Dakwah di Medsos: Mimbar Baru, Pahala Lama

Foto: Ilustrasi Dakwah di Medsos: Mimbar Baru, Pahala Lama

Dulu mimbar dakwah itu hanya masjid, majelis, kantor, sekolah, dan juga pasar. Kalau sekarang tambah satu lagi yaitu media sosial atau medsos.

‎Siapa hari ini yang tidak punya HP? Hampir semua tangan penduduk di Negeri ini memegangnya. Dan mayoritas mempunyai akun media sosial.

‎Dan kamu tahu tidak? HP yang tiap hari kita pegang itu bisa jadi 2 hal, ladang dosa kalau isinya ghibah, pamer, judol, maksiat, dll. Dan juga bisa menjadi ladang pahala kalau isinya ngajak kebaikan (Islam).

‎Seperti sabda Nabi Muhammad saw;

“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka dia dapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya” (HR. Muslim).

‎Nah, di medsos 1 postingan itu bisa dilihat ratusan, ribuan, ratusan ribu, bahkan bisa jutaan orang. Katakanlah, ada satu saja yang tersadarkan akan postingan kebaikan kita, tentu kita juga akan mendapatkan pahala dari kebaikan yang dilakukan orang tersebut tanpa mengurangi pahala mereka. Apa lagi kalo ratusan atau bahkan ribuan, berapa pahala jariyah yang akan kita dapatkan.

Kenapa Dakwah di Media Sosial Itu Penting Banget?

‎Kenapa coba? Karena “pasar” umat sekarang ada di sini. Rasulullah SAW dahulu pernah dakwah di pasar Ukaz karena di situlah orang – orang berkumpul. Sekarang orang berkumpulnya di IG, TikTok, X, WAG, Facebook, Instagram. Kalau kita tidak ikut berpartisipasi, terus yang berpartisipasi siapa?

Bacaan Lainnya

Buzzer penyebar hoax?

Konten joget?

Kaum LGBT?

Konten Judol?

Tentu kita tidak menginginkan semua itu bukan?!

‎Dengan sedikit kemampuan kita, kita harus memaksakan diri untuk ikut berpartisipasi disana, walaupun itu hanya share, komentar, dan like.

“Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan” (TQS. Ali Imran: 104).

‎Dakwah di media sosial juga bisa digunakan untuk senjata melawan kebatilan atau untuk counter opini. Dulu menyebarkan propaganda yang salah terhadap Islam butuh mimbar. Sekarang cukup 1 klik dan bisa tersebar dimana – mana. Kalau kita tidak ikut berpartisipasi meng-counter opini, terus siapa lagi?

‎Disamping itu, dakwah di media sosial itu juga bisa menjadi benteng. Meluruskan, menunjukkan dalil, memberikan sudut pandang Islam yang benar biar umat tidak gampang terpengaruh narasi yang salah, narasi yang menyudutkan Islam.

Dakwah di Media Sosial Jangkauannya Tidak Ada Batas

‎Ustadz ceramah paling durasi waktunya 1 – 2 jam, yang denger ya orang – orang yang hadir di majelis tersebut. Video 1 menit tentang pentingnya shalat bisa dilihat ratusan, ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan. Dan bisa menembus ke semua daerah di penjuru negeri ini. Tidak menutup kemungkinan juga bisa menembus pemirsa di luar negeri. Ini rahmat Allah SWT, yang penting kita harus meluruskan niat, dakwah di media sosial niat karena Allah SWT.

‎Jadi intinya dakwah online maupun offline harus kita lakukan. Menyampaikan Islam seluas – luasnya dengan cara terbaik.

‎Suatu hari nanti jari kita yang ngetik, jempol kita yang like, share kita yang nge-forward akan jadi saksi. Tinggal pilihan kita, mau jadi saksi yang memberatkan, atau meringankan?

‎Mulai dari hal kecil share 1 ayat dan artinya, share video yang mengajak kebaikan. Ikut berkomentar di konten kebaikan. Koreksi konten hoax dengan cara yang elegan, dan lain sebagainya.

‎Karena bisa jadi, 1 postingan kebaikan yang kamu share itu, bisa menjadikan orang mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah” (QS. Fushshilat: 33).

Wallahua’lam.