Job Fair Bekasi Meradang, Bukti Buruknya Peran Negara

Sembilan orang terpaksa dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena pingsan akibat berdesak-desakan dalam mengikuti Job Fair di Bekasi. Tidak hanya itu saja, sejumlah pencari kerja terlibat ricuh karena saling berebut Quick Response (QR) saat akan masuk gedung bursa kerja tersebut. Sebagaimana dikutip Kompas.com (28/05/2025), Pemerintah Bekasi menggelar Job Fair pada tanggal 27 Mei 2025 di Gedung Convention Center President University, Bekasi. Dalam job fair tersebut terdapat banyak lowongan pekerjaan dari beberapa perusahaan yang diperebutkan sekitar puluhan ribu pencari kerja dari berbagai daerah. Akibatnya, kerusuhan pun tidak bisa dielakkan.

Pengamat Ketenagakerjaan, Tadjudin Noer Effendi menilai insiden yang terjadi di Job Fair Bekasi tersebut menandakan bahwa lapangan pekerjaan masih banyak dibutuhkan oleh masyarakat, dimana menurut Badan Pusat Statistik (BPS) angka pengangguran di negeri ini masih cukup tinggi. Selain itu, ia menilai bahwa pemerintah belum cukup cepat dalam menangani masalah lapangan kerja. Walhasil, setiap ada bursa kerja yang digelar akan selalu dipadati oleh para pencari kerja dan ujung – ujungnya akan berpotensi menimbulkan kericuhan dan korban.

Bacaan Lainnya

Angka pengangguran yang cukup tinggi di negeri ini memaksa para pencari kerja memanfaatkan setiap momen job fair untuk mencari pekerjaan yang layak agar bisa mencukupi kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Mereka rela berdesak-desakan hanya untuk satu lowongan kerja saja. Tak heran jika ada insiden tidak menyenangkan saat ada momen seperti itu.

Job Fair Bekasi yang seharusnya menjadi wadah bagi pencari kerja untuk menemukan pekerjaan yang sesuai, justru menjadi sorotan karena dinilai tidak efektif dan tidak mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja. Kondisi ini menunjukkan buruknya peran negara dalam menangani masalah lapangan kerja dan memberikan perlindungan kepada warganya.

Buruknya peran negara dalam mengurusi urusan rakyatnya merupakan buah dari diterapkan sistem Kapitalisme. Sistem ini mengutamakan kepentingan para Oligarki di atas kepentingan rakyat. Negara lebih fokus pada menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi para Oligarki sementara kebutuhan dasar rakyat seperti kebutuhan pokok, kesehatan, pendidikan, dan lapangan kerja terabaikan.

Dalam sistem ini pula, negara menjadi alat bagi para Oligarki untuk mengeruk keuntungan tanpa memperhatikan dampak sosial dan lingkungan. Hal ini menyebabkan kesenjangan ekonomi yang semakin lebar, kemiskinan yang meningkat, dan kualitas hidup rakyat yang menurun. Peran negara yang seharusnya melindungi dan melayani rakyat, berubah menjadi alat untuk melayani kepentingan para Oligarki.

Kapitalisme juga menciptakan kompetisi yang tidak sehat dan memicu eksploitasi sumber daya alam dan manusia. Negara seringkali tidak mampu mengontrol praktik – praktik bisnis yang tidak bertanggung jawab, sehingga rakyat menjadi korban dari kerusakan lingkungan dan eksploitasi tenaga kerja.

Sebaliknya, dalam Islam, negara memiliki peranan yang penting dan besar dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya. Islam menjadikan negara sebagai _raa’in_ yang mengurus urusan rakyat, melindungi, dan menjamin lapangan pekerjaan yang luas yang bisa diakses oleh seluruh warganya tanpa terkecuali. Dan hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim r.a dan menyatakan bahwa seorang kepala negara adalah pengurus rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.

Islam dengan tegas menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab negara yang harus dilakukan melalui cara – cara yang sesuai dengan syari’at Islam. Selain itu, penerapan sistem ekonomi Islam menjamin kesejahteraan hidup masyarakat dan menjamin tersedianya lapangan kerja yang luas bagi warganya. Melalui pengelolaan sumber daya alam yang efektif dan efisien, akan mampu menciptakan lapangan kerja yang luas dan bisa diisi oleh tenaga kerja yang banyak. Demikianlah Islam mengatur setiap masalah yang muncul dengan solusi yang tuntas. [Abdul Shokib (Pemerhati Lingkungan dan Literasi Islam)]

Wallahua’lam.

Pos terkait