Walaupun Rakyat Jelata, Melek Politik itu Penting

Sering ngobrol dengan banyak kalangan terkait dengan politik, entah itu di warung kopi, di pasar, di WhatsApp, atau yang lain. Tidak sedikit yang apatis terkait pembahasan politik, tentu dengan berbagai macam alasan. Alasan yang paling populer adalah “politik sudah ada yang ngurus, kita fokus dikehidupan keluarga kita saja”. Karena kebanyakan dari mereka berfikir bahwa politik itu terbatas hanya pada pembahasan para anggota DPR di parlemen, terbatas pada pembahasan aparatur negara di kantor – kantor pemerintahan saja.

Secara umum tentu hal ini wajar, karena tekanan kehidupan yang sangat luar biasa sehingga menghasilkan pemikiran pragmatis. Mereka kebanyakan hanya fokus dengan apa yang mereka hadapi saja, tanpa mempedulikan penyebab kenapa situasi sulit itu bisa menghampiri mereka. Misalnya saja dengan sulitnya mencari lapangan pekerjaan, apalagi bagi kaum laki – laki yang notabene melekat tanggung jawab nafkah di pundaknya. Kaum laki – laki sangat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, yang bisa untuk mencukupi kehidupan keluarganya sehari – hari.

Bacaan Lainnya

Tidak banyak dari rakyat negeri ini yang menyadari bahwa apa yang terjadi di kehidupan kita sekarang ini adalah dampak dari kebijakan politik yang dibuat oleh pemangku kebijakan. Mahalnya harga BBM yang ada, menyebabkan transportasi naik, dan tentunya berdampak kepada kenaikan harga barang – barang kebutuhan pokok lainnya, ini termasuk dampak dari kebijakan politik. Belum lagi pemberlakuan pajak yang diberlakukan hampir di semua lini, ini juga menambah beban tersendiri bagi rakyat negeri ini. Padahal para pemangku kebijakan itu yang memilih adalah rakyat.

Ketidakpedulian rakyat terhadap politik inilah yang menyebabkan mereka dimanfaatkan oleh para politisi yang hanya membutuhkan suara mereka ketika pemilu. Setelah pemilu, para politisi itu tidak lagi peduli akan nasib mereka. Undang – undang yang dihasilkan tidak pro rakyat dan lebih menguntungkan para politisi, partainya, dan para Oligarki. Inilah bukti bahwa politisi itu tidak pro akan kepentingan rakyat. Dan hal ini selalu berulang setiap 5 tahun sekali.

Begitulah tabiat politik didalam sistem Demokrasi Kapitalis. Rakyat hanya dijadikan alat untuk meraih kekuasaan. Ini berbeda dengan sistem politik didalam Islam. Definisi politik didalam Islam, seperti apa yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Qodim Zallum, didalam kitab Afkar Syiaasyiah. Beliau mendefinisikan; “Politik ialah memelihara (mengatur) urusan umat, baik didalam negeri maupun diluar negeri. Dan politik itu diperankan oleh negara dan umat; negara melaksanakannya secara langsung (praktis), sedangkan umat melaksanakannya dengan mengoreksi negara“.

Jadi, politik itu tidak hanya melulu di dalam parlemen atau pemerintahan saja. Tetapi dengan kita mengoreksi kebijakan yang ada, apalagi kebijakan yang cenderung menyengsarakan rakyat, itu adalah bagian dari politik juga. Maka, sudah seharusnya kita melek politik, peduli akan kondisi yang ada saat ini dan terus menyuarakan kepada penguasa maupun rakyat, kalau ingin pengurusan negara ini baik, tentu dengan menerapkan sistem Politik Islam, bukan yang lain. [Sahabat Pena: Jady Rembang]

Wallahu’alam…

Pos terkait