakaian dan akhlak. Islam juga mengatur hubungan antara manusia, meliputi masalah muamalah (interaksi) dan uqubat (sanksi). Dengan adanya Khilafah, seluruh hukum ini akan terlaksana secara kafah dan sempurna. Sangat berbeda dengan hari ini, ketiadaan Khilafah menyebabkan hukum-hukum Islam hilang dari realitas kehidupan kita. Akibatnya, kriminalitas merajalela di mana-mana.
Kedua, Khilafah merupakan penjamin kesejahteraan umat manusia. Islam diturunkan sebagai rahmat bagi sekalian alam. Maknanya, syariat Islam mengandung maslahat bagi manusia dan alam semesta ketika dilaksanakan secara keseluruhan.
Ketiga, Khilafah adalah wadah pemersatu umat Islam seluruh dunia. Dengan Khilafah, persaudaraan umat Islam menjadi nyata karena mereka berada dalam naungan satu negara. Tidak terpecah-pecah ke dalam negara-negara bangsa seperti saat ini.
Khilafahlah yang akan menyatukan seluruh potensi umat sehingga umat Islam menjadi kuat, disegani, dan dihormati. Tidak seperti sekarang, umat Islam di belahan bumi Palestina disakiti oleh Zi*nis Yahudi dan sekutunya. Sementara itu, umat Islam di negeri ini pemikirannya dijajah dan kekayaannya dirampok oleh asing dan antek-anteknya.
Begitu agung kewajiban ini sehingga ditengah usia kita yang sangat terbatas menjadi sangat layak kita habiskan untuk berjuang menegakkan khilafah. Disamping kita akan menjadi hamba yang taat karena melaksanakan kewajiban paling agung dengan pahala berlimpah ruah. Maka disisi lain juga kita akan terhindar dari dosa besar karena lalai dari kewajiban agung ini.
Ayo cepetan mumpung masih ada waktu. Wallahu a’lam.
Ngaji yuk!
Dakwah yuk! [Ustadz Abu Zaid R]




