Jujur deh, pernah nggak kita upload sesuatu, terus beberapa menit kemudian malah buka lagi buat ngecek yang nge-like siapa aja? Awalnya sih cuma iseng. Tapi kalau yang like ternyata cuma sedikit, kok jadi agak kecewa, ya? Sebaliknya, kalau tiba-tiba rame, ada banyak yang like dan komentar, mood langsung naik. Padahal… ada yang berubah dari hidup kita? Nggak juga. Tapi entah kenapa, angka kecil di layar bisa bikin perasaan kita ikut naik-turun.
Kadang lebih lucu lagi. Kita sudah pilih foto yang paling oke, edit secukupnya, mikirin caption, bahkan nunggu waktu yang dianggap pas buat posting. Begitu sudah di-upload, malah kepikiran, “Bagus nggak, ya?” Terus lima menit kemudian cek lagi. Sepuluh menit kemudian cek lagi. Kalau responsnya nggak sesuai harapan, mulai kepikiran buat hapus. Pernah? Kalau iya, santai… kita nggak sendirian. Tapi justru di situ ada pertanyaan menarik: kenapa pendapat orang lain bisa begitu berpengaruh ke perasaan kita?
Sebenarnya, ingin dipuji atau disukai itu wajar. Siapa sih yang nggak senang kalau dipuji? Masalahnya muncul ketika kita mulai merasa diri kita berharga hanya kalau orang lain menganggap kita keren. Hari ini postingan rame, kita pede. Besok sepi, mulai mikir, “Jangan-jangan gue nggak menarik?” Lihat teman followers-nya naik terus, kita ikut membandingkan. Lama-lama kita bukan cuma menggunakan media sosial, tetapi mulai menjadikan media sosial sebagai tempat mencari bukti bahwa diri kita berharga.
Coba lihat apa yang terjadi setiap kali kita scroll. Ada orang yang wajahnya cakep banget. Ada yang outfit-nya keren. Ada yang baru beli HP. Ada yang sering jalan-jalan. Ada yang prestasinya segudang. Ada yang followers-nya ratusan ribu. Belum lagi yang setiap hari kelihatan bahagia. Kita tahu sebenarnya hidup orang pasti nggak sesempurna itu. Tapi tetap saja, setelah melihat semuanya, kadang muncul satu perasaan: “Kok hidup gue biasa banget, ya?” Padahal yang kita lihat cuma beberapa detik dari kehidupan mereka.
Nah, ini yang sering nggak kita sadari. Kita membandingkan kehidupan kita yang lengkap dengan potongan kehidupan orang lain yang mereka pilih untuk ditampilkan. Kita tahu sisi jelek kehidupan kita karena kita menjalaninya setiap hari. Tapi dari kehidupan orang lain, yang kita lihat biasanya sisi terbaiknya. Wajar kalau akhirnya kita merasa kalah. Dari sini, standar tentang “keren”, “cantik”, “sukses”, bahkan “bahagia” bisa pelan-pelan berubah. Kita mulai melihat diri sendiri berdasarkan apa yang sedang ramai di layar.
Tapi pernah nggak kita bertanya, kenapa sih kita sampai segitunya ingin terlihat keren dan disukai? Kenapa jumlah followers bisa terasa penting? Kenapa satu komentar negatif bisa kepikiran seharian, sementara sepuluh komentar positif cepat kita lupakan? Bisa jadi karena kita hidup dalam budaya yang terus mengajarkan bahwa perhatian itu penting. Yang viral dianggap keren. Yang punya banyak followers dianggap sukses. Yang sering dipuji dianggap lebih bernilai. Akhirnya, kita terbiasa mengejar pengakuan tanpa sempat bertanya apakah pengakuan itu benar-benar kita butuhkan.
