Pernah nggak sih kita buka Instagram atau TikTok cuma sebentar, tapi setelah beberapa menit malah merasa hidup kita kok biasa-biasa saja? Lihat orang lain baru beli HP, ada yang liburan, ada yang nongkrong di tempat keren, ada yang outfit-nya selalu kelihatan bagus, atau ada yang sepertinya hidupnya penuh pencapaian. Awalnya kita cuma melihat-lihat. Tapi tiba-tiba muncul pikiran, “Kok hidup gue gini-gini aja, ya?” Padahal beberapa menit sebelumnya kita baik-baik saja.
Yang lebih menarik, perasaan seperti itu bisa muncul meskipun sebenarnya kita tidak sedang kekurangan sesuatu. HP kita masih bisa dipakai. Baju kita masih bagus. Uang yang kita punya juga masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tetapi setelah melihat apa yang dimiliki orang lain, muncul keinginan untuk ikut punya. Apalagi kalau barang atau gaya hidup itu sedang ramai dibicarakan. Kita takut ketinggalan, takut dianggap nggak update, atau sekadar ingin merasakan apa yang orang lain rasakan. Inilah yang sering disebut FOMO (Fear of Missing Out).
FOMO mungkin terdengar seperti istilah yang biasa saja. Tetapi kalau dipikir-pikir, efeknya cukup menarik. Kita bisa membeli sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan hanya karena melihat orang lain memilikinya. Kita bisa ikut tren yang sebenarnya tidak terlalu kita sukai. Bahkan, kadang kita mengeluarkan uang yang sebenarnya belum perlu dikeluarkan. Setelah mendapatkannya, kita memang senang. Tapi tidak lama kemudian muncul lagi sesuatu yang baru. Kita tertarik lagi, ingin punya lagi, lalu merasa kurang lagi. Jangan-jangan, masalahnya bukan karena kita benar-benar kekurangan. Jangan-jangan kita sedang belajar merasa kurang.
Kalau kita perhatikan, hampir setiap hari ada saja sesuatu yang membuat kita merasa perlu mengikuti perkembangan terbaru. Ada HP keluaran terbaru, sepatu yang sedang viral, tempat nongkrong yang ramai di media sosial, skincare yang sedang banyak dipakai, sampai gaya berpakaian yang tiba-tiba dianggap keren. Semua datang silih berganti. Belum selesai mengikuti satu tren, sudah muncul tren berikutnya. Akhirnya, kita seperti berada dalam perlombaan yang garis finisnya tidak pernah ada.
Media sosial membuat perlombaan itu terasa semakin dekat. Kita tidak hanya melihat teman di sekolah atau lingkungan sekitar, tetapi juga melihat kehidupan ribuan bahkan jutaan orang setiap hari. Masalahnya, yang kita lihat biasanya adalah bagian kehidupan yang memang ingin mereka tampilkan. Foto terbaik, pencapaian terbaik, liburan terbaik, barang terbaru, dan momen paling menyenangkan. Lama-lama kita membandingkan kehidupan kita yang sebenarnya dengan kehidupan orang lain yang sudah dipilih dan dikemas untuk ditampilkan. Dari sinilah standar tentang “keren”, “sukses”, dan “bahagia” bisa berubah tanpa kita sadari.
Lalu siapa yang diuntungkan ketika kita terus merasa kurang? Di sinilah persoalannya mulai menjadi lebih serius. Dalam budaya kapitalisme, semakin banyak keinginan yang muncul, semakin besar pula peluang barang dan jasa untuk dijual. Kita tidak cukup hanya dibuat membutuhkan sesuatu, kita juga terus didorong untuk menginginkan sesuatu yang sebenarnya belum kita butuhkan. Iklan, tren, influencer, diskon, dan berbagai strategi pemasaran bekerja membentuk keinginan itu. Akhirnya, yang dijual bukan cuma barang, tetapi juga sebuah gambaran tentang seperti apa hidup yang dianggap keren dan bahagia.
Jadi, mungkin persoalannya bukan sekadar anak muda terlalu konsumtif atau terlalu sering bermain media sosial. Ada sesuatu yang lebih dalam. Yap, cara kita memandang kehidupan sedang dibentuk. Kita perlahan diarahkan untuk mengukur kebahagiaan dari apa yang kita punya, mengukur keberhasilan dari apa yang bisa kita tampilkan, dan mengukur harga diri dari bagaimana orang lain melihat kita. Kalau cara pandang seperti ini terus dibiarkan, sebanyak apa pun yang kita punya, rasanya tetap bisa kurang. Lalu, apakah memang seperti itu seharusnya kita menjalani hidup?
