Kita hanyalah manusia yang memiliki keterbatasan dalam menjangkau nikmatnya Allah SWT yang begitu luas, memiliki kelemahan, serba kurang dan bergantung pada sesuatu yang melebihi dirinya, yaitu Allah SWT, Pencipta sekaligus Pengatur Kehidupan ini.
Karena keterbatasan dan kelemahan itulah Allah memberikan akal, kebutuhan jasmani dan naluri kepada manusia untuk bisa menyelami dan mencari karunia Allah yang sangat luas di muka bumi ini sesuai dengan apa yang sudah Allah SWT syari’atkan kepada kita dalam Al Qur’an dan As Sunnah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)
Allah SWT menciptakan manusia dan jin ke dunia ini memiliki tujuan yang jelas yaitu beribadah kepada Allah SWT. Mengutip Tafsir dari Ibnu Katsir, beliau menjelaskan bahwa Allah tidak membutuhkan ibadah manusia, tetapi manusia yang memerlukan Allah dalam segala aspek kehidupan mereka. Allah menciptakan dan memberi rezeki kepada manusia, dan mereka wajib menaati-Nya. Bagi yang taat, Allah menjanjikan balasan sempurna, sementara bagi yang durhaka, akan mendapatkan azab yang berat.
Beliau juga menambahkan bahwa ketergantungan manusia pada Allah adalah mutlak dalam segala keadaan. Allah menciptakan manusia bukan untuk keuntungan-Nya sendiri, melainkan agar manusia mengenal dan menyembah-Nya. Ketidakbutuhan Allah terhadap manusia menunjukkan keagungan dan kekuasaan-Nya, sementara kebutuhan manusia kepada Allah menunjukkan kelemahan dan ketergantungan mereka. Oleh karena itu, ayat ini mendorong manusia untuk taat dan beribadah kepada Allah dengan penuh kesadaran akan posisi mereka sebagai hamba yang membutuhkan rahmat dan petunjuk-Nya.
Lalu apa yang bisa dilakukan manusia?
Salah satunya adalah dengan bersegera melaksanakan syari’at Nya tanpa tapi dan tanpa nanti.
Rasulullah SAW bersabda,
“Wahai Anak Adam, engkau tidak akan mendapatkan apa saja yang ada pada-Ku kecuali dengan melaksanakan perkara yang telah Aku fardhukan kepadamu. Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunah, maka pasti Aku akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya; Aku akan menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya; dan Aku akan menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdoa kepada-Ku, maka pasti Aku akan mengabulkannya. Jika ia meminta kepada-Ku, maka pasti Aku akan memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, maka pasti Aku akan menolongnya. Ibadah hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat.” (HR Thabrani)
Oleh karena itu, sudah saatnya kita bangkit dari tidur dan angan – angan semu, menjalankan kehidupan ini sesuai dengan syari’at Allah SWT dengan penuh ketaatan dan kepatuhan yang totalitas agar keberkahan hidup bisa qta rasakan dan mempermudah jalan qta dalam mencari bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Semoga Allah SWT selalu memberikan berkah dan petunjukNya untuk kita agar selalu dekat, dekat dan dekat dengan Allah SWT. [Abdul Shokib, ST., MM]
Wallahua’lam.