Kalau kita lihat lebih jauh, ada sistem yang ikut mendapatkan keuntungan dari kondisi ini: kapitalisme. Kedengarannya mungkin berat, tapi sebenarnya gampang dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak hanya ditawari barang untuk dibeli. Kita juga terus ditawari gambaran tentang seperti apa kita seharusnya. Harus tampil keren. Harus wangi. Harus punya barang tertentu. Harus mengikuti tren. Harus terlihat produktif. Harus terlihat bahagia. Semakin kita merasa belum cukup, semakin banyak hal yang bisa ditawarkan kepada kita. Jadi yang dijual bukan cuma produknya, tetapi juga rasa bahwa “kalau kamu punya ini, kamu akan lebih keren.”
Kalau sudah begini, pertanyaannya jadi lebih dalam: sebenarnya siapa yang menentukan nilai diri kita? Kalau jawabannya adalah manusia, kita akan capek. Karena selera manusia berubah-ubah. Hari ini kita dipuji, besok bisa dicibir. Hari ini dianggap keren, besok sudah ada yang lebih keren. Kalau harga diri kita bergantung pada penilaian orang, kita seperti menyerahkan remote control perasaan kita kepada orang lain.
Islam punya jawaban yang menarik soal ini. Allah tidak pernah mengatakan bahwa manusia menjadi mulia karena banyak followers, punya barang mahal, terkenal, atau selalu dipuji. Allah SWT justru berfirman, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Coba pikirkan sebentar. Di media sosial kita sibuk menghitung likes. Di hadapan Allah, ternyata ukuran kemuliaannya bukan itu.
Artinya, bukan berarti kita nggak boleh senang ketika dipuji. Boleh. Nggak salah juga kalau kita bangga ketika berhasil melakukan sesuatu. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai pujian itu menjadi sumber utama harga diri kita. Karena kalau sudah begitu, kita akan gampang banget naik turun. Dipuji sedikit, terbang. Dikritik sedikit, langsung down. Postingannya rame, senang. Sepi, insecure. Capek juga kalau harus hidup seperti itu terus, kan?
Mungkin mulai sekarang kita bisa coba mengubah beberapa pertanyaan. Sebelum mikir, “Orang bakal suka nggak?”, coba tanya, “Ini memang baik nggak?” Sebelum sibuk mencari cara supaya terlihat keren, coba tanya, “Aku melakukan ini karena memang aku mau dan butuh, atau karena takut nggak dianggap?” Dan sebelum membandingkan diri dengan orang lain, ingat bahwa kita sebenarnya sedang melihat halaman depan kehidupan mereka, sementara kita tahu seluruh isi kehidupan kita sendiri.
Kita juga nggak perlu menjadi orang yang pura-pura cuek dan bilang, “Gue nggak peduli pendapat orang.” Ya, kita manusia. Dibilang bagus tentu senang. Dikritik tentu kadang sakit hati. Itu normal. Yang penting, jangan sampai pendapat orang lain menjadi penentu nilai diri kita. Kita tetap bisa aktif di media sosial, berkarya, membuat konten, mengikuti tren, dan mendapatkan apresiasi. Tapi kita yang pegang kendali. Bukan likes, followers, komentar, atau algoritma.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Berapa banyak orang yang menyukaiku?” tetapi, “Kenapa aku begitu ingin disukai?” Kalau ternyata selama ini kita mencari validasi karena ingin merasa berharga, mungkin kita sedang mencari sesuatu di tempat yang salah. Karena sebanyak apa pun likes yang kita dapatkan, akan selalu ada angka berikutnya yang ingin kita kejar. Akan selalu ada orang yang lebih populer. Selalu ada yang lebih keren. Kalau itu yang menjadi standar, kapan kita akan merasa cukup?
Jadi, nggak apa-apa kalau suatu hari postingan kita sepi. Nggak apa-apa kalau followers kita nggak bertambah setiap hari. Nggak apa-apa kalau kita bukan orang yang paling populer di tongkrongan atau di media sosial. Kita nggak harus terkenal untuk menjadi berharga. Kita nggak harus disukai semua orang untuk punya kehidupan yang berarti. Yang penting, kita tahu siapa diri kita, untuk apa kita hidup, dan standar siapa yang kita jadikan pegangan. Karena pada akhirnya, bukan berapa banyak orang yang melihat kita yang paling penting, tetapi bagaimana Allah melihat kita.
Wallahua’lam.





