Sedikit imajinasi tentang negeri yang bernama Indonesia.
Bayangkan ada sebuah rumah.
Di halamannya ada tambang emas.
Di belakangnya ada ladang minyak.
Di sampingnya ada hutan jati. Di bawahnya ada nikel, batu bara, gas, dan laut yang ikannya tidak habis tujuh turunan.
Rumah itu bernama Indonesia.
Secara data, kita ini superkaya:
- Nikel terbesar di dunia, kita yang punya.
- Timah terbesar kedua di dunia.
- Batu bara terbesar ketiga di dunia.
- Emas di Papua, cadangannya 1.187 ton, salah satu yang terbesar di bumi.
- Gas alam 2,8 triliun meter kubik.
Tapi lihat yang tinggal di dalam rumah itu.
Petaninya menjual gabah murah, tetapi membeli beras mahal. Nelayan melaut 12 jam, pulang membawa utang solar. Anak mudanya berijazah S-1, tetapi bekerja sebagai kurir dengan gaji Rp2 juta. Ibunya mengantre gas melon sejak subuh. Bapaknya sudah 45 menit mengantre air bersih, padahal di bawah kakinya ada sumber air.
Kenapa bisa begitu?
Karena kunci gudang harta itu tidak dipegang oleh pemilik rumah. Kuncinya diserahkan kepada orang lain.
- Freeport di Papua 81% dikuasai asing selama puluhan tahun, baru ribut-ribut soal divestasi.
- Blok Cepu, Blok Mahakam, Blok Rokan, yang dikelola Exxon, Chevron, dan Total.
- Smelter nikel yang untung besar, pemiliknya investor luar, pekerjanya TKA.
- Laut kita yang kaya, kapal pukat asing yang panen.
Rakyatnya cuma dapat apa?
Debu tambangnya, banjirnya, konflik lahannya, dan lowongan kerja menjadi satpam tambang.
Inilah yang dalam bahasa paling jujur disebut PENGKHIANATAN.
Bukan karena pemimpinnya tidak tahu. Mereka melakukan semua itu dalam batas kesadaran.
Dalam Islam, ini namanya khianat dan itu merupaka dosa besar. Allah tidak menyebut ini sekadar salah kelola. Allah menyebutnya khianat.
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (TQS. Al-Anfal: 27)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa amanat itu adalah semua yang Allah titipkan seperti jabatan, harta umat, sumber daya alam (SDA), dan keadilan.
Rasulullah saw. mengingatkan, pemimpin yang berkhianat tidak akan masuk surga,
“Tidaklah seorang pemimpin yang memimpin urusan kaum muslimin, kemudian dia tidak bersungguh-sungguh dan tidak memberi nasihat untuk mereka, melainkan dia tidak akan masuk surga bersama mereka.” (HR. Muslim)
Dan dalam hadis lain,
“Barangsiapa yang Allah beri kekuasaan atas urusan umat, lalu dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah haramkan surga atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan, Bos. Ancaman bagi pengkhianat itu bukan cuma turun jabatan, tetapi haram masuk surga.
Kenapa sekeras itu?
Karena SDA itu bukan milik negara. Dalam Islam, SDA itu milik rakyat (kepemilikan umum).
Rasulullah saw. bersabda,
“Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal yaitu air, padang rumput, dan api (energi).” (HR. Abu Dawud, Ahmad)
Ulama juga menjelaskan bahwa tambang yang melimpah, minyak, gas, hutan, dan laut—itu adalah Al-Milkiyah Al-‘Ammah—kepemilikan umum. Haram hukumnya diserahkan kepada swasta, apalagi asing.
Tugas negara cuma satu yaitu mengelola, bukan menjual. Hasilnya dikembalikan 100% untuk rakyat berupa pendidikan gratis, kesehatan gratis, modal usaha, dan lain sebagainya.
Kalau negara malah menjual kepada asing dengan alasan investasi, itu namanya menjual barang yang bukan miliknya. Dalam fikih, itu disebut khianat dan ghasab.
