Kita Bukan Artis Yang Menghibur, Tapi Pengemban dakwah Yang Mengubah

dakwah

Di jaman sosmed sekarang seolah netizen menjadi hakim. Siapa yang layak tampil dan tidak. Siapa yang bertahan siapa yang tidak. Siapa yang bisa kaya dengan akunnya dan siapa yang tidak. Pendek kata semua terserah netizen.

Akibatnya, seolah standar yang berlaku umum adalah viral atau istilah semacam itu. Siapa yang viral dia berhasil dan sukses. Siapa yang ga viral berarti gagal. Akibat selanjutnya setiap orang berupaya dengan segala cara membuat konten yang diharap harap bisa viral. Tak peduli norma atau sopan santun. Tak peduli akhlak dan moral apalagi halal dan haram.

Bacaan Lainnya

Semua diterjang demi viral.

Jika dalam bidang bisnis atau nyari uang atau dunia artis maka hal seperti ini bisa dimaklumi

Karena memang pebisnis atau artis nyari hidup di sosmed. Namun jika ini juga menimpa pengemban dakwah maka itulah musibah.

Bagaimana itu terjadi? 

Memang ada irisan kepentingan viral antara bisnis atau artis dengan dakwah. Jika bisnis makin viral maka akan makin untung. Sementara dakwah jika makin viral diharapkan akan lebih banyak orang yang menjadi lebih baik. Aliasa mendapat hidayah. Irisan ini memang tipis. Dan kadangkala para pengemban dakwah bisa tertipu. Bahwa seolah jika konten dakahnya viral berarti banyak orang dapat hidayah. Padahal belum tentu demikian bukan?

Jika artis buat konten yang paling penting adalah bisa menghibur sesuai keinginan sebanyak mungkin netizen ga peduli benar salah, baik buruk apalagi halal haram. Maka pengemban dakwah dalam membuat konten yang paling penting adalah benar sesuai standar aqidah dan syariah. Sampaikan kebenaran meskipun pahit. Meskipun netizen tak suka kemudian berujung unfollow. Sebab pengemban dakwah tugasnya bukan menghibur namun mengubah orang menjadi lebih baik. Lebih beriman dan lebih Sholih tentu nya.

Maka dalam membuat konten sangat penting memperhatikan apa saja perkara yang disepakati, apa saja perkara yang ada ikhtilaf dan perkara apa saja yang ditabanni alias diadopsi. Sehingga setiap konten akan mampu membawa pesan yang tidak hanya benar namun juga tepat.

Reaksi netizen hingga pro-kontra mereka terhadap konten dakwah kita itu wajar saja. Ga ada masalah. Asal sudah dipastikan bahwa konten kita benar. Tidak menyalahi yang disepakati, atau perkara yang yang diadopsi. Wajar netizen memberikan reaksi baik positif maupun negatif. Disitulah tugas kita mendidik mereka. Se negatif apapun reaksi mereka oke saja karena justru akan membuka ruang diskusi. Inilah yang kita harapkan, muncul ruang kita bicara.

Namun bukan perkara yang bagus jika konten kita justru menjadi kontroversi di kalangan pengemban dakwah dari sisi manapun

Khususnya dari sisi bahwa konten kita dianggap atau dipandang malah menyalahi Islam atau nyerempet nyerempet perkara yang dilarang. Atau perkara yang termasuk syubhat yang bisa mengarah kepada yang haram.

Misalnya perkara yang bisa menimbulkan berbagai sudut pandang berbeda di kalangan pengemban dakwah.

Contohnya foto atau video kita hadir dalam forum yang berpose dengan istri atau suami kita kemudian ada laki laki atau wanita lain didalamnya. Maka ini termasuk kategori syubhat yang bisa mengantarkan kepada yang haram sehingga mestinya kita hindari jauh jauh. Dalam kitab an nizhomul ijtima’iy masuk kategori syubhat yang mesti dihindari. Karena dikhawatirkan bisa menjerumuskan pada yang haram. Begitulah penjelasan Al Alim Al Jalil Syaikh Atho’ Abu Rasytah.

Atau suatu pemikiran yang bisa dianggap nyerempet pemikiran kufur seperti tentang nasionalisme dan demokrasi. Dll.

Oleh karena itulah, kita mesti kokoh berdiri pada posisi pengemban dakwah. Yang tugasnya untuk memperbaiki umat ini. Mengubah umat Islam dari yang tidak islami menjadi islami. Mengubah dari orang kafir agar menjadi muslim dengan dakwah kita. Kita bukan artis yang mengejar viral demi cuan hingga mengikuti selera netizen meskipun menerjang aqidah dan syariat Islam.

Surat Ali ‘Imran Ayat 104

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Selamat berjuang Sobat semoga kita Istiqomah. Wallaahu a’lam. [Ustadz Abu Zaid]

Pos terkait