Kisah ini hanya cerita imajinasi penulis saja ya. Kisah seorang anak punk yang mendapat hidayah dan kemudian ikut dibarisan para pejuang yang menyeru penerapan Islam secara Kaffah.
Yuk kita mulai…
Dulu saya kira “pulang” itu balik ke rumah jam 3 pagi. Kunci pintu. Rebahan. Scroll HP. Tidur. Bangun – bangun ternyata sudah mau Ashar. Besok diulangi lagi seperti itu. Hal itu saya lakukan selama bertahun-tahun.
Waktu itu saya hidup sebagai “anak punk“. Jarang mandi. Rambut mohawk tegak lurus kayak nantangin langit. Telinga berlobang pakai anting 2 biji. Jaket jeans sobek – sobek. Patch band metal di punggung. Sepatu boots yang udah butek kena aspal.
Sehari-hari ya gitu, nongkrong di emperan, tawuran kalau ada musuh, ngamen, mabok oplosan biar lupa, teriak-teriak di jalanan sambil petik gitar butut. Dulu sih saya anggap itu keren. Itu identitas. Itu bentuk perlawanan. Anti sistem. Anti munafik. Anti yang rapi – rapi, dan yang lainnya.
Kadang saya merasa capek banget. Hidup kok kayak gini, ngga punya tujuan, tidak ada baik – baiknya, wes lah, pokoknya hanya ngribetin orang dan membuat rusuh. Kalau ingat seperti itu, saya sedih, mau sampai kapan hidup seperti ini. Tapi bingung mau ngapain. Karena jauh dari agama. Sholat saja lupa kapan terakhir melakukannya. Ngaji? Apa lagi. Mentok “alif ba ta” doang. Itu juga pelajaran waktu di mushola pada waktu SD.
Dulu saya kira apa yang saya lakuin itu namanya bebas, keren. Eh ternyata itu namanya tersesat. Astagfirullah…
Titik Balik
Titik baliknya norak sih. Malam itu abis tawuran kalah. Badan lebam semua.Dompet kosong. Kehujanan.
Nggak ada tempat buat pulang. Akhirnya saya nekat masuk masjid. Basah kuyup.
Saya duduk di pojok paling belakang. Niatnya cuma berteduh karena hujan. Eh, dari dalam masjid ada bapak – bapak yang mau menghidupkan speaker masjid, karena sudah mau masuk waktu subuh. Kemudian pelan – pelan terdengar jelas apa yang diputer bapak itu, yaitu murottal, suaranya merdu. Ngga tau kenapa, rasanya langsung nusuk ke ulu hati, nyes adem banget. Walaupun saya ngga paham surat apa yang dibaca, tapi setelah baca arab kemudian ada penerjemahnya. Dan sampailah di ayat yang bunyi artinya begini;
“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah” (TQS. Az-Zumar: 53)
Saya langsung merenung ketika mendengarkan kata “hamba-hamba-Ku“…
Saya kayak dibisikin, saya yang ngerasa paling kotor, paling sampah, paling jauh… ternyata masih dipanggil “hamba“.
Malam itu pertama kalinya saya nangis bukan karena sakit dipukulin. Tapi karena malu sama Allah. Ya Allah, ampunilah hambamu ini…
Beberapa hari kemudian, ada seorang ustadz, ustadz ini dikenal aliran keras (kata orang disekitar saya), tapi saya ngga perduli, saya juga keras kok… Hehehehe.
Umurnya sih diatas saya lima tahunan. Beliau yang nyamperin saya ngajak ngobrol. Nggak nge-judge. Nggak malu dekat – deket dengan orang kotor seperti saya ini.
Diujung obrolan, saya ditawarin ngaji. Saya tanya, “ngaji apa?“. Beliau balik tanya “lah kamu minta ngaji apa?“. Saya jawab “sholat dan baca al Qur’an“. Beliau menjawab “oke baik“.
Dan kami pun menentukan waktunya. Ngaji mulai dari Iqro’ sampai bacaan sholat, dan sesekali diselipkan ilmu – ilmu yang lain, yang membuat saya sedikit paham, oh ternyata Islam itu komplit.
Proses Taubat Itu Tidak Instan
Jangan salah, setelah ngaji nggak langsung jadi alim. Prosesnya ngga mudah dan panjang.
Kadang masih kumat. Masih kangen hura – hura. Masih kangen berisik. Kadang sholat bolong. Kadang ngaji males. Kadang kalah sama hawa nafsu. Tapi tiap jatuh, saya selalu inget kalimat ustadz, “Kamu lagi menuju ke jalan yang benar. Istiqomahlah, walaupun itu berat“. Atas ketelatenan ustadz tersebut, lama – lama saya berubah pelan – pelan.
Di proses itu, saya baru paham. Islam itu bukan cuma ibadah mahdhoh saja. Islam itu cara hidup. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dari urusan dapur, kerjaan, sampai urusan negara. Tidak melulu tentang sholat, puasa, zakat, tapi ada hal – hal lain yang dibahas. Pokoknya paket komplit dah.
Pengalaman Adalah Guru Terbaik
Alhamdulillah…
Anak punk itu sekarang sudah dewasa. Sudah punya kerjaan halal. Sudah nikah dan punya anak. Sudah bisa ngimamin sholat buat keluarga kecil di rumah. Sudah nggak tinggal di jalanan. Tapi masih sering turun ke “jalanan“. Melakukan muhasabah lil hukkam.
Masa lalunya yang kelam dijadikan pelajaran berharga untuk melangkah kedepan. Karena ujian kehidupan dan ujian dakwah itu tidaklah ringan. Maka, kehidupan masa lalu dia bisa dijadikan pelajaran dan modal keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Ditengah keterbatasan pengetahuannya tentang ilmu Islam, dia memberanikan diri untuk ikut berjuang (dakwah). Walaupun kadang dia hanya menjadi tukang parkir di majlis, menyebarkan buletin di masjid, mengantar majalah dan tabloid ke Kyai atau tokoh, apa yang diamanahkan, InsyaAllah dia lakukan jika itu adalah kontribusi untuk dakwah. Mungkin sementara ini hanya itu yang bisa dia lakukan untuk dakwah ini. Semoga Allah mencatat ini semua sebagai amal baik.
Pesan Buat Kamu Yang Baca Ini
Buat kamu yang ngerasa paling jauh dari Allah…
Buat kamu yang dosanya udah segunung…
Buat kamu yang mikir “ah saya udah terlanjur bejat“…
Dengerin ya….
Pintu taubat itu nggak pernah dikunci.
Selama jantung masih berdetak. Selama matahari belum terbit dari barat.
Allah nggak nunggu kita sempurna dulu baru diterima.
Allah cuma nunggu kita mau melangkah. Kadang lewat orang yang Allah kirim buat jemput kita.
Pulang yuk….
Nggak harus langsung jilid 6. Mulai dari Iqro’ juga gapapa. Nggak harus langsung 5 waktu. Mulai dari 1 waktu juga gapapa. Nggak harus langsung lepas semua maksiat. Lepas 1 dulu juga gapapa, asal kita berupaya untuk meninggalkannya dan tidak mengulangi.
Yang penting, mulailah.
Karena sehancur-hancurnya kita, Allah masih manggil dengan lembut:
”Wahai hamba-Ku…”
Wallahua’lam.





