Flexing: Buat Siapa?

Foto: Ilustrasi Flexing

Pernah nggak sih kita upload sesuatu bukan cuma karena pengin berbagi, tapi karena pengin orang lain tahu kalau kita punya? HP baru, outfit baru, makanan mahal, tempat nongkrong yang lagi viral, atau foto liburan. Awalnya cuma, “Ya udah, upload aja.” Tapi jujur, kalau ada yang komen, “Wih, keren!” atau “Mewah banget,” rasanya memang beda. Ada sedikit rasa bangga. Bahkan kadang kita sengaja memilih apa yang kelihatan paling keren buat diposting. Bukan cuma soal apa yang kita nikmati, tapi juga soal bagaimana hidup kita terlihat di mata orang lain.

Sebenarnya, punya barang bagus atau senang menunjukkan pencapaian itu nggak salah. Kita manusia, wajar kalau senang ketika punya sesuatu yang kita inginkan. Masalahnya mulai muncul ketika kita nggak lagi sekadar menikmati sesuatu, tetapi mulai mikirin, “Kalau orang lain lihat, mereka bakal mikir apa?” Makan di tempat bagus jadi kurang seru kalau nggak masuk story. Beli barang baru terasa lebih puas kalau ada yang tahu. Bahkan pencapaian pun kadang terasa belum lengkap sebelum dibagikan. Tanpa sadar, kita mulai hidup dengan satu pertanyaan, “Ini kelihatan keren nggak?”

Bacaan Lainnya

Yang bikin makin menarik, rasa puas itu sering bukan berasal dari barangnya. Tapi dari respons orang setelah melihatnya. Likes naik, senang. Ada yang komentar, makin senang. Ada yang bilang keren, tambah pede. Tapi kalau ternyata sepi? Mulai mikir, “Kok nggak ada yang notice, ya?” Padahal barangnya masih sama. Makanannya tetap enak. Liburannya tetap menyenangkan. Yang berubah cuma satu yaitu respons orang lain. Jadi, sebenarnya kita sedang menikmati hidup atau sedang mempertontonkan hidup?

Coba lihat media sosial kita. Ada yang baru beli HP terbaru. Ada yang outfit-nya keren terus. Ada yang tiap minggu nongkrong di tempat hits. Ada yang sering traveling. Ada yang menunjukkan pencapaian. Bahkan ada yang kelihatannya selalu sibuk dan produktif. Lama-lama kita seperti masuk ke perlombaan yang nggak pernah kita daftar. Kita mulai membandingkan, “Dia sudah punya itu, gue kapan?” “Kok dia bisa jalan-jalan terus?” “Kok hidup gue biasa banget?” Padahal nggak ada yang benar-benar menyuruh kita berlomba. Tapi entah kenapa, kita merasa harus ikut.

Masalahnya, perlombaan ini nggak punya garis finis. Hari ini kita senang karena akhirnya punya HP yang kita inginkan. Beberapa bulan kemudian muncul model baru. Kita baru merasa keren karena mengikuti satu tren, tiba-tiba ada tren lain. Baru merasa pencapaian kita cukup, muncul orang yang pencapaiannya lebih tinggi. Akhirnya kita terus mengejar sesuatu yang baru supaya nggak merasa tertinggal. Bukan karena hidup kita benar-benar kurang, tetapi karena standar “cukup” kita terus bergerak.

Nah, di sini kita perlu bertanya lebih jauh. Kenapa kita bisa sampai merasa harus punya dan menunjukkan sesuatu supaya dianggap? Karena tanpa sadar, kita sedang hidup dalam budaya yang mengajarkan bahwa semakin banyak yang kita punya, semakin keren kita terlihat. Barang bukan cuma dipakai, tetapi juga menjadi simbol. HP bukan cuma alat komunikasi. Outfit bukan cuma pakaian. Tempat nongkrong bukan cuma tempat makan. Semuanya bisa menjadi cara untuk menunjukkan, “Ini lho, level gue.”

