Hai gaes lagu ini tuh rilis lama banget, namun saat masuk bulan September, itu tuh dah pasti fyp. Kayak ngerasa, udah cepetin aja bulannya. Biar jadi Oktober.
Dan lagu itu pengalaman penulis yang ditinggal meninggal ayahnya saat berusia 10 tahun. Yes, maybe itu berat banget. Atau kamu juga ngalamin? Mengalami kepedihan atau depresi, dan apesnya terjadi di bulan September?
Atau pernah nggak kita merasa ingin tidur saja ketika hidup sedang berat? Kehilangan orangtua, gak lulus ujian, nilai jeblok, atau “kemalangan” yg lain. Memang kadang pengen tidur kan gak melulu mengantuk.
Tapi karena kita ingin waktu berjalan cepat. Jalan, pergi jauh bersama lukanya.
Kita ingin masalah selesai.
Kita ingin luka hilang.
Kita ingin fase buruk segera berakhir.
“Wake me up when September ends.”
Secara harfiah, kalimat itu terdengar sederhana, bangunkan aku ketika September berakhir. Dah sebulan saja jangan bangunin gw. Gw pengin ini berakhir.
Tapi kalau kita bawa ke kehidupan remaja hari ini, kalimat tersebut bisa menjadi sebuah pertanyaan besar, jangan-jangan, selama ini kita juga sedang “tidur” dalam kehidupan kita sendiri? Kita kayak pingin kabur dari masalah dan luka yang berat.
Kita Hidup, Tapi Benarkah Kita Sadar?
Bahwa hidup gak bisa hanya sekedar hidup, seperti pepatah “kalau hanya hidup, kerbau di sawah juga hidup“, “kalau hanya hidup, kera di hutan juga hidup.”
Hari-hari kita dipenuhi notifikasi. Di Instagram, di tiktok, di YouTube seliweran, hal-hal yang membuat luka menganga, putus cinta? Hah? Come on man, jadikan lirik sedih itu untuk berdamai pada keadaan, jadikan airmata itu emot api 3 yang membuat semangat lagi. The show must go on.
Apakah dengan berlarut, menyelami kelabu di bulan September, lantas menjadikanmu lebih baik dari kemarin? Atau justru semakin jauuuuh. Semakin hilang dari peredaran circle positif, orang-orang pecinta hijrah, teman-teman yang gemar majelis ilmu, atau amit-amit kamu ga mau Dateng kajian lagi. Oh no…
So, apakah kita masih tahu bagaimana hubungan kita dengan Allah SWT? Ngerasa makin jauh gap-nya. Yuk ah dipanjat lagi dengan taburan istighfar, dengan bergaul teman-teman pecinta agama ini.
Kita hafal password akun media sosial, tetapi lupa kapan terakhir kali membuka Al-Qur’an? Waktu bulan puasa aja? Atau bertahun-tahun jadi pajangan.
Kita tahu jadwal pertandingan, konser, atau konten terbaru, tetapi sering tidak tahu kapan terakhir kali kita benar-benar menangis karena dosa?
Jangan-jangan kita ini memang hanya seonggok jasad yang terjaga, namun nyatanya ingin jiwanya tertidur. Tidur karena merasa semakin jauh dariNya, dan sudah tahu solusinya sedemikian rupa banyaknya, tapi masih saja ingin terlelap dalam kelabu luka.
Dan saatnya bangun, dan sadar bahwasanya hidup ini tidak soal wake me up when September ends, tetapi juga wake up now, dan raih ridhoNya. Karena ajal tidak memandang, dan bisa di-request hingga September berakhir.
Wallahua’lam