Bentuk – bentuk Pengkhianatan Hari Ini
Pertama, menjual harta umat atas nama investasi. Dalihnya bahwa kita butuh modal, butuh teknologi. Namun faktanya negara memberikan konsesi 30 tahun, mereka membawa pulang keuntungan 80%, kita kebagian limbah dan 20% pajak yang bocor lagi dikorupsi. Ini bukan investasi, ini gadai kedaulatan.
Kedua, membuat aturan yang memiskinkan rakyat sendiri. UU yang membolehkan asing menguasai 95% hulu migas, UU yang mempermudah HGU 90 tahun untuk korporasi sawit, sementara petani gurem bersengketa atas lahan 2 hektare dan kalah di pengadilan. Itu bukan regulasi, itu surat pengkhianatan yang dilegalkan.
Ketiga, mengambil keuntungan dari penderitaan rakyat. Rakyat butuh listrik, air, dan BBM—itu kebutuhan pokok. Dalam Islam, itu harus murah, bahkan gratis. Tapi di sistem sekarang, negara menjadi pedagang: beli gas murah, jual mahal ke PLN, PLN jual mahal ke rakyat. Negara untung dari penderitaan rakyatnya sendiri.
Padahal, Umar bin Khattab r.a. pernah berkata, “Kalau ada unta mati di tepi Sungai Eufrat karena tidak terurus, aku takut Allah akan bertanya kepada Umar di akhirat.”
Bagaimana dengan pemimpin yang melihat rakyatnya mengantre gas, susah sekolah, tetapi dia sibuk menandatangani kontrak dengan asing?
Bagaimana Islam Menghentikan Pengkhianatan Ini?
Islam tidak cuma melaknat, Islam memberi sistem pengunci agar pengkhianatan tidak terjadi lagi.
Solusi yang diberikan oleh Islam adalah:
Pertama, mengembalikan status SDA sebagai milik umum. Cabut semua konsesi tambang dan migas yang melimpah yang dikuasai asing. Negara mengelolanya sendiri melalui Baitulmal, hasilnya untuk kesejahteraan, bukan untuk membayar bunga utang riba.
Kedua, mengharamkan privatisasi dan liberalisasi. Tidak boleh ada UU yang membolehkan asing memiliki SDA. Khilafah dahulu, tambang dikelola negara, bukan dijual sahamnya di Bursa New York.
Ketiga, menghidupkan Mahkamah Mazhalim— pengadilan untuk penguasa. Dalam Islam, ada pengadilan khusus yang bisa menyeret khalifah sekalipun jika dia menyerahkan harta umat kepada asing. Rakyat kecil bisa menggugat pemimpinnya. Hakimnya tidak bisa diintervensi. Tidak ada istilah “kebal hukum” untuk penguasa.
Keempat, memilih pemimpin yang takut akhirat, bukan takut asing.
Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan di hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajibannya.” (HR. Muslim)
Pemimpin yang benar akan berkata seperti Abu Bakar r.a. saat dilantik, “Jika aku benar, bantulah aku. Jika aku salah, luruskan aku.”
Bukan yang antikritik.
Rakyat Miskin Bukan Karena Malas, Tapi Karena Dikhianati
Bos, berhentilah menyalahkan rakyat. Rakyat kita tidak malas. Petani kita rajin, nelayan kita kuat, anak mudanya kreatif.
Mereka miskin bukan karena tidak mau bekerja. Mereka miskin karena hasil kerja dan kekayaan alamnya dirampok secara legal melalui kebijakan.
Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil.” (TQS. An-Nisa: 29)
Pengkhianatan terbesar bukan hanya soal pemimpin yang mengorupsi uang rakyat. Namun, juga ketika pemimpin menyerahkan masa depan rakyat, tanahnya, airnya, dan tambangnya kepada asing, sementara rakyatnya disuruh bertahan hidup dengan bansos.
Semoga Allah menyelamatkan negeri ini dari pemimpin pengkhianat dan Allah segera menggantikannya dengan pemimpin (khalifah) yang amanah, yang mengembalikan semua harta umat kepada umat. Aamiin.
Wallahua’lam.