Dan kalau kita lihat lebih dalam, ada sistem yang sangat diuntungkan dari cara berpikir seperti ini yaitu sistem kapitalisme. Dalam kapitalisme, semakin banyak keinginan yang muncul, semakin banyak pula barang dan gaya hidup yang bisa dijual. Kita tidak cukup hanya dibuat membutuhkan sesuatu. Kita juga terus dibuat merasa ingin sesuatu. Iklan, influencer, tren, diskon, branding, sampai algoritma media sosial ikut memainkan peran. Kita dibuat melihat sesuatu berulang-ulang sampai akhirnya muncul pikiran, “Kayaknya gue butuh deh.” Padahal beberapa hari sebelumnya kita baik-baik saja tanpa benda itu.

Yang lebih menarik, yang dijual sebenarnya bukan cuma barang. Yang dijual adalah gambaran tentang diri kita. Beli barang tertentu supaya terlihat sukses. Pakai merek tertentu supaya dianggap keren. Datang ke tempat tertentu supaya terlihat punya gaya hidup. Jadi kita bukan cuma membeli fungsi barang, tetapi juga membeli gengsi, status, dan kesan. Akhirnya, semakin kita ingin terlihat keren, semakin banyak hal yang terasa harus kita punya. Dan ketika satu barang sudah nggak cukup membuat kita terlihat keren, kita mencari yang berikutnya. Begitu terus.

Islam punya standar yang berbeda. Islam nggak bilang punya barang bagus itu dosa. Kita boleh punya HP bagus, pakaian bagus, makan enak, liburan, atau menikmati hasil kerja keras. Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai semua itu menentukan nilai diri kita. Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Jadi, ukuran kemuliaan kita bukan merek yang kita pakai, tempat yang kita datangi, atau seberapa banyak orang yang kagum kepada kita. Ukuran kemuliaan ada pada ketakwaan.

Islam juga nggak mengajarkan kita untuk membenci dunia. Kita boleh menikmati apa yang halal dan baik. Tapi Islam mengajarkan agar kita nggak berlebihan dan nggak diperbudak oleh keinginan. Allah SWT berfirman,

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

Jadi persoalannya bukan, “Boleh nggak punya barang bagus?” Pertanyaannya justru, “Siapa yang mengendalikan siapa?” Kita yang mengendalikan keinginan, atau keinginan yang mulai mengendalikan kita?

Mungkin mulai sekarang kita bisa coba lebih jujur kepada diri sendiri. Sebelum beli sesuatu, coba tanya, “Gue memang butuh atau cuma takut ketinggalan?” Sebelum ikut tren, tanya lagi, “Gue memang suka atau cuma takut dianggap nggak update?” Dan sebelum upload sesuatu, coba pikir sebentar, “Gue berbagi karena memang ingin berbagi, atau sebenarnya pengin diakui?” Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini bisa membantu kita membedakan mana kebutuhan, mana keinginan, dan mana sekadar dorongan untuk terlihat keren.

Kita nggak harus jadi orang yang anti media sosial. Nggak perlu juga pura-pura bilang, “Gue nggak peduli pendapat orang.” Ya, kita manusia. Dipuji tentu senang. Dilihat keren juga menyenangkan. Tapi jangan sampai hidup kita berubah menjadi pertunjukan yang harus selalu mendapat tepuk tangan. Boleh punya barang bagus. Boleh menikmati hidup. Tapi kita juga harus bisa menikmati sesuatu meskipun nggak ada yang melihat.

Karena pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan, “Apa yang bisa gue tunjukkan?” tetapi, “Sebenarnya gue sedang mengejar apa?” Selalu akan ada orang yang lebih kaya, lebih keren, lebih populer, dan punya barang yang lebih mahal. Kalau hidup kita terus diukur dari apa yang terlihat, kita nggak akan pernah merasa cukup. Jadi, sebelum menekan tombol post, mungkin sesekali kita perlu bertanya, “Kalau nggak ada yang melihat, apakah gue masih ingin melakukan ini?” Kalau jawabannya iya, mungkin kita memang sedang menikmati hidup. Tapi kalau tidak, mungkin yang sedang kita cari bukan barangnya, bukan tempatnya, bahkan bukan pengalamannya. Mungkin kita sedang mencari pengakuan.

Wallahua’lam.

Pos terkait