Saya awalnya hanya seorang mahasiswa dari sebuah kampung di Jateng. Bisa dikatakan saya Islam abangan. Meskipun saya lahir dan tumbuh besar dengan kultur Islam yang sangat kental.
Dari kecil saya sudah akrab dengan yasinan, tahlilan, sholawatan, manaqiban dan tentu saja maulidan. Dan aku mengikuti semua itu secara otomatis karena semua itu berlangsung di masyarakatku. Dan saya ga ada masalah. Tapi dari aspek pemahaman Islam saya awam. Hanya belajar sekedarnya di SD, SMP dan SMA. Ditambah pas ndenger ceramah saat peringatan hari besar macam maulidan, Isra’ mi’raj, dan berbagai pengajian yang sangat marak. Dan sampai sekarang pun saya masih akrab dengan semua tradisi tersebut dan ga ada masalah.
Saya mulai mengenal Islam secara ilmiyah bukan sekedar kultural sejak masuk kuliah di IPB pada tahun 1991. Sudah lama juga yah lebih 30 tahun yang lalu. Saat itu di kampus dan sekitarnya marak kegiatan keislaman. Dengan berbagai latar belakang gerakan dan organisasi Islam. Termasuk juga berbagai majelis ta’lim dan ponpes sekitar kampus. Banyak mahasiswa yang aktif ngaji. Dan Alhamdulillah termasuk saya.
Hampir semua pengajian saya ikut. Namanya juga pengin belajar Islam. Majelis ta’lim di mushola dekat kos saya ikut. Ngaji di HMI cabang Bogor saya juga ikut, saya sempat ditawari aktif di LDMI pada tahun ketiga kuliah. Di pengajian kampus seperti di tarbiyah dan LDK (lembaga dakwah kampus) saya juga ikut. Pokoknya hampir tiada hari kecuali ngaji.
Namun akhirnya saya harus memilih karena tidak semua bisa saya istiqomahi mengingat keterbatasan waktu dan tenaga. Maka akhirnya saya memilih aktif ngaji di HTI. Dengan berbagai pertimbangan. Tentu yang paling pokok karena ajaran Islam kaffah yang diajarkan HTI begitu kuat memuaskan akal dan menentramkan hati. Yang bisa digambarkan secara ringkas sebagai berikut:
01. Ajaran Islam Kaffah
Sebagai muslim saya diajarkan untuk berislam secara kaffah. Memahami dan meyakini islam totalitas baik aqidah maupun syariah Islam. Meskipun semua muslim atau gerakan Islam pastinya ingin Islam kaffah namun ada perbedaan dengan HTI. Yakni dari segi konsep ajaran Islam yang menyeluruh, detil dan sistemik.
Islam difahami sebagai way of live yang sesungguhnya. Bukan hanya slogan tak berbentuk. Islam wajib diterapkan dalam kehidupan individu, masyarakat dan negara. Disinilah ajaran Islam dijelaskan dan dikonsepkan oleh HTI dengan detil baik untuk individu, masyarakat maupun negara. Benar benar konseptual sekaligus praktis menjadi solusi atas semua problem baik bagi individu, masyarakat maupun negara. Sebagaimana contoh praktis dan konkrit dari Baginda Nabi Sayidina Muhammad shalallahu alaihi wa salam dengan mendirikan negara Islam Madinah ketika beliau saw dan para sahabat hijrah dari mekkah ke Madinah.
Oleh karena itulah HTI sangat memperhatikan pembentukan kepribadian Islam setiap aktifis nya. Karena para aktifisnya merupakan modal paling penting untuk memperjuangkan tegaknya Islam kaffah setelah ajaran Islam itu sendiri. HTI sangat sangat serius menggembleng para aktifisnya dalam sistem halqoh pekanan yang menjadi kewajiban pertama dan utama setiap aktifisnya. Tidak peduli siapapun, apakah ulama, cendekiawan maupun awam jika mau bergabung dengan HTI wajib mengikuti proses halqoh tanpa kecuali. Sehingga mereka akan memiliki pemikiran dan pemahaman Islam yang sama. Juga memiliki perasaan yang sama sebagai muslim dan pengemban dakwah. Dalam halqoh inilah telah dipersiapkan semua kitab yang harus dikaji hingga tuntas. Mulai dari yang paling dasar hingga paling tinggi. Untuk membentuk akhlaq para aktifisnya HTI khusus menyiapkan kita min muqowwimat nafsiyah islamiyah yang praktis menjelaskan perilaku seorang muslim dalam hidupnya sehari hari.
Dalam tataran masyarakat dan negara HTI dengan sungguh sungguh telah mempersiapkan konsep menyeluruh tentang ajaran Islam untuk diterapkan dalam sistem khilafah. Ada kitab an nizhomul hukmi dan ajhizah daulah tentang sistem pemerintahan Islam.
Ada kitab an nizhomul ijtimaiy tentang sistem sosial pergaulan dalam Islam. Ada kitab an nizhomul iqtishody tentang sistem ekonomi dalam Islam. Ada kitab Al amwal fid daulatil khilafah tentang sistem keuangan negara Islam. Ada juga kitab mafahim siyasiy yang membahas politik luar negeri menurut ajaran Islam. Sehingga para aktifisnya akan memahami konsep Islam kaffah secara sistemik, detil dan aplikatif yang bersih hanya dari Islam. Tidak tercampur sedikitpun dari konsep lain selain Islam baik kapitalisme maupun sosialisme komunisme. Bukan hanya slogan kosong Islam kaffah sementara secara praktek masih ikutan sistem lain baik kapitalisme maupun sosialisme komunisme.
Islam kaffah dalam tataran individu masyarakat maupun negara hanya akan terwujud dan eksis dalam satu satunya sistem Islam yakni khilafah. Disinilah mengapa HTI untuk saat ini fokus berjuang menegakkan khilafah sebab tidak ada khilafah sejak runtuhnya khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924 masehi. Sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem sosial, sistem pidana dan semua ajaran Islam kaffah inilah yang diperjuangkan HTI agar terlaksana secara praktis dalam kehidupan.
Dari halqoh lah saya bisa memahami dengan clear semua konsep ajaran Islam baik aqidah maupun syariah. Baik syariah untuk individu, masyarakat maupun negara. Juga memahami bagaimana metode dakwah kita untuk merealisasikan semua ajaran Islam secara praktis dalam kehidupan Islam yang rahmatan Lil alamin. Semua itu bukan ajaran HTI. Sekali lagi bukan ajaran HTI. Namun semua itu adalah ajaran Islam yang kita warisi dari Baginda Nabi Sayidina Muhammad shalallahu alaihi wa salam sejak 15 abad yang lalu. Yang kita disetujui oleh Allah untuk berislam dengan kaffah bukan sebagian sebagian.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah Ayat 208
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Yakni masuk kepada islam yang sudah Allah sempurnakan. Islam yang mencukupi kebutuhan manusia tanpa memerlukan penambahan dan pengurangan.
Allah berfirman dalam surat Al Madinah ayat 3:
“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
Insyaallah bersambung ke bagian kedua. [Ustadz Abu Zaid R]