Pertanyaan ini menjadi penting karena Islam memiliki cara pandang yang berbeda tentang kehidupan. Islam tidak mengatakan bahwa punya barang bagus itu salah. Menikmati makanan enak, memakai pakaian yang bagus, memiliki HP yang sesuai kebutuhan, atau menikmati hasil kerja juga bukan sesuatu yang otomatis bertentangan dengan Islam. Yang perlu kita tanyakan adalah untuk apa kita memiliki semua itu dan bagaimana kita mendapatkannya? Sebab, dalam Islam, dunia bukan sesuatu yang harus dibenci, tetapi juga bukan sesuatu yang layak dijadikan tujuan hidup.
Allah SWT mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah harta, penampilan, popularitas, atau status sosial, melainkan ketakwaan. Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini menarik untuk direnungkan. Di tengah dunia yang sering mengatakan, “Kamu akan dianggap kalau kamu punya sesuatu,” Islam justru memberikan standar yang berbeda. Kita tidak menjadi lebih berharga hanya karena memakai barang bermerek atau memiliki banyak pengikut di media sosial.
Kalau begitu, apakah Islam meminta kita menjauhi kesenangan dunia? Tidak. Islam justru memberikan aturan agar manusia bisa menikmati kehidupan tanpa diperbudak oleh kehidupan itu sendiri. Allah SWT berfirman,
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Prinsip ini sederhana, tetapi relevan dengan kehidupan kita. Masalahnya bukan pada memiliki atau menikmati sesuatu, melainkan ketika keinginan tersebut mulai mengendalikan kita. Kita membeli bukan karena perlu, tetapi karena takut ketinggalan. Kita mengikuti sesuatu bukan karena yakin itu baik, tetapi karena takut tidak diterima lingkungan.
Dari sini kita bisa melihat bahwa menghadapi FOMO tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Jangan terlalu sering main media sosial.” Kita membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar yaitu standar yang jelas untuk menentukan apa yang layak kita kejar dalam hidup. Kalau standar kita berasal dari tren, maka kita akan terus berubah mengikuti tren. Kalau standar kita berasal dari penilaian manusia, kita akan terus mencari pengakuan manusia. Tetapi kalau standar kita berasal dari Islam, kita memiliki pegangan untuk menentukan mana yang boleh diikuti dan mana yang sebaiknya ditinggalkan.
Karena itu, seorang remaja Muslim tetap bisa menikmati teknologi, menggunakan media sosial, mengikuti perkembangan zaman, dan memiliki barang yang disukai. Bedanya, ia tidak membiarkan semua itu menentukan nilai dirinya. Sebelum membeli sesuatu, ia bisa bertanya, “Aku memang butuh atau cuma takut ketinggalan?” Sebelum mengikuti tren, ia bisa bertanya, “Ini membawa manfaat atau justru membuatku semakin jauh dari Allah?” Dan ketika melihat kehidupan orang lain di media sosial, ia tidak buru-buru menyimpulkan bahwa hidup orang lain lebih bahagia daripada dirinya.
Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak akan pernah benar-benar lepas dari tren. Akan selalu ada sesuatu yang baru. Akan selalu ada orang yang memiliki sesuatu yang lebih mahal, lebih keren, atau lebih populer. Yang penting bukan bagaimana membuat dunia berhenti menawarkan semuanya kepada kita, tetapi bagaimana kita memiliki prinsip sehingga tidak setiap tawaran harus kita ikuti. Kita boleh tahu apa yang sedang viral tanpa harus ikut-ikutan. Kita boleh memiliki sesuatu yang bagus tanpa menjadikannya sumber harga diri. Kita boleh menikmati dunia tanpa menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.
Mungkin mulai sekarang kita bisa mencoba satu hal sederhana. Setiap kali muncul keinginan untuk membeli atau mengikuti sesuatu hanya karena melihat orang lain, berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri, “Kalau tidak ada yang melihat, apakah aku masih menginginkan ini?” Pertanyaan sederhana itu mungkin bisa membuka sesuatu yang selama ini tidak kita sadari. Sebab, hidup bukan perlombaan untuk memiliki lebih banyak daripada orang lain. Jangan sampai kita sibuk mengejar kehidupan yang terlihat keren di mata manusia, tetapi lupa membangun kehidupan yang bernilai di hadapan Allah.
Wallahua’lam.





